Tuan Muda Yang Posesif

Tuan Muda Yang Posesif
Part 28


__ADS_3

Apartemen Casa Grande.


Jingga yang berada di ruang tengah Apartemen, sedang berjalan mondar-mandir. Bukan karena ia sedang berolahraga, tapi pikirannya saat ini sedang gelisah. Jingga sudah dikurung dua hari ini di apartemen milik tuan Dave, dan sudah dua hari ini pula ia tidak pernah bertemu dengan tuannya.


"Ada apa sebenarnya?" gumam Jingga. "Kenapa aku tidak boleh keluar? Sedangkan dia bisa bebas berada diluar sana? Aku ini bukan tahanan." Gerutu Jingga, dengan wajah yang kesal.


Entah mengapa dua hari ini tidak melihat tuan Dave, membuat Jingga merasa sangat kesal. Padahal seharusnya Jingga merasa senang, tuan Dave tidak datang ke apartemen. Setidaknya Jingga tidak perlu berusaha payah menyiapkan segala kebutuhan tuan Dave, seperti saat di mansion Anderson.


Cklek


Mendengar suara pintu dibuka, dengan segera Jingga berlari menuju ruang tamu. Jingga berharap orang yang datang itu tuan Dave, karena Jingga ingin sekali meminta ijin untuk keluar dari apartemen.


"Jo ... !" seru Jingga, dengan wajah yang kecewa. Saat melihat sosok yang masuk kedalam apartemen adalah asisten pribadi tuan Dave.


Jo yang menatap wajah kekecewaan di raut nona Jingga, hanya bisa tersenyum tipis. "Aku datang kemari, untuk menyampaikan pesan dari tuan Dave."


"Pesan tuan Dave? Memangnya tuan Dave kemana? Kenapa sudah dua hari ini dia tidak datang kemari?" Serentetan pertanyaan keluar begitu saja dari bibir Jingga.


"Tuan Dave sangat sibuk, itu sebabnya beliau tidak bisa datang kemari." Jo menjawab pertanyaan tersebut dengan suara yang datar. "Tuan Dave berpesan, anda boleh keluar dari apartemen ini untuk jalan-jalan atau hanya sekedar berbelanja." Jo memberikan black card kepada nona Jingga.

__ADS_1


"Apa ini?" Jingga menatap kartu yang ada di tangannya.


"Gunakan kartu itu, untuk membayar belanjaan anda." Ucap Jo, "Dan para pengawal yang di depan akan mengantar anda."


Jingga lalu terdiam, sambil menatap kartu yang ada di tangannya. Entah mengapa Jingga tidak merasa senang menerima kartu tersebut, terlebih lagi diijinkan untuk pergi jalan-jalan oleh Tuan Dave. Jingga merasa bingung dengan keinginan hatinya saat ini.


"Apa ada pertanyaan lain yang ingin ditanyakan?"Jo menatap pada nona Jingga, yang terlihat bingung.


"Tapi tuan Dave baik-baik saja bukan?" lirih Jingga.


Jo terdiam sesaat, lalu tersenyum tipis. "Tuan Dave baik-baik saja, anda jangan khawatir."


"Dasar wanita!" gumam Jo, dengan tersenyum. Lalu bergegas keluar dari apartemen Tuna Dave.


...🍀🍀🍀...


Intel Group.


"Bagaimana kabar Jingga?" tanya Dave, tanpa melihat ke arah Jo. Tatapan matanya sibuk mengamati berkas yang ada di tangannya.

__ADS_1


"Aku rasa tuan sudah tahu jawabannya! Bukankah tuan selalu melihat nona Jingga melalui CCTV yang ada di apartemen." Jawab Jo.


"Jo, aku ingin mendengarkan jawaban. Bukan sebuah sindiran." Dave dengan cekatan membuka berkas yang lainnya.


Jo menghela napasnya dengan berat. "Keadaan nona Jingga baik."


"Syukurlah." Gumam Dave.


"Nona Jingga, tadi menanyakan keadaan anda. Tuan."


"Benarkah?" Dave langsung menatap pada Jo, berkas yang ada ditangannya dibiarkan begitu saja olehnya.


"Benar tuan, nona Jingga bertanya apakah tuan baik-baik saja."


"Ternyata dia peduli padaku." Gumam Dave, dalam hati. Dan tanpa sadar, bibirnya sudah membentuk sebuah senyuman lebar.


"Nona Jingga juga bertanya. Apakah anda sudah mati atau belum?" Jo berkata dengan menahan tawanya.


"What? Apa maksudmu?" pekik Dave, senyum dibibirnya hilang begitu saja. Tergantikan dengan wajah yang kesal.

__ADS_1


__ADS_2