
"Ya, sayang. Aku memang berjanji untuk memberitahu tanggal pernikahan kita besok. Tapi aku belum menemukan tanggal yang cocok, jadi sabarlah sayang." Pinta Dave, mengecup bibir Jingga dengan lembut.
Jingga hanya terdiam, tidak membalas kecupan dari Dave. Hatinya sangat hancur, mendapati kenyataan Dave mengulur kembali kepastian pernikahan mereka. Dan itu semakin memperjelas jika yang dikatakan nona Jeny adalah benar, karena hingga saat ini Dave belum memutuskan kapan akan menikahinya.
"Hey, sayang kenapa kau menangis?" Dave yang menyadari ada sesuatu yang basah di pipinya, langsung melepaskan ciumannya lalu menatap wajah Jingga yang sudah berlinang air mata.
"Aku .. aku takut." Jingga tidak bisa berkata-kata lagi. Ia hanya mampu menangis, menangisi nasib dan masa depannya yang sudah hancur.
"Takut kenapa?" Dave memeluk tubuh Jingga, ia merasa bingung dengan perubahan sikap Jingga. Sejak dirinya datang sikap Jingga sudah sangat aneh.
__ADS_1
Jingga tidak menjawab pertanyaan Dave, ia lebih memilih untuk menangis di dalam pelukan kekasihnya. Ingin rasanya Jingga memaki pria yang ada dihadapannya, pria yang sudah merusak masa depannya tapi tidak mau menikahinya. Bahkan yang lebih parahnya, pria itu akan menikahi wanita lain. Apa yang harus Jingga lakukan kedepannya? Apakah Jingga akan terus hidup sebagai wanita yang disimpan oleh Dave? Ataukah Dave akan membuangnya saat pria itu menikah dengan Nona Jeny? Begitu banyak pertanyaan di dalam hati Jingga, hingga tidak bisa ia keluarkan dan tanyakan pada Dave. Karena Jingga takut pada kenyataan yang akan didengarnya dari pria yang sangat dicintainya itu.
Entah sudah berapa lama Jingga menangis, bahkan dirinya sudah tidak sadar berada di atas tempat tidur dengan mata yang tertutup. Sama-samar Jingga mendengar suara Dave, yang tengah berbicara dengan seseorang. Dengan perlahan Jingga membuka matanya, menatap kearah Dave yang berdiri di depan jendela balkon. Jingga mencoba mendengarkan apa yang dibicarakan oleh Dave, dengan seseorang diseberang sana.
"Aku tidak mau tahu, besok aku tunggu hasilnya!" Dave berbicara pada Jo, Melalui sambungan telepon.
" ...."
" ... "
__ADS_1
"Ya .. ya, lakukan apa pun itu. Dan aku tunggu hasilnya secepat mungkin." Dave menutup ponselnya, mendekati Jingga yang tengah tertidur lelap setelah menangis sangat lama.
"Ada apa denganmu, Ji?" gumam Dave dalam hati. "Kenapa kau begitu bersedih? Apa karena aku tidak memberitahu tanggal pernikahan kita?" Dave mengusap wajah cantik Jingga. "Aku belum berani memberitahu tanggal pernikahan kita, sebelum suara wasiat itu diketahui keaslian." Dave terus bergumam dalam hati, mengecup kening Jingga lalu berjalan keluar dari kamar wanitanya.
Jingga yang sedari tadi berpura-pura tertidur, langsung menangis kencang saat mendengar pintu kamar ditutup. Jingga merasa sangat hancur, setelah mendengar perkataan Dave yang akan menikahi nona Jeny.
"Kau jahat, Dave! Jahat!" teriak Jingga, dengan suara tertahan. "Kalau kau akan menikah dengan nona Jeny, kenapa kau merusak aku." Jingga terus histeris mengingat kembali kejadian beberapa hari yang lalu. Dan mulai mengurutkan semua kejadiannya hingga saat ini.
Dan yang dapat disimpulkan dari semuanya, hanya satu yang Jingga tahu. Dave sengaja merusaknya agar Jingga tidak bisa pergi dari Dave. Karena Jingga teringat perkataan Dave kepadanya tempo hari, saat mereka berjalan-jalan di mall. Bahwa Jingga tidak akan pernah bisa lari, karena dirinya sudah menjadi milik Dave seutuhnya.
__ADS_1
"Kau salah tuan Dave Anderson, aku pastikan kalau aku akan pergi darimu!" gumam Jingga, dengan penuh amarah dan kebencian.