Tuan Muda Yang Posesif

Tuan Muda Yang Posesif
Part 64


__ADS_3

Jingga terdiam karena tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Dave, tapi ada satu kalimat yang mengusiknya tentang Dave yang bersenang-senang dengan istri cantiknya. "Dari mana Dave tahu Mike pernah mengatakan hal itu?" Batin Jingga.


"Dave aku bingung, bagaimana—"


"Sudahlah tidak perlu dibahas lagi! Sekarang makanlah! Aku tidak ingin anak kita kelaparan." Dave mengangkat sendok yang tadi ditaruhnya, hendak menyuapi Jingga.


"Aku bisa sendiri." Jingga mengambil alih sendok di tangan Dave.


Dave menghela napasnya dan membiarkan Jingga untuk makan sendiri, ia tidak mau berdebat lagi yang akhirnya berujung pada Jingga yang tidak mau makan.


Saat Dave dan Jingga tengah sarapan pagi dengan suasana yang hening tanpa suara sedikitpun, dua orang pengawal Dave masuk ke dalam ruang makan dengan terburu-buru.


"Tuan diluar ada Tuan Arthur." Ucap salah satu pengawal Dave.


"Usir dia!" perintah Dave dengan tegas.


"Tapi Tuan, beliau mengatakan ada hal penting yang ingin dibicarakan mengenai Nona Jingga." Ucap pengawal yang lainnya.

__ADS_1


Deg


Seketika itu juga Dave dan Jingga saling menatap dalam diam, terlebih lagi Jingga. Ia begitu terkejut saat mendengar tuan Arthur ingin membicarakan dirinya.


"Suruh dia masuk!" perintah Dave setelah menimbang-nimbang keputusannya cukup matang, karena ia tahu Tuan Arthur tidak akan mungkin menemui dirinya jika itu bukan sesuatu yang sangat penting. Apalagi tadi pengawalnya mengatakan kedatangan tuan Arthur yang saat ini berstatus mertuanya, ingin membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan Jingga.


"Baik Tuan." Kedua pengawal itu segera pergi dari ruangan tersebut.


"Dave tunggu!" Jingga menahan langkah Dave. "Boleh aku ikut menemui Tuan Arthur?"


"Kau di sini saja, habiskan makananmu!"


"Padahal aku ingin mendengar apa yang ingin dibicarakan oleh Tuan Arthur, dan aku juga masih penasaran kenapa Tuan Arthur membawaku ke mansion miliknya satu bulan yang lalu." Batin Jingga.


Sementara itu di ruang tamu yang sangat luas dengan interior bergaya mediterania, Dave saat ini sedang duduk berhadapan dengan Tuan Arthur yang ternyata datang bersama dengan seseorang yang tidak ia kenal.


"Apa yang ingin Anda bicarakan denganku?" tanya Dave tanpa basa-basi, ia tidak mau tuan Arthur berlama-lama berada di mansion miliknya.

__ADS_1


"Dave aku ingin bertemu dengan Jingga, apa boleh?" tanya Arthur.


Dave mengerutkan keningnya dengan wajah yang bingung.


"Tadi Anda mengatakan ingin bertemu denganku karena ada yang ingin Anda katakan tentang Jingga, tapi sekarang Anda mengatakan ingin bertemu dengan Jingga. Jadi sebenarnya apa yang Anda inginkan?" tanya Dave dengan sinis.


Arthur terdiam dengan hati yang begitu sedih karena mendapati Dave yang begitu membenci dirinya, sampai-sampai Dave tidak mau memanggil dirinya dengan sebutan Uncle apa lagi ayah mertua.


"Aku ingin berbicara dengan kalian berdua terutama Jingga, aku mohon ijinkan aku bertemu dengannya." Pinta Arthur.


"Tidak bisa! Aku tidak akan membiarkan Anda bertemu dengan Jingga, apalagi mengingat Anda pernah menculiknya." Tutur Dave.


"Dave.. uncle janji tidak akan berbuat macam-macam terhadap Jingga, tolong pertemukan Uncle dengannya." Arthur mencoba meyakinkan menantunya untuk mau mempertemukan dirinya dengan Jingga.


Dave menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Jika tidak ada yang ingin Anda katakan lagi, silahkan Anda keluar dari mansion ku! Oh ya satu lagi, aku sudah menghubungi pengacara untuk mengurus perceraian aku dengan Jeny."


"Apa?" Arthur yang terkejut sampai memegang dadanya yang terasa sakit.

__ADS_1


"Tuan Anda baik-baik saja?" tanya dokter Aslan.


"Aku baik-baik saja." Arthur menarik napas dan membuangnya secara perlahan, ia tidak menyangka Dave begitu cepat menceraikan Jeny. Tapi Arthur tidak bisa menyalahkan Dave, karena dirinya tahu sejak awal Dave tidak pernah mencintai Jeny dan pernikahan mereka sejak awal adalah sebuah kesalahan. "Masalah perceraian kau dengan Jeny, Uncle tidak akan ikut campur. Tapi Uncle mohon untuk saat ini pertemukan Uncle dengan Jingga." Mohon Arthur dengan raut wajah yang sendu.


__ADS_2