
Mansion Anderson.
Keesokan harinya, Dave yang berada di ruang makan tengah menatap Jingga yang sedang menganduk-aduk makanan yang ada di atas piring dengan wajah yang tertekuk.
"Makanan itu untuk di makan Jingga, bukan dimainkan seperti itu! Cepat makan sarapan mu!" ucap Dave dengan tegas.
Jingga melirik sekilas pada Dave sembari memutar bola matanya dengan malas, ia merasa kesal pada Dave yang selalu memaksakan kehendak padanya. Seperti saat kemarin malam yang memaksa untuk tidur satu ranjang dengannya.
"Jingga apa kau tidak mendengarku?" Dave menaikkan satu oktaf suaranya.
"Aku tidak lapar." Jingga menaruh sendok di piringnya.
Dave menghela napasnya dan segera menggeser kursi makannya tepat di sebelah kursi Jingga, mengambil sendok yang ada di atas piring dan segera mengisinya dengan makanan.
"Makanlah!" sendok yang ada di tangan Dave menyentuh bibir Jingga.
"Aku sudah bilang aku tidak lapar." Jingga memalingkan wajahnya.
__ADS_1
Dave menaruh kembali sendok di atas piring sembari menahan emosi yang ada dihatinya. "Apa yang kau inginkan? Aku akan mengabulkannya asal kau mau makan." Ucap Dave.
"Benarkah?" raut wajah Jingga yang semula begitu kusut berubah menjadi berseri-seri.
"Ya, tapi tidak dengan kebebasanmu!"
"Ck, sama juga bohong."Jingga mengerucutkan bibirnya.
Membuat Dave tertawa saat melihat bibir mungil milik Jingga berubah menjadi bibir yang begitu lentik kedepan.
Dave menghentikan tawanya lalu menatap intens wajah Jingga yang ada di sampingnya. "Jadi apa yang kau inginkan?" tanya Dave.
Jingga balas menatap Dave dan saat itu juga tatapan mereka bertemu, persekian detik Jingga terpaku pada wajah tampan Dave hingga membuat jantungnya berdegup dengan kencang. Karena tidak ingin berlama-lama berada di situasi yang bisa membuat jantungnya berhenti berdetak, Jingga pun dengan segera memutus tatapan mereka.
"Aku ingin Mike." Ucap Jingga.
"What? Kau jangan macam-macam sayang!" Dave menatap tajam pada Jingga.
__ADS_1
"Dave kau jangan salah paham dulu, aku ingin bertemu dengan Mike karena kemarin kau membawaku begitu saja tanpa sempat aku berbicara dengannya." Terang Jingga dengan menghela napasnya.
"No, mintalah permintaan yang lain nya!"
"Tapi Dave aku hanya ingin bertemu dengan Mike." Jingga merasa tidak tenang jika belum memastikan keadaan Mike, karena ia takut Dave menyuruh anak buahnya untuk memukul Mike karena sudah ketahuan menyembunyikan keberadaan dirinya. "Aku janji aku makan dengan banyak kalau kau mau mengabulkan keinginan ku." Pinta Jingga.
Dave terdiam dengan kening yang berkerut. "Baiklah kau boleh bertemu dengan Mike, tapi di mansion ini dan juga di temani olehku." Putus Dave.
"Tapi Dave jika ada kau, aku tidak bisa bebas berbicara dengan Mike." Gerutu Jingga.
"Lebih bagus bukan? Dari pada aku membiarkan kalian berduaan, dan Mike kembali menghasutmu dengan mengatakan sesuatu yang tidak-tidak." Dave masih mengingat dengan sangat jelas saat Mike mencoba mendekati Jingga dengan mengatakan yang tidak-tidak tentang dirinya, kalau ia sedang asik bersama istri barunya alias Jeny.
"Mike tidak pernah menghasut aku Dave," sahut Jingga dengan wajah yang kesal karena Dave telah menuduh Mike yang bukan-bukan, padahal Mike adalah sosok pria yang sangat baik dan menjadi pelindung bagi Jingga selama satu bulan ini.
"Oh really? Dengan mengatakan kalau aku hidup bersenang-senang dengan istri cantikku? Padahal kenyataannya aku sama sekali tidak pernah satu atap dengan Jeny setelah aku menikahinya. Itu dinamakan bukan menghasut?" Geram Dave.
.
__ADS_1