Tuan Muda Yang Posesif

Tuan Muda Yang Posesif
Part 60


__ADS_3

Mansion Anderson.


Jingga berjalan memasuki mansion luas milik Dave Anderson, dengan jantung yang berdegup dengan kencang. Jingga tidak pernah menyangka akan kembali menginjakkan kakinya di mansion luas tersebut, setelah sebelumnya mereka tinggal di apartemen.


"Pak Tri bawa Jingga ke kamar!" perintah Dave pada kepala pelayannya.


"Baik Tuan." Pak Tri segera mempersilahkan Nona Jingga untuk berjalan.


Jingga yang masih berdiri di tempatnya menatap sesaat pada Dave dengan tatapan yang tajam, lalu melangkahkan kakinya menuju kamar.


Setelah melihat Jingga pergi bersama dengan Pak Tri, Dave segera masuk ke dalam ruang kerjanya. Ia harus menghubungi seseorang, untuk melakukan sesuatu yang seharusnya ia lakukan sejak dulu.


"Jo, kau siapkan berkas perceraian aku dengan Jeny secepatnya!" ucap Dave setelah asisten pribadinya mengangkat panggilan telepon darinya.


"A-apa? Tuan Anda serius?" tanya Jo dengan terkejut.


"Tentu saja, kau urus semuanya secepat mungkin! Dan persiapkan pernikahan aku dengan Jingga setelah urusan perceraiannya selesai!"


"Baik Tuan." Ucap Jo.

__ADS_1


Setelah selesai mengatakan apa yang menjadi keputusannya, Dave menatap pada bingkai foto yang ada di atas meja dengan hati yang bersedih.


"Maafkan aku Dad, Mom, aku hanya bisa mengabulkan keinginan kalian hanya dalam waktu satu bulan." Lirih Dave dengan mata yang berkaca-kaca.


Dulu mungkin Dave bisa bersikap egois dengan mewujudkan keinginannya, dan juga keinginan ke-dua orang tuanya secara bersamaan. Namun saat ini situasinya sudah berbeda, ada nyawa kecil di rahim Jingga yang harus ia jaga dan di beri status yang jelas di mata hukum dan negara. Itu sebabnya ia harus secepatnya menikah dengan Jingga, namun sayangnya Jingga tidak akan mau menikah dengannya kalau status dirinya masih menjadi suami dari Jeny Arthur. Dan satu-satunya jalan agar Jingga mau menikah dengannya adalah dengan cara menceraikan Jeny.


Sementara itu Jingga yang sudah berada di kamar miliknya, menatap jengah pada Pak Tri yang sedari tadi memohon padanya untuk pindah ke kamar Dave.


"Pak, sudah aku katakan aku tidak mau satu kamar dengan Tuan Dave!" untuk kesekian kalinya Jingga mengatakan hal tersebut, mungkin saat ini bibirnya sudah mengeluarkan busa karena mengatakan sesuatu berulang kali.


"Tapi Nona, aku bisa dimarahi oleh Tuan Dave karena tidak menjalankan perintahnya." Pak Tri berusaha membujuk nona Jingga.


"Tapi Nona—"


"Ada apa ini?" Dave menatap tajam pada pak Tri karena sudah berani berdebat dengan Jingga, dan juga tidak melakukan perintahnya dengan membawa wanitanya ke dalam kamar pribadinya.


"Tu-tuan Nona Jingga—" Pak Tri yang ketakutan tidak berani melanjutkan perkataannya.


"Aku tidak mau satu kamar denganmu." Jingga berkata dengan ketus.

__ADS_1


Dave menatap Jingga dengan intens lalu menghela napasnya, ia harus bisa bersabar menghadapi Jingga mengingat wanitanya itu sedang mengandung anaknya.


"Pak Tri tinggal kami!" perintah Dave


"Baik tuan." Pak Tri segera berlalu dari tempat tersebut.


Setelah melihat Pak Tri pergi Dave segera menarik tangan Jingga menuju tempat tidur.


"Dave lepaskan!" Jingga menghentakkan tangannya agar terlepas dari genggaman tangan Dave.


"Diamlah Jingga!" Dave mendudukkan Jingga di atas tempat tidur, lalu berlutut dihadapannya sambil menggenggam tangan sang pemilik hatinya.


Jingga sendiri begitu terkejut saat melihat Dave yang nota bene seorang pria yang arrogant, dingin, dan keras kepala, saat ini justru berlutut di hadapannya.


"Jingga aku tahu aku salah karena sudah mengingkari janjiku, bahkan aku sudah menyakitimu dengan sangat dalam." Dave menatap intens wajah Jingga yang sangat dirindukannya. "Beri aku satu kesempatan lagi untuk merubah semuanya, aku ingin memulai kehidupan baru bersama kau dan anak kita." Dave menatap perut Jingga dengan intens, ingin rasanya ia mengusap perut itu dengan penuh kasih. Namun Dave mengurungkan niat tersebut, karena tidak ingin membuat Jingga marah.


"Aku tidak bisa Dave, aku tidak mau berada di suatu hubungan yang rumit dan aku—"


"Aku akan menceraikan Jeny."

__ADS_1


__ADS_2