
Setelah Jingga masuk ke dalam rumahnya dan Mike pulang ke apartemennya, seseorang dari rumah sebelah yang sejak tadi berdiri di dekat jendela yang melihat dan mendengar percakapan keduanya. Saat ini tengah mengepalkan kedua tangannya dengan erat, karena menahan kemarahan yang ada dihatinya.
Dengan langkah yang gontai pria itu berjalan menuju kursi kecil di ruang tamu, lalu menatap langit-langit ruangan sambil menghela napasnya. Ia harus bisa menahan emosi yang ada di dalam dadanya, agar persembunyiannya tidak diketahui oleh wanita itu.
"Sebentar lagi kita akan segera bertemu." Pria itu tersenyum penuh arti.
...🍀🍀🍀...
Keesokannya harinya.
Jingga yang tengah melayani pembeli di restauran milik Mike, tidak menyadari ada seseorang yang sejak tadi melihatnya dengan sangat intens. Sosok itu tersenyum saat melihat wanita yang ia tatap, tengah berjalan kearah mejanya.
"Nona ini pesan Anda." Jingga menaruh minuman keatas meja.
"Terima kasih." Ucap wanita itu.
"Sama-sama Nona." Sahut Jingga dan hendak pergi dari tempat tersebut.
"Tunggu Nona!" seru wanita itu. "Bisa kita bicara sebentar."
__ADS_1
Jingga terdiam dengan wajah yang bingung. "Anda berbicara denganku?" tanya Jingga menunjuk dirinya sendiri.
"Ya, tentu saja." Wanita itu tersenyum. "Namaku Amel." ia mengulurkan tangannya.
"Namaku Jingga." Jingga menerima uluran tangan wanita cantik dengan rambut hitam sebahu.
"Jingga, nama yang bagus." Puji Amel. "Bisa kita berbicara sebentar?" pinta Amel.
"Emm ...." Jingga menatap kebelakang dan melihat masih banyak pelanggan yang belum di layaninya. "Maaf Nona aku masih kerja, jadi—"
"Oh ya ampun aku lupa kalau Anda masih bekerja." Amel tersenyum tidak enak hati. "Bagaimana kalau kita mengobrol di jam istirahatmu?" tanya Amel.
"Kau tenang saja aku ini bukan orang jahat, dan kita mengobrol di sini saja! Bagaimana?" bujuk Amel.
"Em, baiklah." Jawab Jingga.
Setelah menyetujui ajakan Amel untuk berbicara, Jingga pun kembali disibukkan dengan kerjaannya. Hingga akhirnya jam istirahat pun tiba, dan dengan segera Jingga menghampiri tempat duduk wanita yang bernama Amel.
"Maaf nona ingin berbicara apa?" tanya Jingga tanpa basa-basi, karena ia tidak mau terlalu berlama-lama berbicara dengan orang asing.
__ADS_1
"Oh ya aku lupa memberitahu mu, kalau aku ini berprofesi sebagai dokter kandungan."
"Dokter kandungan?" Jingga mengerutkan keningnya dengan wajah yang bingung.
Dokter Amel tersenyum lalu menceritakan tujuan ingin berbicara dengan Jingga, karena ia sedang melakukan riset pada beberapa Ibu hamil.
"Jadi Anda tahu kalau aku ini sedang mengandung?" tanya Jingga dengan wajah yang terkejut.
"Tentu saja, apa kau lupa kalau aku ini dokter kandungan." Seloroh Amel. "Jadi aku bisa membedakan mana wanita yang sedang hamil atau tidak." Ujar Amel dengan senyum dibibirnya.
Jingga hanya tersenyum malu-malu, ia tidak menyangka ada orang yang bisa tahu kalau saat ini dirinya tengah mengandung.
"Jadi bagaimana? Apa kau bersedia membantu aku dengan menjawab beberapa pertanyaan dariku?" tanya Amel.
"Aku bersedia." Jawab Jingga dengan tersenyum, ia merasa senang sekali bertemu dengan dokter kandungan. Sehingga ia pun bisa bertanya-tanya tentang beberapa keluhan yang akhir-akhir ini ia rasakan.
Dan setelah tanya jawab seputar kehamilan selama sepuluh menit, Amel pun segera pergi dari cafe tersebut setelah sebelumnya memberikan tanda terima kasih pada Jingga.
Jingga sendiri tersenyum senang saat mendapatkan goodie bag dari dokter Amel yang berisi susu ibu hamil, Walaupun tadi sempat menolaknya tapi akhirnya Jingga menerim goodie bag itu karena dokter Amel yang memaksa.
__ADS_1
Sementara itu Amel yang sudah berada di dalam mobil, langsung mengambil ponselnya dan segera menghubungi seseorang untuk memberikan kabar kalau titipannya sudah sampai di tangan Jingga.