
"Dad kau jangan bicara seperti itu." Jeny kembali menangis dengan kencang. "Daddy harus bertahan, Jeny mohon."
"Yang dikatakan Jeny benar, Daddy harus bertahan sebentar lagi kita sampai di rumah sakit." Sahut Jingga dengan air mata yang mengalir deras, entah mengapa ia merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi.
Arthur hanya tersenyum menatap ke-dua putri cantiknya. "Jeny, dad begitu sayang padamu. Hanya kau yang menjadi penyemangat di saat Daddy kehilangan Mommy mu dan Jesy." Arthur menatap Jeny dengan intens, lalu menatap pada Jesy yang sedang menangis tersedu-sedu. "Kalau Daddy bisa menukar nyawa Dad agar Dave bisa mencintaimu, maka akan Dad lakukan untukmu ...." Arthur berusaha untuk tetap bernapas. "Tapi sayangnya rasa cinta tidak bisa ditukar dengan apa pun, jadi Dad mohon jangan marah lagi, jangan sakit hati, dan jangan membenci kakakmu." Pinta Arthur.
"Daddy ....." Jeny menangis tersedu-sedu, kini ia baru menyadari kalau Daddy nya begitu sayang padanya.
"Dave aku mohon lebih cepat!" Jingga yang tidak kuat melihat keadaan Dad Arthur, sampai tidak bisa memandang wajah Daddy nya yang terlihat sedang menahan sakit.
Dave menatap kearah spion dan melihat keadaan tuan Arthur, ia pun dengan segera menambah kecepatan mobilnya.
"Daddy Jingga mohon bertahanlah." Jingga menggenggam erat tangan pria yang merupakan ayah kandungnya.
"Jesy ...." Tuan Arthur menatap wajah putrinya yang baru satu bulan lebih ini ditemukan. "Walupun hanya sebentar bertemu denganmu, Dad tetap merasa bahagia sayang." Arthur mengusap wajah cantik Jingga, dan teringat saat-saat kebersamaan mereka saat Jesy masih kecil. "Jeny berjanjilah satu hal pada Dad-dy." Napas Arthur semakin tersengal-sengal. "Berjanjilah untuk bersikap baik pada kakakmu dan hidup rukun dengannya."
__ADS_1
"Dad ...." Jeny menatap Daddy nya lalu menatap pada wanita yang duduk di sampingnya.
"Berjanjilah agar Daddy bisa pergi dengan tenang."
"Daddy jangan bicara seperti itu."
Jingga dan Jeny semakin menangis dengan kencang.
"Dokter tolong Daddy ku." Pinta Jeny dan Jingga.
Dokter Aslan yang sejak tadi berusaha membantu tuan Arthur sebisa yang dilakukannya, karena tidak membawa obat ataupun peralatan, hanya menatap sendu pada kedua perempuan itu. Membuat Jeny dan Jingga kembali menangis dengan sangat kencang, karena mengetahui arti tatapan dokter Aslan.
"Jeny .. Jeny berjanji." Jeny mencium telapak tangan Daddy nya.
"Jesy sayang berjanjilah untuk menjaga Jeny, dan hiduplah dengan bahagia bersama Dave dan anak-anak kalian nanti." Napas Arthur semakin melemah.
__ADS_1
"Jesy berjanji, Dad."
Arthur tersenyum lalu mencium kening Jesy dan Jeny bergantian, dan saat itu juga hatinya merasa tenang dan bisa pergi dengan damai.
"Dad ... Daddy ...." Teriak Jeny dan Jingga bersamaan saat melihat dad Arthur menutup kedua matanya.
"Tuan Arthur sudah meninggal dunia." Ucap dokter Aslan setelah mengecek denyut nadinya.
Seketika itu juga Dave menghentikan mobilnya, lalu menatap kebelakang.
"Tidak ...." teriak Jeny. "Daddy bangunlah Jeny mohon." Jeny berusaha menggerakkan tubuh Daddy nya. "Jeny sudah banyak menyusahkan Daddy ...."
"Jeny ...." Jingga memeluk Jeny dan berusaha menenangkan adiknya.
Dan suasana di dalam mobil itu pun terasa sangat memilukan, saat dua wanita menangisi kepergian Daddy mereka.
__ADS_1
...🍀🍀🍀...
Langit di angkasa terlihat mendung dengan awan hitam disekelilingnya, menandakan sebentar lagi akan turun hujan. Namun keadaan tersebut tidak membuat kedua wanita yang sedang berdiri menatap gundukan tanah merah, untuk pergi dari tempat pemakaman tersebut.