
"Tuan, tadi aku melihat Nona Jeny keluar dari mansion." Jawab dokter Aslan.
"Apa?"
Arthur yang khawatir dengan keadaan putri bungsunya, segera menyusul Jeny dengan langkah setengah berlari. Jingga, Dave, dan dokter Aslan pun ikut menyusul tuan Arthur untuk mencari Jeny.
"Jeny ...." Arthur berteriak sambil berlari mencari putrinya, tanpa mempedulikan jantungnya yang mulai terasa sakit. Ia sangat takut jika Jeny akan berbuat nekat dengan menyakiti dirinya sendiri, apalagi saat ini putrinya itu keluar dari mansion tanpa membawa mobil.
"Uncle masuklah ke mobil!" Dave, Jingga, dan dokter Aslan yang sudah berada di dalam mobil, mempersilahkan tuan Arthur untuk masuk.
Mobil pun mulai berjalan menyusuri keberadaan putri bungsu Tuan Arthur.
"Itu Jeny."
Dave menunjuk kearah depan, dan dengan segera mereka keluar dari dalam mobil untuk menghampiri Jeny.
"Jeny ...." panggil Arthur.
Jeny menatap kebelakang dan melihat orang-orang yang sudah menyakiti hatinya.
__ADS_1
"Berhenti!" teriak Jeny. "Satu langkah lagi kalian mendekat, aku tidak akan segan-segan untuk berlari ke jalan dan menabrakkan diriku ke mobil." Ancam Jeny sambil menunjuk ke arah jalan raya yang tengah padat dengan kendaraan mobil dan motor.
"Tidak sayang jangan lakukan itu." Pinta Arthur.
"Jeny kau jangan berbuat nekat!" Dave menatap tajam pada Jeny.
"Kenapa aku tidak boleh berbuat nekat? Lagi pula untuk apa aku hidup jika pria yang aku cintai justru hidup bersama wanita lain." Ketus Jeny masih dengan tangisnya.
"Aku bukan orang lain Jeny, aku kakakmu." Jingga ikut berbicara. "Kasihan Dad Arthur jika sikapmu seperti ini."
"Diam kau! Kau itu bukan kakakku, karena jika kau kakakku kau tidak akan menyakitiku." Jeny yang sangat rapuh sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa.
"Dad kau kenapa?" Jingga yang melihat Dad Arthur hampir terjatuh, segera berlari untuk menolongnya.
"Jeny ...." Arthur menatap pada putri bungsunya.
Sedangkan Jeny hanya diam berdiri ditempatnya.
"Dokter tolong Dad Arthur." Pinta Jingga.
__ADS_1
Dokter Aslan dan Dave langsung membantu tuan Arthur.
"Kita harus ke rumah sakit sekarang!" ucap dokter Aslan.
Dave segera membantu dokter Aslan mengangkat tuan Arthur, dan membawanya ke dalam mobil.
"Jeny ayo ikut!" Jingga menarik tangan adiknya.
Jeny yang masih terkejut dengan semua yang terjadi padanya, hanya bisa diam tanpa bergerak sedikitpun seperti patung.
"Jingga cepat masuk!" Dave menatap pada wanitanya.
"Jeny ikutlah denganku! Aku tidak ingin kau menyesal jika terjadi sesuatu pada Dad Arthur." Jingga pun segera berjalan menuju mobil.
"Tidak aku tidak mau terjadi apa-apa pada Daddy, hanya Daddy yang aku punya dan yang selalu menyayangi aku." Gumam Jeny dalam hati. "Tunggu aku ikut!" Jeny mengusap air matanya dan berjalan menuju mobil.
Jingga tersenyum saat melihat adiknya masuk ke dalam mobil, dan selama diperjalanan baik Jingga dan Jeny terus menyemangati Dad Arthur untuk bertahan.
"Jesy .. Jeny ... Dad bahagia melihat kalian bisa bersama seperti ini." Arthur yang sudah tidak kuat terus memegang kedua tangan kedua putrinya. "Daddy sekarang bisa pergi dengan tenang jika harus bertemu dengan mommy kalian di surga, karena Dad sudah menemukan Jesy, dan sekarang ada Jesy yang akan menjagamu Jeny."
__ADS_1