
Perusahaan Intel grup.
"Tuan titipan Anda sudah diterima oleh Nona Jingga." Ucap Jo setelah menutup sambungan teleponnya dari Amel teman baiknya.
Dave yang tengah duduk di atas kursi kerjanya, menatap pada asistennya. "Bagus, Jo." Sahut Dave dengan senyum dibibirnya, ia merasa senang susu yang dibelinya sudah diterima oleh Jingga.
Dave pun kembali menatap berkas yang ada ditangannya sambil menyesap cangkir yang berisi air kopi di dalamnya.
"Tuan apa semalam Anda tidak bisa tidur lagi?" tanya Jo karena ia melihat sudah dua cangkir kopi hitam yang dihabiskan tuan Dave, ia juga melihat wajah tuannya yang terlihat kusut, dan garis hitam yang melingkar di bagian bawah mata.
__ADS_1
"Jo apa tidak ada pertanyaan lainnya dalam satu Minggu ini?" sindir Dave pada asisten pribadinya.
Jo tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, ia tahu kalau tuannya itu pasti sangat tersiksa setiap malamnya.
"Tuan apa perlu aku pasangkan pendingin ruangan di rumah itu dan mengganti tempat tidurnya? Agar Anda bisa sedikit tidur nyenyak tanpa batuk-batuk karena udara yang pengap dan kotor." Saran Jo, karena ia tahu betapa menderitanya tuan Dave tinggal di tempat kecil seperti itu, tanpa tempat tidur yang nyaman dan pendingin ruangan. Tuan Dave yang terbiasa tinggal di tempat yang mewah dan bersih, pasti akan sangat susah untuk beradaptasi ditempat seperti itu.
"Ck, kenapa tidak sekalian saja kau bawa lemari pendingin, televisi, dan peralatan lainnya." Ketus Dave.
"Oh ya ampun." Dave menghela napasnya dengan kasar. "Jo, sejak kapan kau menjadi bodoh seperti ini?" sindir Dave.
__ADS_1
Jo mengerutkan keningnya lalu terkekeh geli saat sadar atas kebodohannya. "Maaf tuan, aku lupa kalau Anda sedang sembunyi-sembunyi berada di dekat Nona Jingga." Seloroh Jo.
Dave tidak menyahut perkataan Jo, dan lebih memilih memijat tengkuknya yang terasa kaku. Tidur di tempat yang sangat sempit dan tidak empuk membuat tubuhnya selalu terasa pegal-pegal.
"Tuan sampai kapan Anda akan bersembunyi di tempat tersebut?" tanya Jo yang merasa waktu satu minggu sudah cukup bagi seorang Dave Anderson tersiksa.
Dave menaruh berkas di atas meja lalu menghela napasnya, ia kembali mengingat kejadian kemarin malam yang sukses membuatnya emosi. Karena lagi-lagi Dave harus melihat kebersamaan Jingga dengan Mike, dan melihat bagaimana sahabatnya itu berusaha mengambil hati wanitanya.
Kalau saja Dave tidak ingat Mike lah orang yang selama ini membantu Jingga, di saat dirinya belum menemukan keberadaan Jingga. Mungkin pada saat itu juga Dave langsung memberikan pelajaran pada sahabatnya, karena sudah menghasut Jingga dengan berkata-kata kalau dirinya tengah bersenang-senang dengan istri cantiknya.
__ADS_1
"Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk membawa Jingga kembali ke Mansion milikku." Sahut Dave dengan suara yang bergetar menahan gejolak yang berkecamuk di dalam dadanya, saat teringat penyebab dirinya kini harus berhati-hati dalam mengambil tindakan. "Kau masih ingat bukan rekaman CCTV itu? Aku tidak ingin Jingga mengalaminya lagi, apa lagi sekarang Jingga sedang mengandung anakku." Lirih Dave.
Jo menganggukkan kepala, ia kembali mengingat saat tuan Dave melihat rekaman CCTV yang berhasil ia retas. Di sana terlihat Nona Jingga hampir tertabrak mobil tuan Mike, dan itu sukses membuat tuannya hampir mati berdiri. Dan sejak saat itu tuan Dave mulai bersikap lebih hati-hati dan tidak gegabah untuk urusan Nona Jingga.