Tuan Muda Yang Posesif

Tuan Muda Yang Posesif
Part 40


__ADS_3

"Ji, dengarkan aku!" Dave menahan tubuh kekasihnya yang hampir terjatuh kebawah. "Aku mencintaimu Jingga, sangat mencintaimu." Dave mengecup kening kekasihnya.


"Kalau kau mencintaiku kau tidak akan berbuat seperti ini padaku Dave!" Teriak Jingga dengan isak tangis dibibirnya.


"Aku terpaksa melakukannya, dan kau pasti sudah tahu kalau kami dijodohkan. Aku hanya ingin mengabulkan keinginan terakhir kedua orang tuaku." Dave mengusap air mata di pipi Jingga, sungguh hatinya juga sakit saat melihat wanita yang dicintainya terluka dan menangis seperti itu.


"Aku tidak mau Dave, aku tidak mau!" Jingga melepaskan pelukan Dave dan berusaha berlari keluar dari kamar. Namun langkahnya terhenti saat tangannya di tarik. "Dave lepaskan aku! Biarkan aku pergi aku mohon padamu." Pinta Jingga.


"Tidak akan! Sampai kapan pun aku tidak akan pernah melepaskanmu Jingga. Kau milikku dan dan selamanya kau akan menjadi milikku." Dave mencengkram tangan Jingga dengan kasar.


"Dave sakit...." lirih Jingga berusaha melepaskan cengkraman tangan Dave.


"Dengar Ji! Mulai hari ini kau dilarang keluar dari apartemen sampai hari pernikahan kita." Ucap Dave dengan tegas.


"Tidak Dave, aku tidak mau menikah dengan mu!" Jingga terus berusaha melepaskan cengkraman tangan Dave.

__ADS_1


"Mau atau tidak mau kau akan tetap menikah dengan ku." Dave berkata dengan sangat tegas.


"Dave kau gila! Aku bilang aku tidak mau." Jingga mulai ketakutan saat Dave mendekat dan memeluk tubuhnya.


"Aku gila karena aku begitu mencintaimu, dan aku tidak ingin lagi kehilangan orang yang aku sayangi." Dave mengecup bibir Jingga lalu berjalan menuju pintu kamar.


"Kalau kau mencintaiku, batalkan pernikahan mu dengan Jeny!" pinta Jingga.


"Aku tidak bisa, karena aku ingin sekali saja melakukan sesuatu yang diinginkan oleh kedua orang tuaku yang sudah meninggal." Ucap Dave tanpa melihat kebelakang.


"Ya aku egois, dan kau harus mengikuti semua yang aku katakan!" Dave mengepalkan kedua tangannya dengan erat lalu berjalan keluar dari kamar, ia juga tidak lupa langsung mengunci pintu kamar Jingga dari luar.


"Tidak.. tidak...." Jingga yang mendengar suara pintu yang dikunci, segera berlari dan mencoba membuka pintu kamarnya. "Dave buka pintunya! Aku mohon buka pintunya." Jingga berteriak menggedor pintu dengan keras.


"Maafkan aku Jingga." Lirih Dave menatap pintu kamar dengan tatapan sendu, ia segera menghubungi Jo dan meminta penjagaan di apartemennya di perketat. Dave tidak ingin mengambil resiko dengan kehilangan Jingga, karena cukup bagi dirinya kehilangan kedua orang tuannya dan Silvia yang sudah mengkhianatinya.

__ADS_1


...🍀🍀🍀...


Mansion keluarga Arthur.


"Ini tuan...." Orang kepercayaan tuan Arthur menyerahkan berkas yang diminta oleh tuannya.


"Terima kasih kau boleh pergi sekarang!" perintah Arthur.


"Baik tuan." Pria itu segera keluar dari ruangan tuannya.


Setelah melihat orang kepercayaannya keluar dari ruangan, Arthur mulai membuka berkas yang dimintanya. Ia membaca semua info tentang kekasih Dave dengan seksama, karena ingin mengetahui dengan jelas siapa rival putrinya.


"Jingga...." Arthur menatap foto yang ada di berkas tersebut dengan raut wajah yang terkejut, ia seperti mengenal wajah yang ada di foto tersebut.


Arthur yang merasa penasaran dengan wajah Jingga, berjalan menuju lemari di mana ia menyimpan semua foto istri dan anak-anaknya, satu persatu Arthur membuka foto-foto tersebut dan tangan berhenti di foto istrinya saat muda dulu.

__ADS_1


"Tidak mungkin...." lirih Arthur dengan air mata yang menetes di wajahnya yang sudah tua itu. "Apa mungkin dia adalah Jesy ku...." Arthur bergetar memegang foto wanita yang bernama Jingga, wanita yang menjadi kekasih dari pria yang sangat dicintai putrinya itu ternyata wajahnya sangat mirip dengan wajah istrinya ketika saat masih gadis.


__ADS_2