
Satu bulan kemudian.
Seorang wanita cantik tampak tengah berdiri di teras depan rumahnya, menatap ke sebuah bangunan apartemen yang menjulang tinggi sambil mengelus perutnya yang terlihat masih rata.
"Kau tahu, nak? Dulu Ibu dan ayah mu tinggal di tempat itu." Jingga beralih menatap perutnya dengan senyum di wajahnya, ia merasa sangat bahagia saat dua Minggu yang lalu dirinya dinyatakan positif mengandung oleh seorang dokter kandungan.
"Kau pasti memikirkan dia lagi?"
Suara pria dari arah belakang membuat Jingga tersadar dari lamunannya, dan segera tersenyum saat pria itu memberikannya segelas air susu.
"Terima kasih Mike." Ucap Jingga menatap intens pada pria yang sudah dianggapnya sebagai seorang sahabat.
"Kau tidak perlu berterima kasih padaku, bukankan aku sudah sering membuatkannya untukmu?" Mike tersenyum menatap Jingga, ia memang dengan senang hati membuatkan segelas air susu untuk wanita hamil yang ada di hadapannya itu.
"Bukan hanya segelas air susu ini, tapi terima kasih banyak atas semuanya. Aku tidak tahu akan jadi apa aku dan anak yang ada di dalam kandunganku tanpa bantuan darimu." Ucap Jingga dengan sangat tulus, ia mengingat kembali kejadian satu bulan yang lalu saat ia berusaha melarikan diri dari Dave dan juga Tuan Arthur.
__ADS_1
Flash back on.
"Ah...." Jingga berteriak dengan wajah yang ketakutan saat melihat mobil yang berjalan kencang kearahnya, ia sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi padanya karena sudah lelah dengan semua masalah yang bertubi-tubi datang padanya.
"Nona Anda baik-baik saja." Ucap pria itu menatap dengan penuh khawatir pada wanita yang hampir di tabraknya, ia tidak mempedulikan mobilnya yang rusak karena menabrak pembatas jalan.
Mendengar suara seseorang di telinganya, dengan perlahan Jingga memberanikan diri mengangkat wajahnya untuk mengetahui apakah dirinya masih hidup atau sudah mati.
"Jingga....!" Seru Mike saat tahu wanita yang hampir ia tabrak adalah Jingga.
"Ji...." dengan sigap Mike menangkap tubuh Jingga yang hampir terjatuh ke bawah, lalu membawanya masuk ke dalam mobil. Tadinya Mike ingin membawa Jingga ke rumah sakit, namun melihat bagaimana kacaunya penampilan wanita itu, Mike pun akhirnya memutuskan untuk membawa Jingga ke apartemennya.
Beberapa saat kemudian.
Setelah pelayan yang bekerja di apartemennya selesai mengganti pakaian yang dikenakan oleh Jingga, Mike segera masuk ke dalam kamarnya untuk melihat kondisi wanita itu. Ia juga hendak menghubungi dokter untuk memeriksa keadaan Jingga, tapi niat itu diurungkannya setelah melihat Jingga yang sudah sadarkan diri.
__ADS_1
"Aku di mana?" Jingga mengerjapkan kedua matanya, ia menatap ke sekeliling ruangan dan tatapan matanya jatuh pada sosok pria yang di kenalannya. "Mike...." lirih Jingga sambil memegang kepalanya yang masih terasa pusing.
"Kau jangan banyak bergerak dulu." Mike membantu Jingga yang hendak duduk.
"Mike aku ada di mana?" Jingga mengulangi pertanyaannya.
"Kau ada di apartemenku." Mike duduk di samping Jingga.
Jingga terdiam sesaat lalu matanya menatap pada apa yang dikenakannya.
"Ah.. pakaian aku!" pekik Jingga dengan wajah yang terkejut saat melihat dirinya sudah berganti pakaian dengan sebuah kemeja pria. "Siapa yang sudah mengganti pakaian aku?" tanya Jingga dengan tatapan yang horor pada Mike.
"Tentu saja aku yang menggantinya, kau pikir siapa lagi yang ada di sini selain aku?" bohong Mike dengan senyum jail dibibirnya.
"Ta-tapi kenapa? Kenapa kau mengganti pakaian aku?" tanya Jingga dengan sedikit kesal, ia tidak bisa membayangkan kalau tubuhnya itu sudah dilihat oleh seorang Mike.
__ADS_1
"Karena gaun pengantin yang kau kenakan itu sedikit lembab karena keringat, dan ngomong-ngomong tubuhmu itu ternyata sexy sekali." Bisik Mike sambil tertawa, namun tawa itu langsung menghilang saat sebuah bantal dengan kencangnya mendarat tepat di wajahnya. "Hei kau itu galak sekali." Gerutu Mike dengan wajah yang kesal.