
"Yang di katakan oleh Jeny itu benar Dave, aku ingin Jingga tinggal bersama dengan kami keluarganya." Ucap Arthur.
"Sekali aku mengatakan tidak, ya tidak!" Dave menatap tajam pada Jeny, ia tahu ini adalah sebagian kecil dari rencana wanita itu untuk memisahkan Jingga dari sisinya.
"Kak Dave kau itu jahat sekali! Jingga itu bagian dari keluarga Arthur, sudah seharusnya dia tinggal di Mansion kami. Dan aku yang merupakan Istrimu sudah seharusnya tinggal di mansion ini." Ucap Jeny sembari menangis. "Apa kata orang-orang jika mereka melihat suami aku justru tinggal bersama dengan kakak kandungku?"
Deg
Jingga tersentak dengan perkataan Jeny, pipinya serasa di tampar dengan sangat keras oleh kenyataan status hubungan mereka.
"Aku tidak peduli apa kata orang lain, lagi pula status pernikahan kita hanya tinggal menunggu putusan dari pengadilan. Lalu aku akan segera menikahi Jingga wanita yang sangat aku cintai." Sahut Dave.
"Putusan pengadilan? Apa maksudmu kak Dave?" Jeny terkejut saat mendengar berita tentang pernikahannya yang berada di ujung tanduk.
"Dave ...." Jingga menggeleng kepalanya, ia tidak tega melihat wajah Jeny yang terlihat bersedih.
__ADS_1
"Kenapa, Ji? Bukankah seharusnya dia sudah tahu, kalau aku akan menceraikannya." Dave menatap Jingga dan beralih pada pria yang berstatus sebagai ayah kandung dari wanita yang sangat ia cintai. "Tuan Arthur aku sudah katakan pada Anda bukan? Kalau aku akan menceraikan Jeny."
Tuan Arthur langsung terdiam, ia bingung harus berkata apa pada putrinya. Karena sejujurnya ia belum sempat memberi tahu pada Jeny, kalau Dave sudah mengugat cerainya. Karena selama dua minggu ini ia tidak bertemu dengan putrinya, karena Jeny lebih memilih tinggal di apartemen semenjak pertengkaran terakhir mereka.
"Daddy apa benar yang di katakan oleh Dave?" Jeny menatap tak percaya pada perkataan Dave.
Arthur menganggukkan kepalanya dengan lemah. "Sayang kau harus menerima keputusan Dave, ini semua demi kebaikan kalian."
"Tidak Dad! Aku tidak mau bercerai dengan kak Dave, aku sangat mencintainya." Jeny menangis tersedu-sedu.
"Tapi sayang Dave tidak mencintaimu, dia mencintai kakak mu." Arthur tidak sanggup melihat kesedihan di wajah putri bungsunya.
"Aku—"
"Diam kau Jeny! Dan lebih baik kalian keluar dari mansion ku." Dave berdiri dari duduknya, ia tidak mau lagi mendengar Jeny menghasut Jingga.
__ADS_1
"Dave ...."
Jingga kembali menggelengkan kepalanya, dengan air mata yang menetes di kedua pipinya.
"Kami akan pergi, tapi Jingga akan ikut bersama kami." Jeny menghapus air matanya, ia tidak terima jika Jingga dan Dave bisa hidup bersama di atas penderitanya. Jika ia tidak bisa memiliki Dave, maka Jingga pun tidak boleh memiliki Dave.
"Tidak bisa! Jingga akan tetap tinggal di sini." Tegas Dave.
"Kau tidak berhak melarang Jingga, karena kau bukan siapa-siapanya. Apa kau lupa statusmu hanya adik iparnya." Sindir Jeny.
"Kau ....."
"Aku akan ikut dengan mereka." Potong Jingga.
"Tidak Ji, aku tidak mengijinkannya."
__ADS_1
"Dave mereka keluargaku, dan kau hanyalah—" Jingga tidak bisa meneruskan perkataannya, dan memilih untuk menundukkan kepala.
"Ji ...." Dave menyentuh wajah Jingga dan menatapnya dengan sangat intens, ia tidak ingin berpisah lagi dengan wanitanya apa pun yang terjadi.