Tuan Muda Yang Posesif

Tuan Muda Yang Posesif
Part 39


__ADS_3

Apartemen Casa Grande.


Jingga yang sudah memutuskan untuk pergi dari kehidupan Dave, masih mempertimbangkan sekali lagi keputusannya itu. Ia masih ingin mendengar secara langsung dari mulut Dave, kalau pria itu akan menikah dengan Jeny. Lagi pula entah mengapa sejak pagi ini apartemen mereka kembali dijaga oleh beberapa pengawal pribadi, sehingga membuat Jingga tidak bisa bergerak leluasa untuk melancarkan niatnya pergi dari apartemen tersebut.


"Sedang apa kau di sini?" Dave melingkarkan tangannya di pinggang Jingga, mencium tengkuk wanitanya itu dengan penuh kelembutan.


"Dave kau sudah pulang." Jingga yang ingin melepaskan pelukan Dave, tertahan oleh tangan pria itu.


"Jangan dilepas! Aku ingin seperti ini dulu." Dave semakin erat memeluk pinggang Jingga dan mencium wangi rambut kekasihnya itu. Ia merasa sangat tenang jika sudah memeluk pemilik hatinya itu, dan masalah yang sedang dihadapinya seketika itu juga menghilang.


"Dave apa ada masalah?" tanya Jingga, karena merasa heran dengan sikap Dave.


Hening tidak ada jawaban sama sekali dari Dave, dan keduanya larut dalam pikiran masing-masing.


"Tanggal dua puluh." Ucap Dave.

__ADS_1


"Tanggal dua puluh?" Jingga mengulangi perkataan Dave dengan kening yang berkerut.


"Kita akan menikah tanggal dua puluh ini, sayang." Dave memutar tubuh Jingga lalu mengecup bibir tipis kekasihnya.


"Benarkah?" tanya Jingga dengan wajah yang terkejut, setelah Dave melepaskan kecupan dibibirnya.


Dave tersenyum lalu mengecup kening Jingga.


"Tentu saja sayang, bukankah aku sudah berjanji akan menikahimu." Dave menatap intens wajah Jingga.


"Dave ada yang ingin aku tanyakan." Jingga melepaskan pelukannya, ia memutuskan untuk bertanya langsung pada Dave tentang pernikahan nona Jeny.


Dave yang tahu arah pembicaraan Jingga, menganggukkan kepalanya. Ia tahu tadi pagi kalau kemarin wanitanya itu bertemu dengan Jeny. Pantas saja kemarin malam Jingga menangis dan terlihat berbeda padanya, karena Jeny pasti sudah membocorkan tentang perjodohan mereka.


Dan karena kejadian kemarin itu juga, Dave pun segera memperketat penjagaan di apartemennya, agar Jingga tidak bisa melarikan diri.

__ADS_1


"Apa benar kau akan menikah dengan Nona Jeny?" tanya Jingga. "Aku-aku kemarin bertemu dengan Nona Jeny, dan ia membicarakan tentang pernikahan kalian." Lirih Jingga dengan menundukkan kepalanya.


"Ya itu benar, aku akan menikahinya." Jawab Dave dengan dingin dan tajam.


"A-apa?" Jingga yang terkejut sampai membelalakkan kedua matanya. "Apa maksudmu Dave? Kau bilang akan menikahi aku tanggal dua puluh ini! Lalu sekarang kau bilang akan menikahi Nona Jeny?" tanya Jingga dengan wajah yang bingung dan bibir yang bergetar.


"Aku akan menikahimu tanggal dua puluh, setelah itu aku akan menikahi Jeny." Terang Dave dengan datar.


Jingga yang semakin terkejut dengan perkataan Dave, tanpa terasa mengeluarkan air matanya.


"A-aku tidak mengerti Dave." Kaki Jingga terasa sangat lemas, bahkan untuk menopang tubuhnya saja ia tidak sanggup. "Lepaskan Dave!" teriak Jingga saat Dave berusaha memegang tubuhnya.


"Tidak akan!" Dave memeluk erat tubuh Jingga, dan tidak membiarkan wanita itu lepas darinya. Ia tahu saat ini Jingga pasti sangat marah dan kecewa padanya, tapi Dave memilih berkata jujur dari pada ia melukai Jingga lebih dalam lagi.


"Lepaskan Dave!" teriak Jingga dengan keras, memukul-mukul punggung pria itu dengan sekuat tenaga. "Lepaskan aku!" teriak Jingga kembali. "Kau tidak bisa melakukan ini padaku Dave! Kau jahat!" Jingga meraung-raung dengan air mata yang semakin deras menetes di kedua pipinya.

__ADS_1


__ADS_2