
"Dia istriku, Ibu yang melahirkan mu." Arthur membelai wajah Jingga dengan perlahan.
"Dave...." tangan Jingga bergetar hebat.
Dave dengan segera mengambil foto itu dari tangan Jingga, dan langsung terkejut saat melihat foto tersebut. Wanita itu sangat mirip dengan Jingga dan yang membedakan mereka adalah usia keduanya.
"Kau sudah percaya sekarang?" Arthur kembali memeluk Jingga dengan erat.
"Ini tidak mungkin!" Dave memaksa Arthur untuk melepaskan pelukannya pada Jingga. "Apa rencana Anda Tuan Arthur? Apa yang sedang direncanakan oleh kau dan Jeny untuk memisahkan aku dengan Jingga?"
"Dave, Uncle tidak punya rencana apa pun untuk memisahkan kalian. Jingga benar-benar putriku Jesy yang menghilang belasan tahun yang lalu." Arthur berusaha meyakinkan Dave.
__ADS_1
Dave yang masih terkejut dengan semua itu, berusaha untuk berpikiran jernih. Bagaimana bisa Jingga wanita yang sangat ia cintai adalah putri tuan Arthur yang menghilang, dan itu artinya Jingga adalah kakak dari Jeny sekaligus kakak iparnya. "Kalian sengaja melakukan semua ini untuk menghasut Jingga, dan mengunakan ikatan Kakak dan adik untuk memisahkan kami." Geram Dave.
"Tidak Dave....!" Arthur berusaha menahan emosi pada pria yang sudah ia anggap sebagai putranya. "Jika aku mempunyai rencana jahat dan ingin memisahkan kalian, untuk apa aku membawa dokter Aslan kemari? "Jingga kau percaya padaku bukan? Kau adalah Jesy." Ucap Arthur sambil menggenggam tangan Jingga.
"Aku tidak tahu." Ucap Jingga dengan jujur karena ia masih bingung dengan semuanya. "Tadi tuan mengatakan kalau putri Anda hilang saat kecelakaan?" tanya Jingga.
Arthur menganggukkan kepalanya, lalu menceritakan kembali kejadian lima belas tahun yang lalu. Kejadian di saat istri dan putrinya mengalami kecelakaan mobil yang dahsyat, hingga membuat istri tercintanya meninggal di tempat. Sedangkan jasad Jesy tidak pernah ditemukan dan hilang begitu saja dari tempat kejadian. Tuan Arthur pun menjelaskan, ia membawa dokter Aslan untuk mengambil sampel darah Jingga untuk dilakukan tes DNA, agar semuanya menjadi jelas dan pasti jika sudah mempunyai bukti yang akurat.
"Hamil?" Arthur begitu terkejut.
Jingga menganggukkan kepalanya sambil mengelus perutnya yang terlihat masih datar. Arthur yang melihatnya langsung tersenyum bahagia walaupun ada sedikit kesedihan saat mengingat bagaimana terlukanya Jeny saat mengetahui kalau Jingga tengah mengandung.
__ADS_1
"Tuan Dave kami hanya mengambil sedikit darah dari Nona Jingga, jadi tidak akan mengganggu kehamilannya." Ucap dokter Aslan.
"Tidak boleh!" Dave berkata dengan sangat tegas, ia tidak ingin Jingga melakukan tes DNA karena Dave takut kalau Jingga ternyata memang benar anak dari tuan Arthur. Dave takut Jeny akan mengambil keuntungan dari situasi ini untuk memisahkan dirinya lewat Jingga.
"Kalau begitu kita ambil rambut dari Nona Jingga saja, karena itu pun bisa dijadikan sampel untuk tes DNA. Bagaimana Nona Jingga?" tanya dokter Aslan.
Dave langsung menatap pada Jingga yang sudah menyetujui untuk melakukan tes DNA, Jingga sendiri menyetujui apa yang diminta oleh dokter Aslan, karena ia merasa tidak tega melihat wajah tuan Arthur yang kecewa jika Jingga menolak melakukan tes DNA.
Setelah mendapatkan persetujuan dari Nona Jingga, dokter Aslan segera menjalankan tugasnya dengan mengambil beberapa helai rambut Jingga dan langsung memasukkan ke dalam kantung.
Setelah semuanya selesai Tuan Arthur pun segera pamit pulang, ia harus mengurus sesuatu yang sangat penting yang berhubungan dengan Jingga, Jeny, dan Dave. Arthur tidak ingin melihat mereka bertiga berada dalam lingkaran hubungan yang tidak ada akhirnya dan saling melukai satu dan lainnya. Apa lagi saat ini Jingga sedang mengandung anak Dave, dan ia akan meluruskan semuanya sebelum terlambat.
__ADS_1