
"Di dalam butik ini apa ada jalan lain untuk keluar selain dari pintu utama?" tanya Jingga.
"Ada, memangnya kenapa kau bertanya seperti itu?" Prita semakin penasaran.
"Prita aku tidak punya banyak waktu untuk menjelaskannya, saat ini aku butuh bantuan mu untuk melarikan diri dari dua pria yang tadi bersama ku." Terang Jingga.
Prita tampak terdiam sambil berpikir begitu pun dengan Jingga, mereka berdua lalu terkejut saat mendengar suara pintu yang diketuk dari luar.
"Nona apa Anda sudah selesai?" tanya sang pengawal.
"Belum sebentar lagi." Seru Jingga dari dalam ruang ganti.
"Kalau sudah selesai Anda keluarlah! Dan menunggu tuan Dave di tempat ruangan khusus di butik ini." Ucap pria itu.
"Oke...." Sahut Jingga, dan setelah mendengar tidak ada lagi suara dari anak buah Dave, Jingga kembali menatap pada temannya. "Bagaimana Prita? Kau bisa bantu aku?" Pinta Jingga dengan memohon.
"Aku punya ide." Prita lalu membisikkan sesuatu pada Jingga. "Bagaimana?" tanya Prita.
Jingga tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. "Terima kasih Prita, aku tidak tahu harus membalas kebaikanmu dengan cara apa." Ujar Jingga.
__ADS_1
"Dengan cara kau harus memberitahuku apa yang sebenernya terjadi padamu." Prita mengerlingkan matanya.
"Oke aku janji, setelah aku bisa keluar dari tempat ini aku akan menemuimu dan menceritakan semuanya." Jingga memeluk Prita sebagai ucapan terima kasihnya.
"Sudah.. lebih baik kita keluar sebelum pria itu curiga." Prita melepaskan pelukannya dan membantu Jingga berjalan menuju ruang khusus tamu VVIP.
Lima menit kemudian, Jingga yang sudah duduk di atas sofa memulai aksinya.
"Apa tuan Dave masih lama?"
Pengawal itu menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Oh...." Jingga lalu menatap ke arah pintu dan melihat Prita yang membawakan minuman untuk mereka. "Em.. Prita bisa antar saya ke toilet?" pinta Jingga.
"Tentu saja Nona, mari-"
"Tidak boleh! Biar kami saja yang mengantar Nona Jingga." Pengawal tersebut langsung berdiri dari duduknya.
"Tidak! Aku malu jika diantara oleh kalian." Jingga menatap tajam pada kedua pengawalnya, ia tidak menyangka akan sangat susah terbebas dari mereka.
__ADS_1
"Kami hanya mengantar dan menunggu diluar Nona, jadi Anda tidak perlu khawatir." Ucap salah satu pengawal tersebut.
"Tuan biar aku yang mengantar Nona jingga, kalian tidak perlu khawatir aku pasti akan menjaganya." Prita berusaha membantu Jingga.
"Tidak bisa Nona, kami tetap akan mengikuti Nona Jingga dan Anda bisa membantu Nona kami di dalam toilet." Ucap pengawal tersebut tanpa ingin di bantah lagi.
Prita terdiam begitu pun dengan Jingga, dan mau tidak mau Jingga keluar dari ruangan tersebut bersama Prita dan kedua pengawal tuan Dave.
Jingga yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, berjalan dengan langkah gontai dan hanya bisa berharap ada satu keajaiban yang bisa membuatnya keluar dari butik tersebut.
"Tuan.. tuan tolong bantu kami, di luar ada tiga orang pria yang sedang mengacak-acak butik ini." Pemilik di butik tersebut memohon dengan wajah yang ketakutan.
Pengawal itu melihat ke temannya dan memerintahkan dia untuk membantu mengatasi kerusuhan di luar, Namun setelah beberapa saat tidak melihat temannya datang kembali, ia pun memutuskan untuk melihat keadaan di luar.
"Nona Anda tunggu di sini! Aku akan melihat situasi di luar?" pengawal itu berjalan menuju tempat keributan.
"Jingga sekarang!" Prita menatap kearah Jingga, dan memberikan kode untuk segera lari ke pintu belakang.
Jingga yang sempat terdiam karena penasaran dengan apa yang terjadi di luar, langsung tersadar dan segera berlari menuju pintu belakang. Ia tidak peduli jika saat ini dirinya masih memakai gaun pengantin, karena yang terpenting baginya saat ini adalah keluar dari butik tersebut dan melarikan diri dari Dave sejauh yang ia bisa.
__ADS_1
Prita sendiri berpura-pura mengejar Jingga dan seolah-olah terkejut saat Jingga kabur dari tempat tersebut. Itu semua ia lakukan agar para pria itu tidak curiga kepadanya, karena ada CCTV di butik tersebut dan bisa menjadi bukti kalau dirinya sama sekali tidak ada hubungan dengan lari nya Jingga.