Tuan Muda Yang Posesif

Tuan Muda Yang Posesif
Part 61


__ADS_3

Deg


Jingga begitu terkejut setelah mendengar perkataan Dave, yang menurutnya sangat tidak masuk di akal.


"Apa yang kau katakan, Dave?" Jingga menatap tak percaya pada apa yang di dengarnya, bahwa Dave akan menceraikan Jeny? Dan itu semua rasanya tidak mungkin, karena setahu dirinya Dave ingin menjalani apa yang diinginkan oleh kedua orangtuanya yang sudah meninggal.


"Aku akan menceraikan Jeny, dan setelah itu kita akan menikahimu." Dave mencium punggung tangan Jingga dengan lembut.


"Dave jangan seperti ini! Kau baru menikah dengan Jeny tiga Minggu yang lalu, dan bukankah kau ingin mengabulkan apa yang menjadi permintaan terakhir kedua orang tua mu?"


"Aku tidak peduli dengan semua itu Jingga! Karena bagiku yang terpenting saat ini adalah kau dan anak kita." Dave berusaha menyakinkan Jingga.


Jingga menghela napasnya dengan kasar, lalu melepaskan genggaman tangannya. "Semudah itu kau berkata tidak peduli, dan semudah itu kau berkata ingin menceraikan Jeny. Apa bagimu sebuah pernikahan adalah permainan?"


"Ji, kau tahu betul aku bukan orang yang seperti itu." Dave kembali menggenggam tangan Jingga.

__ADS_1


"Tentu saja aku tahu kau orang yang seperti apa! Kau adalah pria tidak pernah menepati janjinya, dan terbukti saat ini kau bukan suamiku tapi suami dari wanita lain." Sindir Jingga sambil menghempaskan tangan Dave.


"Jingga aku—"


"Aku lelah Dave! Aku ingin istirahat." Jingga berusaha mengalihkan pembicaraan mereka.


"Kalau begitu tidurlah!" Dave mencoba bersabar dengan tidak memaksakan keinginannya.


"Bagaimana aku bisa tidur jika kau ada di sini?" Ketus Jingga.


"Apa?" pekik Jingga dengan kedua mata yang melotot dengan sempurna.


"Aku akan tidur di sini, karena kau tidak mau tidur di kamarku." Jawab Dave dengan santai sambil berdiri.


"Dave....." sentak Jingga.

__ADS_1


"Pilihanmu hanya dua sayang, tidur di kamar aku dengan tempat tidur yang luas atau tidur di kamar ini dan berbagai ranjang yang sempit ini bersama aku." Dave menarik turunkan kedua alisnya, berusaha untuk menggoda Jingga.


"Dave aku benci kau!" Ketus Jingga dengan wajah yang kesal.


"Dan aku sangat mencintaimu." Dave kembali menggoda Jingga.


"Oh ya ampun." Jingga menghela napasnya dengan kasar. "Dave itu benar-benar menyebalkan! Tadi dia bersikap sangat manis dan terlihat sudah sangat berubah, tapi lihat sekarang! Dia kembali menjadi seseorang yang menyebalkan." Gumam Jingga dalam hati.


"Jadi bagaimana? Kau mau tidur di kamarku atau di sini?" tanya Dave.


"Aku akan tidur di kamar Pak Tri." Jawab Jingga asal, sambil melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Namun dalam hitungan detik ia merasakan tubuhnya seperti melayang ke udara. "Dave apa yang kau lakukan? Turunkan aku!" teriak Jingga saat menyadari dirinya di gendong oleh Dave.


"Aku tidak akan melepaskanmu sayang." Dave membawa Jingga ke atas tempat tidur, dan membaringkannya bersama dengan dirinya yang juga ikut tidur di samping Jingga.


"Dave lepaskan! Disini sangat sempit." Jingga berusaha melepaskan pelukan Dave, namun yang ia rasakan Dave justru semakin merengkuh tubuhnya sampai ia benar-benar berada di dalam dekapan pria itu.

__ADS_1


"Biarkan seperti ini dulu, aku mohon sebentar saja! Aku sangat mengantuk." Dave mulai memejamkan kedua matanya yang terasa sangat berat, sudah satu bulan ini ia tidak bisa tidur nyenyak karena memikirkan Jingga, dan saat ini akhirnya ia bisa tidur dengan tenang karena wanitanya sudah berada di pelukannya.


__ADS_2