
Setelah menenangkan dirinya karena terkejut dengan wajah Jingga yang sangat mirip dengan istrinya, Arthur pun melanjutkan kembali membaca informasi tentang Jingga. Di situ tertulis dengan sangat jelas bahwa kedua orang tua Jingga sudah meninggal, dan selama ini Jingga di asuh oleh paman dan bibinya.
"Wajah mereka yang sangat mirip apakah hanya kebetulan saja?" Arthur memandang foto Jingga dan istrinya berulang-ulang kali, ia juga menatap foto Jesy kecil dengan seksama. "Aku harus menyelidiki ini semua! Walaupun kemungkinannya kecil kalau Jingga adalah Jesy ku." Gumam Arthur, ia segera mengambil ponselnya dan memerintahkan anak buahnya untuk menggali info lebih dalam tentang kedua orang tua Jingga yang sudah meninggal dunia.
Setelah menutup ponselnya, Arthur segera keluar dari ruang kerja nya untuk kembali ke kamarnya. Namun langkah kakinya terhenti di ruang tengah, saat ia melihat Jeny sedang berbicara dengan dua orang pengawal pribadi mereka. Arthur yang merasa penasaran memutuskan untuk mendekati putrinya itu
"Jeny ada apa ini?" tanya Arthur.
"Dad kau ada di mansion?" Jeny balik bertanya dengan wajah yang terkejut dan juga gugup, ia tidak menyangka jika Daddy nya ada di mansion, karena biasanya Daddy Arthur masih berada di kantornya dan baru pulang saat hari sudah larut malam.
Arthur menelisik wajah Jeny yang terlihat terkejut dan juga gugup, ia memberikan kode pada kedua pengawalnya untuk keluar dari ruangan.
"Katakan apa yang sedang kau rencanakan?" selidik Arthur dengan sangat tajam.
__ADS_1
"Rencana? Rencana apa Dad? Jeny tidak mengerti." Jeny memilih untuk duduk di atas sofa dan berpura-pura sibuk dengan ponselnya, ia tidak mau Dad Arthur curiga kepadanya dan merusak semua rencana yang sudah ia susun rapih.
"Jeny sayang, Dad adalah orang yang membesarkan mu. Dan Daddy tahu betul ada yang sedang kau rencanakan!" ucap Arthur dengan suara yang datar namun penuh dengan penekanan.
Deg
Jeny semakin gugup dan ketakutan, ia menatap wajah Daddy nya yang terlihat datar tanpa ekspresi apa pun dengan sorot mata yang sangat tajam.
"Aku-aku tadi menyuruh pengawal kita untuk melenyapkan Jingga kekasih kak Dave." Ucap Jeny dengan kepala yang tertunduk ketakutan.
"Daddy masih bertanya kenapa? Aku melakukan semua ini karena aku sangat mencintai kak Dave, dan aku tidak ingin berbagi cinta dengan wanita mana pun!" tegas Jeny tanpa mempedulikan wajah Daddy nya yang terlihat menahan rasa sakit.
Arthur terduduk di atas sofa dengan tubuh yang lemas, ia tidak pernah menyangka putri bungsunya itu begitu terobsesi pada Dave, hingga membuatnya nekat melakukan apa pun demi mendapatkan pria itu.
__ADS_1
"Jen.. Jeny sayang." Arthur mengusap rambut panjang putrinya dengan perlahan, sambil menahan rasa sakit di dadanya. "Kau tidak boleh melakukan tindakan kriminal seperti itu, dan Daddy tidak akan membiarkan mu bertindak terlalu jauh hanya demi seorang pria!" Arthur kali ini harus bertindak sangat tegas pada putrinya.
"Kalau Daddy berani menghalangi rencana Jeny, maka besok pagi Daddy akan melihat putri kesayangan mu ini sudah menjadi mayat." Ancam Jeny dengan penuh amarah.
"Dan setelah Daddy melihatmu menjadi mayat, maka dengan senang hati Daddy akan menyusulmu, bagaimana?" tantang Arthur, mencoba melawan putrinya yang lagi-lagi mengancam akan bunuh diri.
"Daddy jahat...." pekik Jeny dengan kesal, ia tidak menyangka ancaman nya itu sama sekali tidak di gubris oleh Daddy nya. Padahal biasanya Dad Arthur akan menurut jika ia sudah mengancam akan bunuh diri.
"Dengar sayang! Daddy sudah menuruti keinginan mu untuk menikah dengan Dave, apa itu semua belum cukup untukmu?" tanya Arthur sambil menghela napasnya.
Jeny terdiam ia tidak ingin menjawab perkataan Daddy nya karena masih sangat kesal.
"Boleh Daddy bertanya sesuatu padamu?" tanya Arthur saat melihat putrinya diam saja. "Seandainya kakak mu masih hidup dan dia pun mencintai Dave, apakah kau mau melepaskan Dave untuk Jesy?"
__ADS_1
"What? Are you kidding?" Jeny tertawa terbahak-bahak.
"Daddy tidak sedang bercanda." Jawab Arthur dengan tegas.