
Dave dan Jingga yang melihat dan mendengar tangisan Jeny, sama-sama terdiam dengan raut wajah yang terkejut. Dan di saat Jingga ingin mendekati Jeny, langkahnya terhenti saat melihat Dave berjalan menghampiri adiknya.
"Kau tidak salah dan cintamu tidak salah, tapi cinta tidak dapat di paksakan Jeny! Dan yang harus selalu kau ingat adalah sejak dulu aku selalu menganggapmu sebagai adikku sendiri tidak kurang dan tidak lebih." Ucap Dave mensejajarkan dirinya di hadapan Jeny.
"Tapi aku mencintaimu kak Dave, dan apa kau lupa kita sudah menikah? Tidak bisakah kau mencoba mencintai aku?" pinta Jeny.
"Maaf aku tidak bisa, karena seluruh cintaku hanya untuk Jingga." Dave menatap wajah wanitanya.
Deg.
"Dave sebesar itukah rasa cintamu padaku? Aku sungguh merasa bersalah sudah berniat untuk meninggalkanmu lagi." Gumam Jingga dalam hati.
__ADS_1
"Kau jahat kak Dave! Jahat!" Jeny memukul bahu pria yang sangat dicintainya sambil terus menangis tersedu-sedu.
"Jeny sayang hentikan!" Arthur menahan lengan putrinya. "Belajarlah berbesar hati untuk menerima semua ini, karena tidak selamanya apa yang kita inginkan itu bisa kita dapatkan. Arthur membantu putrinya untuk berdiri. "Dan satu lagi! Kita juga tidak bisa melawan apa yang sudah tertulis dalam takdir, sekuat apa pun kau berusaha memiliki Dave. Namun jika Dave sudah ditakdirkan berjodoh dengan Jingga, maka semuanya akan menjadi sia-sia." Arthur menasehati putri bungsunya.
"Tapi aku mencintai Kak Dave, Daddy." Jeny masih terus menangis, hatinya merasa sangat sakit mendapatkan kenyataan bahwa kakak kandungnya sedang hamil dari pria yang sangat dicintainya. Dan rasanya percuma saja Jeny menjalankan rencananya untuk memisahkan Dave dengan Jingga, jika keadaannya sudah berantakan seperti ini.
"Kau memang mencintai Dave tapi sayangnya kau tidak berjodoh dengannya, berbeda dengan kakakmu yang sejak kecil memang sudah berjodoh dengan Dave." Terang Arthur.
"Berjodoh?" Dave mengerutkan keningnya.
"Kalian sudah dijodohkan sejak masih kecil, dan ketika waktu memisahkan kalian, maka dengan sendirinya kalian dipertemukan kembali." Arthur menatap Dave dan Jingga dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
"Jadi Jingga adalah wanita yang dijodohkan oleh kedua orang ku?"
"Ya Dave, Uncle minta maaf karena sudah membohongimu." Arthur tidak dapat menahan laju air matanya, ia menangis dengan rasa penyesalan yang mendalam. Arthur sangat bersalah pada Dave, Jingga, dan terutama pada kedua sahabatnya yang sudah tiada.
"Jingga kau dengar itu? Kau dan aku sudah dijodohkan sejak kecil, kau adalah wanita yang diinginkan oleh kedua orangtuaku." Dave memeluk tubuh wanitanya dengan erat, ia merasa bersyukur dan berterima kasih pada kedua orangtuanya yang sudah memilih Jingga untuk menjadi istrinya.
Jingga yang juga terkejut dengan perkataan tuan Arthur, sampai tidak bisa berkata-kata. Ia sangat bahagia saat mengetahui pria yang dicintainya adalah pria yang sudah dijodohkan dengannya sejak kecil.
"Tuan Arthur ...." lirih Jingga.
"Daddy, panggil aku Daddy." Pinta Arthur.
__ADS_1
"Daddy bolehkah aku meraih cintaku? Apakah Daddy mau merestui kami?" Jingga menghapus air mata yang menetes di ke-dua pipi pria paruh baya tersebut.
"Tentu saja sayang, Daddy dan Jeny ...." Arthur terdiam saat melihat putri bungsunya sudah tidak ada ditempatnya. "Di mana Jeny?" Arthur mengerutkan keningnya.