Tuan Muda Yang Posesif

Tuan Muda Yang Posesif
Part 75


__ADS_3

Jingga dan Jeny yang memakai pakaian hitam, tampak masih menangisi kepergian Dad Arthur.


"Kita harus pulang sekarang! Sebelum hujan turun." Dave berkata pada Jeny dan Jingga.


"Aku tidak mau, kalian pulang saja duluan!" Ucap Jeny sambil terisak, ia masih bersedih atas kepergian Dad Arthur yang disebabkan oleh dirinya.


"Jeny kita pulang bersama-sama, aku tidak mau meninggalkanmu sendirian." Jingga memeluk Jeny, namun tubuhnya langsung terhempas kebelakang saat Jeny mendorongnya dengan kasar.


Dave dengan sigap menahan tubuh Jingga. "Jeny kau keterlaluan, kau itu ...."


"Dave ...." Jingga berusaha menenangkan prianya.


"Tidak Jingga, Jeny harus sadar jika perbuatannya barusan sudah melukaimu sekaligus melukai Daddy nya sendiri. Bukankah dia sudah berjanji untuk memperlakukanmu dengan baik." Dave emosi saat melihat wanitanya hampir terjatuh.


"Dave berhentilah! Kau menyakiti adikku." Sentak Jingga.


"Tapi Ji ...."


"Akh ...."


Jeny berteriak histeris dan terjatuh di samping makam Daddy nya.


"Aku memang wanita yang sangat jahat, aku yang menyebabkan Daddy meninggal. Aku tidak pantas mempunyai Daddy sehebat Dad Arthur, dan aku tidak pantas menjadi adik dari wanita sebaik Jingga." Jeny terus menangis.

__ADS_1


"Jeny."


Jingga langsung memeluk adiknya dengan erat, memeluk satu-satunya keluarga yang saat ini ia memiliki. "Kau tidak boleh seperti ini, kasihan Dad Arthur jika melihatmu terus menangis dan menyalahkan diri sendiri."


"Aku jahat Jingga, aku jahat ...." Jeny berteriak histeris.


"Jeny ...."


Jingga terus memeluk adiknya dan tidak akan ia lepaskan walau Jeny mendorongnya, karena Jingga teringat pada pesan Dad Arthur untuk selalu menjaga Jeny.


Dave yang melihat kesedihan Jingga dan Jeny, hanya bisa diam dan menjaga keduanya dari belakang.


Sepuluh menit pun telah berlalu dan kedua wanita yang tadi menangis pilu kini saling memeluk satu dan lainnya.


"Kau saja duluan aku masih ingin disini." Ucap Jeny.


"Tapi Jeny aku tidak akan meninggalkanmu." Ucap Jingga.


"Kau pergilah, Jingga! Biar aku yang menjaganya." Mike berjalan mendekat kearah Jeny.


Mike yang diberitahu oleh Dave tentang kematian tuan Arthur, segera datang kepemakaman untuk berbelasungkawa atas meninggalnya Daddy dari dua wanita yang menjadi teman baiknya.


"Mike ...." Jingga menatap pada Mike.

__ADS_1


"Pergilah Jingga, kasihan baby nya kalau kau berlama-lama di sini." Mike tersenyum pada Jingga.


"Ayo Jingga." Dave merangkul pundak wanitanya.


"Tapi Dave, Jeny?"


"Ada Mike yang akan menjaganya." Dave pun membawa Jingga untuk keluar dari pemakaman.


"Tunggu!" Jeny berjalan mendekati Jingga dan memeluknya dengan erat. 'Maafkan aku, kak." Ucap Jeny dengan tulus dari dasar hatinya.


"Jeny ...." Jingga membalas pelukan adiknya dengan penuh haru, karena Jeny mulai menerima dirinya sebagai seorang kakak.


"Maafkan aku yang sudah bersikap egois dan berusaha membuat kau dan Dave berpisah." Jeny mengurai pelukannya.


"Aku sudah memaafkanmu." Sahut Jingga dengan senyum di wajahnya.


"Kak Dave maafkan aku, dan aku berjanji akan menandatangani surat perceraian kita." Jeny menatap pria yang masih sangat ia cintai, namun Jeny berjanji akan menghilangkan rasa cinta tersebut.


Dave menganggukkan kepalanya, menandakan ia sudah memaafkan Jeny. "Ayo kita pulang, sayang." Dave merangkul kembali tubuh wanitanya.


"Mike tolong jaga Jeny." Pinta Jingga.


"Kau tenang saja aku akan menjaganya." Mike menatap pada Jeny yang terlihat masih menangis.

__ADS_1


Dave dan Jingga segera pergi dari tempat pemakaman, dan Jeny yang melihat kepergian Dave dan Jingga hanya bisa tersenyum tipis.


__ADS_2