
“Hati-hati, ya, Mas. Bye ....” Kinanti melambaikan tangan ke arah Surya. Lelaki itu tersenyum dari balik kemudi sembari membalas lambaian sang istri. Surya kembali memutar mobilnya keluar dari halaman gedung. Kinanti masih berdiri di undakan lobi hingga mobil sang suami benar-benar menghilang dari pandangan.
Tiba-tiba dari arah belakang, tangannya digandeng seseorang sehingga wanita berambut ikal itu terkejut
“Udah, gak usah diliatin mulu. Suami elu gak bakal ilang!” celetuk Bena. Rekan sekaligus teman karib Kinanti itu mengajaknya masuk.
Mereka menyapa ramah sekuriti yang berada di depan pintu masuk. Setelahnya, keduanya berjalan menuju mesin presensi kehadiran yang terletak di kiri lobi.
“Bentar, Kin. Kita wefie di depan mesin ini dulu,” ucap Bena. Ia mengeluarkan ponsel lalu mengabadikan gambar mereka.
Terlihat ekspresi Kinanti yang sedikit cemas dengan antrean karyawan di belakang . “Ya ampun, Bena. Gak enak sama yang udah antre, nih!”
“Bentaran aja, kok. Kita foto merayakan hari pertama elu resmi jadi editor sungguhan. Satu … dua … tiga … cheers.”
Mereka berswafoto dengan senyum paling manis. Keduanya berjalan cekikikan setelah menggesek ID card, kemudian menuju lantai tiga tempat di mana rutinitas mereka berjalan.
Gedung Penerbit GrewMedia yang berada di kawasan Sudirman adalah bangunan tiga lantai yang dirancang dengan konsep terbuka. Lantai pertama dijadikan untuk galeri dan toko buku. Dua lantai di atasnya berukuran 20x40 meter adalah bagian utama dari seluruh kegiatan redaksi dan staf.
Sekitar dua ratus meter di belakang bangunan utama, berdiri kokoh bangunan seluas dua ribu meter persegi dan berfungsi sebagai tempat proses percetakan dari buku yang telah lulus proofreading.
Lantai paling atas merupakan tempat khusus di mana kepala dan asisten bagian tiap divisi bertugas. Desain interior di lantai tiga didominasi kaca tembus pandang sehingga semua aktivitas kesibukan pegawai dan pemandangan luar gedung bisa terlihat. Setengah luas ruangan disekat lagi menjadi sepuluh ruangan kecil dengan pintu warna berbeda-beda. Tertulis pula nama dan jabatan para awak penerbit.
Kinanti masih sedikit gugup di depan ruangan barunya. Sampai dengan kemarin, ia masih bekerja di kubikel yang berada di ruangan depan. Kini, setelah tiga tahun menjadi asisten editor, perjuangannya tidak sia-sia. “Kinanti Ayu” “Editor”, tulisan yang kini tergantung di daun pintu ruangannya.
Akhirnya sampe juga aku di posisi ini, ujar Kinanti dalam hati.
__ADS_1
Pandangannya menyapu ruangan bernuansa pastel. Ia meletakkan tas dan menyandarkan tubuhnya di kursi kerja. Beberapa saat setelah itu, kepala Bena menyembul dari balik pintu yang memang tidak tertutup.
“Kin, lima menit lagi rapat redaksi dimulai. Ayook, buruan!” ajak gadis 32 tahun itu.
Sebagai salah satu ilustrator senior di Penerbit GrewMedia, Bena memang lebih dulu berkarier dibanding Kinanti.
“Oh, Okay. Sebentar, aku ambil catatan dulu,” ujar Kinanti masih sedikit gugup.
Mereka berjalan beriringan menuju ruangan rapat. Tujuh dari sepuluh perwakilan tiap divisi sudah hadir. Bena langsung duduk di barisan staf utama. Sementara itu, Kinanti berdiri di dekat dinding bersama para asisten kepala divisi seperti biasa.
“Hai, Kinanti! Sini, duduk di sini!” Sarah menepuk-nepuk kursi kosong yang ada di sisi kanannya. Sarah merupakan salah seorang rekan kerja Kinanti yang menjabat editor selama lima tahun di penerbit ini.
Gegas, Kinanti berjalan mendekat dan duduk di sampingnya.
“Kamu ngapain berdiri di situ? Lupa, ya, kalo sekarang udah jadi editor beneran,” imbuh Sarah dengan nada ramah.
Kinanti hanya tersenyum, lalu tenggelam dalam obrolan kosong. Suasana ruangan yang tadi sedikit berisik mendadak hening saat seorang wanita masuk menyusuri meja yang memanjang di tengah ruangan.
Tidak lama berselang, seorang wanita berambut bob sebahu memasuki ruangan. Stiletto merah terdengar memantul dari langkahnya yang cekatan. Kulot hitam dipadu blazer merah, membuatnya menjadi pusat perhatian. Wanita itu kemudian duduk tepat di samping Rosalina, lalu melepas kacamata Bulgari yang sedari tadi membingkai di wajah tirusnya.
Amira Athalia, editor senior, menyapu sekilas semua redaktur yang hadir. Pandangannya terlihat angkuh mendominasi seisi ruangan. Sebagian yang hadir tampak datar menatapnya, tak terkecuali Kinanti.
Sejenak pandangan mereka beradu, lalu sama-sama membuang muka ke arah yang berbeda. Meski belum pernah beradu secara frontal, Kinanti dan Amira seperti terlibat rivalitas. Apalagi dengan adanya promosi jabatan Kinanti menjadi editor dan memiliki ruangan bersebelahan dengan ruangannya, tanda ketidaksukaan Mira—begitu kerap ia dipanggil—makin terlihat jelas.
“Baiklah tanpa berpanjang lebar, saya akan mulai membahas rapat redaksi kali ini yang khusus membahas penawaran kontrak kerja kita dengan penulis Right Man,” papar Rosalina membuka pembicaraan.
Semua orang yang hadir serius mendengarkan Rosalina. Beberapa di antara mereka memegang buku catatan kecil untuk menyalin poin penting pada rapat hari ini, termasuk Kinanti.
__ADS_1
Rosalina berdiri, lalu berjalan menuju layar putih yang ada di belakangnya. Ruangan seketika menjadi redup. Sebuah proyektor menyorotkan sinar kebiruan dan menampilkan sejumlah data power point sang penulis.
“Seperti yang kita ketahui bahwa kontrak eksklusif antara Right Man dan Penerbit Universal telah berakhir. Berdasarkan postingan dari akun medsos Right Man sebulan lalu, untuk novelnya kali ini, ia akan memberikan kesempatan kepada beberapa penerbit mayor untuk melakukan penawaran kerja sama,” jelas Rosalina serius. Wanita itu mengarahkan pandangannya kepada Mira.
“Bu Mira, bagaimana tindak lanjut perihal kontrak kerja yang kita ajukan kepada Right Man? Sudah ada kabar darinya?”
“Belum ada kemajuan. Pesan dan e-mail yang saya kirim sama sekali belum direspons.” Mira menjawab dengan pandangan masih mengarah ke layar ponsel.
“Direksi sudah mengadakan pertemuan untuk membahas kontrak Right Man. Secara langsung, saya juga mendapat pressure dari mereka agar entah bagaimana caranya harus mendapatkan kontrak eksklusif tersebut. Apalagi seperti yang saya lihat pada postingan terbarunya kemarin, pada saat launching novel ketiganya nanti, dia akan muncul menampilkan sosoknya yang selama ini misterius. Ia juga bersedia mengadakan jumpa fans dengan semua pembacanya. Oleh karena itu ….” Rosalina sengaja memberikan jeda pada ucapannya, lalu menyapu pandanganya ke semua staf yang hadir.
“Saya akan memberikan tantangan kepada empat editor Grewmedia untuk berlomba melakukan negosiasi dengan Right Man. Siapa pun editor yang berhasil mendapatkan kontrak tersebut, jabatan wakil pimpinan redaksi akan diberikan kepadanya,” papar Rosalina.
Pandangannya menyapu semua yang hadir penuh pertimbangan.
Suasana rapat seketika riuh, mereka masing-masing berdiskusi membicarakan promosi jabatan yang cukup menggiurkan tersebut.
“Elu gak mau coba, Kin?” tanya Bena. Gadis itu tiba-tiba sudah duduk di sampingnya.
“Gila aja, baru juga jadi editor resmi hari ini. Kamu gak liat siapa saingan aku? Noh …!” Mulut Kinanti memonyong ke arah Mira. Matanya memicing untuk menegaskan ketidaksetujuan ide Bena.
“Ya, tapi ini kesempatan elu juga, Kin. Tiga tahun jadi asisten editor, terus gara-gara dapetin kontrak eksklusif langsung jadi wapemred. Uwww, mantep bener karir elu, dah!” tukas Bena memberi semangat.
Sarah, yang duduk di samping mereka, hanya tersenyum mendengar pembicaraan mereka. Sebagai editor nonfiksi, sesungguhnya ia tidak terlalu tertarik dengan hal ini. Apalagi jika harus berkompetisi dengan Mira, jelas ia lebih memilih bermain aman.
Rapat pagi itu selesai dua jam kemudian. Mira beranjak lebih dulu diiringi staf lain yang secara teratur keluar dari ruangan rapat.
Kinanti masih mencatat beberapa poin penting materi yang dibahas, tentang buku lain yang akan terbit dan dikerjakan dalam waktu beberapa bulan ke depan.
Hal itu jelas menarik perhatian Rosalina, sang pimpinan redaksi.
Bersambung 😎😎😎
__ADS_1