Tuba Semanis Madu

Tuba Semanis Madu
ISYARAT HATI


__ADS_3

Oh My God! batin Kinanti menjerit.


Jantung Kinanti seolah-olah berhenti berdetak saat itu juga. Mulutnya yang menganga, lekas ia tutup dengan tangan. Ia seperti dikuliti, semua rasa tumpah jadi satu. Wajahnya memerah dengan tangan yang mulai basah karena keringat.


Wanita itu sedikit tergagap untuk mengeluarkan suara. Andai waktu bisa diputar satu jam lebih awal, ia hendak menarik kata-kata yang tadi terucap bak semangat empat lima.


“Oh, ehm, sa-saya minta maaf tadi udah ngomong asal, Pak,” ucap Kinanti salah tingkah. Bahasa yang ia gunakan seketika berubah formal.


Melihat kegugupan wanita di hadapannya, Aksar hanya tersenyum sekilas. Kedua tangan ia masukkan ke dalam saku celana depan.


“Please, Pak Aksar! Saya minta maaf untuk yang barusan.”


“Bukan suatu masalah! Tidak penting tentang siapa saya. Yang terpenting, saya senang bertemu dengan kamu. Terima kasih untuk kopinya.” Aksar berlalu meninggalkan pantri. Ia berjalan tanpa menoleh ke belakang, meninggalkan Kinanti yang masih terduduk di sisi meja.


Kinanti tertunduk lesu. Ingin rasanya ia menyusul Aksar untuk meminta maaf, tetapi rasa malunya masih berada di titik puncak.


Kemudian, gegas ia meraih ponsel yang tergeletak di meja, mencari nomor seseorang. Setelah itu, diketuknya ikon dial di layar ponsel. Terdengar nada tunggu berbunyi cukup lama.


“Aduh, Laras ke mana, sih? Kok, gak diangkat telponnya!” Kinanti bermonolog sambil mondar-mandir. Setelah lima kali panggilan, telepon pun tersambung.


“Ya, Emak Twin! Ada apaaa?” sahut Laras dari ujung telepon.


“Sibuk nggak?”


“Ehm ... emangnya kamu itu apa ngerti gue sibuk atau enggak?” celetuk Laras. “Biasalah, lagi nulis hasil konsultasi klien.”


“Plis, Laras. Aku butuh saran, nih!” Kinanti merengek.


Persahabatan yang terjalin sejak SMP membuat mereka seperti saudara. Meski lebih muda setahun dari Kinanti, soal cara berpikir, jelas Laras lebih unggul. Profesinya sebagai psikolog, menjadikan Laras sebagai teman bertukar pikiran bagi Kinanti.


“Iya, gue dengerin! Ada masalah apa lagi, nih?”


Kinanti mengatur ritme napasnya agar lebih teratur. Lalu, diceritakannya kepada Laras tentang pertemuan dengan Aksar dan kejadian yang baru saja ia alami.


“Jadi gimana, dong?” desah Kinanti meminta saran.

__ADS_1


“Ya, mau gimana lagi. Hadapi aja secara betina!” ledek Laras. “Ya, simpel, kamu minta maaf sama si Aksar tadi,” sambung Laras kemudian.


“Kira-kira aku harus gimana kalo ketemu dia lagi, ya? Apa pura-pura gak kenal aja?”


Terdengar kekehan Laras di ujung sana. “Ya ampun, Emak Twin. Kamu terlalu parno! Gak usah mikir yang macem-macem, ah!”


“Kalo dia ngelaporin aku ke Bu Rosalina, gimana? Aduh, mimpi apa aku semalem, bisa kejadian kek gini,” keluh Kinanti sembari memijat keningnya.


“Ya, terimalah! Nasib kerja ama orang emang gitu, ‘kan? Pokoknya kamu yakin aja. Tarik napas dulu, lalu embuskan, tenang,” sahut Laras menenangkan.


Beberapa saat setelah pembicaraan ditutup, Kinanti dapat bernapas lega. Kemudian, ia berjalan menuju ruangannya untuk melanjutkan tumpukan naskah yang sudah setengah jalan.


Kinanti kembali teringat kepada sang suami. Diambilnya ponsel yang sempat ia letakkan di dalam tas. Lagi, ia menekan angka satu agak lama, nama Surya tampil di layar ponsel.


Namun, sayangnya hingga siang ini, panggilan telepon tetap tidak terhubung. Sepertinya Surya masih sibuk dengan pasien. Kinanti baru ingat, jika semalam, suaminya memang bercerita bahwa ada anak dengan penyakit serius yang akan ditangani hari ini.


***


Aksar melangkah dengan tegap. Setelah bertanya kepada seseorang yang berpapasan di koridor, ia menuju ruangan Rosalina. Kemungkinan besar pimpinan redaksi itu sudah menunggunya lama.


Lamunan Aksar buyar saat sampai di ruangan tujuannya. Aksar mengetuk pintu. Setelah dipersilakan masuk, ia tersenyum ramah saat menyapa Rosalina yang masih betah melajang di usia 46 tahun.


“Wow! Amazing! Maaf saya cukup kaget dan tidak menyiapkan apa-apa untuk menyambut kedatangan Anda, Pak Aksar.” Rosalina menyambut kedatangan Aksar sambil menggenggam erat tangannya.


Wanita berdarah Batak itu kemudian mempersilakan Aksar duduk di kursi berbahan jati yang terletak di dekat jendela.


“Saya juga minta maaf karena datang tidak sesuai jadwal,” jawab Aksar ramah. Matanya menyapu seluruh ruangan berdinding putih.


“Suatu kehormatan bagi GrewMedia atas perhatian Pak Aksar pada kami. Maaf untuk kesan pertama yang mungkin kurang menarik.” Rosalina masih dengan senyum mengembang duduk di depan Aksar, menautkan jemarinya.


Aksar tersenyum sekilas. “Tidak masalah. Itu bukan hal besar.”


“Ini kali pertama saya bertatap muka langsung dengan Anda. Sesuatu sekali, ya. Terus terang saya sedikit nervous dengan sosok penulis yang selama ini sangat misterius di balik nama besarnya. Pantas saja banyak pembaca mengatakan jika Anda seperti tokoh fantasi dalam imajinasi mereka,” ujar wanita berwajah tirus tadi. Model rambut pixie dengan poni yang pendek sangat selaras dengan bentuk wajahnya.


Mungkin inilah salah satu daya tarik Rosalina yang membuat kebanyakan orang betah memandangnya, walau tidak dipungkiri wajah manisnya itu sangat bertolak belakang jika sudah menyangkut pekerjaan.

__ADS_1


Lagi-lagi, Aksar hanya melempar senyum mendengar apa yang Rosalina katakan.


“Hm … jadi gerangan apakah yang membawa seorang Right Man secara khusus datang hari ini? Saya berharap semoga itu kabar baik bagi Grewmedia.” Rosalina berkata penuh harap.


“Saya memang tertarik untuk mempercayakan naskah novel ketiga ke Grewmedia, meskipun ada tawaran dari penerbit lain yang jika dilihat dari nilai royalti justru lebih tinggi dari tawaran ini.”


“Saya pastikan naskah Anda berada di tangan yang tepat, Pak Aksar.” Rosalina coba meyakinkan. “Satu hal yang Pak Aksar perlu ketahui, bahwa proyek novel ketiga ini sudah dilirik oleh salah satu rumah produksi untuk dijadikan film. Anda bisa bayangkan saat cerita dari novel ini masuk dalam industri ini, jelas akan menjadi hal yang bagus di kemudian hari.”


Aksar masih belum bereaksi, terus mendengarkan penjelasan Rosalina dengan santai. Meski tanpa iming-iming hal tersebut, ia memang sudah berniat sejak awal meletakkan naskahnya ke penerbit tempat Kinanti bekerja. Semua karena satu alasan agar ia bisa lebih dekat dengan Kinanti.


Diskusi berjalan cukup panjang. Setelah mencapai mufakat, keduanya saling jabat tangan sebagai momen perjanjian kontrak untuk novel Aksar yang terbaru.


“Lantas? Apakah nantinya cerita saya akan diatur ending-nya sesuai permintaan pasar?”


“Hm … ya, bisa jadi. Bahkan, kami sudah memikirkan cara marketing seperti apa untuk novel Anda nanti. Mari kita lihat kontraknya lebih jelas.” Rosalina memberikan salinan kontrak kepada Aksar dengan semangat berapi-api.


“Terus terang saya bukan penulis yang menulis sesuai tren yang sedang booming. Saya menulis seperti yang saya pikirkan. Terserah pembaca akan berkata apa tentang saya.”


Rosalina terdiam, merapatkan kedua bibirnya. Jelas sekali ia sedikit kesulitan menebak jalan pikiran Aksar. Wanita itu memutar bola mata, seolah-olah sedang memilah kata yang akan keluar dari mulutnya. Setelah itu, ia melihat Aksar berdiri mengarahkan pandangan ke luar jendela.


“Tapi, jika memang hal ini akan banyak menarik keuntungan kedua belah pihak, mungkin akan saya pertimbangkan untuk mengubah sedikit alurnya, dengan satu syarat khusus tentunya …,” jawab Aksar sedikit menggantung.


“Syarat? Okay, jika memungkinkan dengan senang hati akan saya usahakan.” Rosalina mantap menyambut negosiasi dari Aksar.


Tentu saja wanita itu akan mengabulkan apa pun permintaan Aksar. Bayangan keuntungan yang akan didapat jika penjualan novel ketiga Aksar laris di pasaran, seolah-olah sudah menunggu di depan mata.


“Kontrak kerja ini akan saya tanda tangani di rumah. Saya akan menandatangani perjanjian kontrak tersebut dengan syarat … pastikan Kinanti Ayu yang menjadi editor naskah saya nanti. Deal?” tawar Aksar dengan mimik muka serius. Ia mengulurkan tangannya ke arah Rosalina.


“Deal!” jawab Rosalina tanpa pikir panjang. Ia menjabat erat tangan lelaki tampan itu, senyum puas terpancar dari wajahnya.


Keduanya beranjak menuju pintu keluar.


Sesaat hendak pergi, Aksar masih sempat berbalik ke arah Rosalina sambil berkata, “Satu lagi, saya mau Kinanti yang ambil kontrak tersebut di rumah saya akhir pekan ini. Saya tunggu! Terima kasih.” Aksar berlalu meninggalkan tanda tanya besar di benak Rosalina.


***

__ADS_1


__ADS_2