Tuba Semanis Madu

Tuba Semanis Madu
INDAH TERCIPTA


__ADS_3

Laras yang sedang meneguk teh hampir tersedak saat mendengar pengakuan dari Kinanti. Beberapa percikan teh menyembur dari mulutnya. Seketika air teh membasahi celananya. Terlebih lagi soal ciuman di ruang dokumentasi beberapa waktu yang lalu. Untung saja tidak mengenai berkas penting yang ada di meja. Ia beringsut dari tempat duduknya, mendekati Kinanti lalu duduk di sebelah sahabatnya itu.


“Ya ampun, Emak Twin. Kaget gue dengernya.” Laras menggeser kursi dan meraih tisu yang ada di dekat lemari, lalu mengelap mulutnya. “Gue gak akan bilang kalo ucapan elu tadi salah. Cuma kurang bener aja.” Sambung Laras sambil meletakkan tisu kotor ke tempat sampah.


Cerita Kinanti masih ia tanggapi santai. Namun, dalam benaknya, ia merasa beruntung tidak jadi menceritakan masalahnya. Sepertinya Kinanti lebih memerlukan perhatian.


“Sama aja, kali!” Kinanti mendesah seraya mengetuk-ngetuk kepala dengan ponselnya. “Aku juga sadar kalo itu salah. Makanya, tadi ngajuin ke Bu Rosalina agar naskah Aksar dipegang sama editor lain. Aku takut nanti kepincut beneran sama Aksar!”


“Emang boleh? Kamu kek gak tau aturan aja, Mak Twin, Mak Twin.” Laras bertanya sambil menggelengkan kepala.


“Gak boleh katanya! Malah aku kena semprot dia habis-habisan!”


Laras tertawa kecil menampakkan gigi gingsulnya. “Gue cuma mo kasih saran simpel. Meskipun gue pernah nikah beberapa jam dan belum punya pengalaman soal ginian. Tapi, keknya masalah elu itu cuma satu, deh! Coba elu ngobrol serius sama Mas Surya. Ini cuma perkara komunikasi aja, sih. Bilang sama dia, kalo kalian berdua, tuh butuh waktu berdua.”


Laras meraih tangan Kinanti dan menggengamnya lembut. Ia mencoba memberi rasa tenang kepada sahabatnya itu.


“Banyak pasangan seperti kalian yang terjebak dalam kungkungan rutinitas lalu pulang dalam keadaan sama-sama capek, lalu impact negatifnya malah ngerasa nyaman ama perhatian orang lain yang sekedar singgah.” Laras melipat tangan di depan dada dengan mimik muka serius. Ia paham, apa yang dirasakan Kinanti hanyalah sebuah pelampiasan karena perhatian Surya seolah-olah bak roller coaster yang menukik ke arah paling bawah.


“Tapi, aku harus mulai dari mana, Ras?” Kinanti bertanya kebingungan.


“Pergi liburan kek, dinner romantis kek, nonton bioskop atau ke mana kek. Pokoknya luangin waktu kayak jaman pacaran dulu. Anak-anak gak usah diajak, cukup kalian berdua. Mereka juga bakalan ngerti, kok.”


“Terus, soal Aksar?”


“Gak usah dihindarin. Cukup pura-pura gak respons atau alihkan topik pembicaraan jika udah ngomongin yang macem-macem. Jaga jarak dan berusaha bersikap normal bila sedang mendiskusikan naskah.”


“Cuma gitu ajakah? Emang semudah itu? Apalagi pernah terjadi sesuatu di antara kami,” imbuh Kinanti. Ia kurang puas dengan jawaban Laras.


“Iya, menurut gue, gitu aja. Gak ada yang perlu dikhawatirkan soal Aksar. Elu cuma gagap rasa aja karena kesibukan Mas Surya. Makanya jadi nge-hank. Jauhin aja! Jangan malah dipikirin. Nanti malah bucin! Pokoknya ambil waktu yang tepat buat ngobrol sama suami elu, ya,” papar Laras santai.


“Tapi, Ras. Keknya gak sesimpel itu, deh. Aku ngerasa dia udah kenal aku dari dulu. Dia tahu aku suka Celine Dion. Dia tau aku gak bisa makan kacang. Dia tahu warna kesukaanku, keknya Mas Aksar tau semuanya. Bahkan parfumnya pun sama seperti yang Mas Surya pake, Ras! Bayangkan coba!”


Sontak Laras menegakkan punggung, mengarahkan seluruh atensinya terhadap cerita Kinanti barusan. “Secret Admirer?”


“Entahlah … aku juga gak ngerti kalo emak-emak kek aku masih punya pengagum rahasia,” sahut Kinanti terkekeh.


“Emang emak-emak gak boleh charming, gitu? Body lu gak kayak emak-emak, Mak Twin! Masih semlohay di tempat yang pas.” Laras meliukkan kedua tangannya membentuk siluet gitar. Mereka tergelak dengan adegan saling cubit di antara keduanya.

__ADS_1


Ditatapnya Laras dengan seutas senyum. Kadang, ia geli dengan cara bicara Laras yang santai dan cuek terhadapnya. Jauh berbeda saat sedang menghadapi klien, sikap Laras mendadak formal, dingin, dan serius.


***


Tidak terasa dua jam sudah berlalu. Setelah pamit kepada sahabatnya, Kinanti pulang beristirahat. Ia berniat mengarahkan mobilnya ke jalur arah rumah saat pesan Whatsapp dari Arqee muncul di notifikasi ponsel. Setelah membaca pesan dari si Bungsu, ia berbalik arah menuju mal terdekat untuk membeli keperluan tugas sekolah sang putri.


Menyusuri Jalan Letkol Iskandar, Kinanti berbelok ke kiri menuju Palembang Indah Mal. Setelah menekan tombol tiket otomatis, ia mencari tempat untuk memarkirkan mobil. Matanya tertuju di satu tempat kosong di bawah sebuah pohon. Ia menempatkan kendaraannya di sana, lalu bergegas menuju supermarket di lantai dasar mal.


Baru beberapa langkah dari tempat mobilnya terparkir, netranya menangkap sosok tampan yang sedang menuruni tangga mal. Ia seperti kepayahan membawa belanjaan yang cukup banyak. Empat kantong besar masing-masing di kedua tangan dan sebuah kotak besar berada di pelukan. Setengah pandangan tertutup kotak sehingga ia memiringkan wajah untuk melihat jalan di depan.


Awalnya Kinanti hendak menghindar dan bersembunyi, tetapi usahanya tidak berhasil. Aksar sudah melihatnya lebih dulu. Lelaki itu tersenyum lebar, menampakkan deretan gigi putih ke arahnya.


“Kinan tolong saya, please!” seru Aksar dengan nada agak keras. Jarak mereka hanya dipisahkan oleh tiga mobil.


Kinanti gugup, tetapi refleks mendekati Aksar yang terlihat kelelahan membawa barang-barang tersebut. Nuraninya terpanggil untuk membantu.


“Ya, Mas. Perlu saya bawain belanjaannya?” tawar Kinanti sedikit ragu. Ia mengulurkan tangan hendak mengambil kotak dari tangan Aksar.


“Jangan, gak usah, ini berat.” Aksar berkata dengan napas ngos-ngosan. Ia bersandar di pintu mobilnya.


“Tolong ambilkan kunci mobil di saku blazer sebelah kanan,” pinta Aksar dengan wajah penuh keringat.


Tanpa pikir panjang, Kinanti mengikuti arahan Aksar. Ia merogoh saku blazer kanan lelaki itu.


“Gak ada, Mas.”


“Coba di kiri.”


“Gak ada juga, Mas.”


“Oh, sepertinya di kantong celana.” Aksar berkata lirih dengan napas tersengal.


Kinanti mengikuti arahan Aksar, menepuk kedua paha lelaki itu untuk memastikan letak kunci mobil. Mendapati di mana letak kunci yang dicari, sigap Kinanti merogoh-rogoh kantong celana kanan Aksar agak dalam.


Aksar berdeham beberapa kali untuk menutupi dirinya yang salah tingkah atas perlakuan Kinanti. Ia mendongak sembari memejamkan mata, mengalihkan getar aneh yang membuat jantungnya bermaraton.


“Dapet, Mas!” Kinanti berteriak girang seolah-olah baru mendapat undian.

__ADS_1


Pandangan mereka berserobok dan saling mengunci. Kekikukan melanda di antara mereka. Keduanya hanya dibatasi oleh sebuah kotak. Bahkan, harum tubuh Kinanti jelas tercium dari jarak sedekat ini. Mereka terdiam, tenggelam dalam desir-desir lembut yang menggelitik.


Aksar memandang Kinanti lekat dan dalam. Kinanti merona malu karena hal itu, lalu mengalihkan netranya ke sembarang arah. Ada kehangatan kecil dan aneh menjalari seluruh tubuh. Ia bingung dan salah tingkah hingga tidak tahu hendak berkata apa. Bahkan, ia teringat kejadian di ruang dokumentasi dulu.


“Kinan.” Suara Bariton lelaki itu terdengar berat dan serak.


“Ya, Mas.” Kinanti masih mematung, tersihir oleh tatapan bersorot tajam itu. Bahkan, dengan jarak sedekat ini, rambut-rambut halus yang menghiasi rahang Aksar makin mengokohkan kemaskulinannya.


Aksar memberi isyarat untuk membuka pintu mobil. Lalu, dengan gerakan cepat, Kinanti menekan tombol kunci. Setelah pintu mobil terbuka, gegas wanita setinggi 165 sentimeter pamit meninggalkan Aksar tanpa kata dengan gejolak rasa yang sempat membuncah.


Kinanti berlalu secepat kilat untuk menghindari percakapan yang mungkin saja terjadi, atau hal terlarang lain yang bisa saja terjadi lagi. Ia meninggalkan Aksar yang terus menatap punggungnya hingga dirinya masuk mal.


Aksar mengetik sesuatu di beranda miliknya. Ia meyakini Kinanti akan membaca postingan tersebut. Tidak butuh waktu lama, ribuan orang langsung menyukai puisi yang ia unggah.


Sadarkah, Wanitaku?


Aku menikmatimu dari kejauhan.


Cupid memanahku lewat senyummu.


Lantas, bagaiamana caraku untuk mengalihkan mata ini dari lekuk manis itu?


Mencintai tanpa alasan,


Tanpa koma,


Tanpa mengapa,


Tanpa tetapi,


Cintaku sederhana, tapi rumit.


RM,


Sudut Rindu.


***

__ADS_1


__ADS_2