Tuba Semanis Madu

Tuba Semanis Madu
BILA KAU JATUH CINTA


__ADS_3

Sebuah perasaan halus berdesir di dada Kinanti. Embun seketika menyapa, membanjiri gersang sukmanya. Butterfly tummy effect beterbangan, menggelitik. Meski awalnya enggan untuk mengakui, tetap saja tanpa disadari puisi Aksar membuatnya tersipu.


Kinanti membaca puisi itu berulang-ulang. Sudah lama ia tidak merasakan sensasi merah jambu seperti ini. Kali ini, matanya silau oleh sebuah rangkaian aksara.


Benarlah apa kata pepatah, hati itu banyak pintunya. Ia bisa hadir lewat sebuah raga atau bisa pula menyapa lewat perhatian manis memabukkan atma.


Kinanti mendesah sembari memejamkan mata. Entah mengapa kali ini ia tidak marah dengan apa yang dilakukan Aksar. Bayang Surya dan Aksar berlomba di pelupuk matanya. Aksar hadir saat hatinya seperti pengembara yang menemukan oase di padang tandus.


Akan tetapi, sekali lagi naluri berusaha membawanya dalam kesadaran. Ini sebuah kesalahan dan harus dihentikan. Sepertinya, ia harus segera menyelesaikan naskah Aksar lebih cepat. Dihapusnya beberapa pesan dari laki-laki itu yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan.


***


Rizal memarkirkan mobil Hatchback merah di pelataran Sriwijaya Airsoft Wargame yang berlokasi di daerah Jakabaring. Setelah menempuh jarak dua puluh menit dari rumahnya, ia segera beranjak turun dan menuju ruang ganti.


Arena bermain softgun ini adalah salah satu tempat favorit di sela rutinitas kerjanya. Tidak banyak yang tahu jika dokter muda itu memiliki hobi cukup ekstrem. Beberapa rekan sejawat pernah ia ajak untuk menikmati olahraga ini, tetapi semua dengan halus menolak permintaannya.

__ADS_1


Ia kembali melihat pesan dalam grup komunitas hobi menembaknya. Hari ini akan dilakukan kompetisi permainan antar anggota. Ini yang membuatnya antusias. Biasanya ia sekadar berlatih menembak jarak dekat.


Namun, kali ini akan diadakan permainan sukir airsoft gun. Permainan perang-perangan ini memang diadakan rutin setiap sebulan sekali. Sayangnya bulan lalu, ia absen karena jadwalnya berbenturan dengan waktu operasi.


Rizal segera berganti pakaian di ruang ganti. Tidak lama setelah itu, ia mematut diri di depan cermin untuk memastikan semua safety kit sudah terpasang rapi. Seragam loreng, penutup telinga, deker, rompi, helm, dan sarung tangan yang membalut tubuh lelaki berpostur tinggi itu jelas menambah kesan layaknya seorang tentara.


Iya, Rizal dulu memang bercita-cita sebagai tentara. Bahkan, setelah tamat SMA, ia berniat untuk mendaftar akmil. Namun, ibunya berkeinginan agar ia menjadi dokter, meneruskan profesi sang ayah. Sebagai anak tunggal, akhirnya ia menuruti keinginan orang tuanya.


Rizal melangkah keluar dari kamar ganti. Ruang gantinya berhadapan langsung dengan ruang ganti khusus wanita. Ia segera menepikan diri di lorong selebar dua meter dan membiarkan empat perempuan berseragam loreng keluar dari ruang ganti itu.


Dengan seragam militer yang serba tertutup, jelas mereka tidak mengenali satu sama lain. Hanya anggukan kepala sebagai sapaan.


Kali ini, skenario permainan mengenai pertempuran antara ******* yang menyandera dua orang tentara. Mereka dibagi menjadi dua tim yang dipilih secara acak. Rizal tergabung dalam tim penyelamat.


Sebelum memasuki arena, semua peserta melakukan tactical shooting terlebih dahulu. Beberapa papan target berjarak sepuluh meter disiapkan sebagai ajang latihan. Tidak lupa, kedua tim mengecek kecepatan tembakan menggunakan kronometer.

__ADS_1


Setelah itu, mereka segera memasuki arena outdoor di belakang gedung yang cukup luas. Benteng-benteng yang terbuat dari dinding kayu tersusun menjadi sekat-sekat tidak beraturan. Tumpukan ban dan semak-semak belukar setinggi dua meter makin membuat arena tampak nyata.


Kedua tim menyebar sesuai instruksi. Rizal mematuhi arahan sang pemimpin regu. Ia mendengarkan penjelasan taktik yang ditulis di permukaan tanah dengan beberapa batang ranting sebagai isyarat. Enam orang termasuk Rizal mulai berjalan mengendap-ngendap melewati parit-parit kecil.


Suara tembakan dari unit yang ditembakkan tim lawan, makin membuat adrenalin lelaki tampan itu terpacu.


“Go ... go ... go …!” Sang pemimpin regu berteriak dengan langkah cepat dan mengendap-endap. Pertempuran makin mencapai ******* saat desing peluru plastik yang menyentuh papan pelat besi terdengar tanpa henti.


Rizal membidik seorang tim lawan yang tampak lengah, lalu pelan-pelan menarik pelatuk M-416 yang berada di genggamannya.


“HIT!” Salah satu tim lawan tersebut sembari mengangkat kedua tangan. Tampaknya ia sedikit kesal karena dadanya telah tertembak oleh Rizal. Kemudian, anggota tersebut segera bergerak ke arah safety zone.


Rizal terkekeh girang karena usahanya berhasil menumbangkan salah satu '*******'. Beberapa rekannya juga terkena BB hingga terpaksa harus keluar dari arena. Ia bersama dua rekan yang tersisa terus bergerak maju ke arah benteng lawan.


Tiba-tiba suara rentetan peluru mengenai rompi Rizal. Ia tertembak. Konsentrasinya buyar karena pandangannya teralihkan oleh seseorang di area safety zone. Terlihat sosok Laras sedang membuka helm dan kacamata pelindung, lalu menguraikan rambut.

__ADS_1


“HIT!” teriak Rizal lantang. Meski tidak mampu menyelesaikan permainan, entah mengapa Rizal justru merasa senang.


***


__ADS_2