
Setelah memarkirkan mobil di depan gerbang, langkah Kinanti sejenak terhenti. Ia memandang sekitar, tempatnya dulu bersekolah, SMPN 24 Palembang.
Dulu, hanya ada taman bunga melingkar yang menyambut siswa di depan gerbang sekolah. Saat ini, taman itu telah bertransformasi menjadi lebih cantik. Selain ada taman bunga, di tengahnya terdapat air mancur yang mengalir dari kolam kecil.
Toilet siswa masih dibiarkan sama seperti puluhan tahun lalu, hanya catnya yang telah berganti warna. Namun, gedung kelas jelas sudah jauh berbeda. Kini, gedung sekolahnya sudah bertingkat tiga dengan lapangan yang bukan lagi tanah becek.
Kinanti menyusuri paving blok halaman sekolah menuju ruangan guru. Sambil berjalan, ia menelepon Rosalina untuk izin terlambat ke kantor. Tampak si Kembar mengekorinya. Hari ini, keduanya kompak menguncir kuda rambut mereka. Jadi, bila dilihat sekilas, mereka seperti kembar identik. Hanya tahi lalat di pergelangan tangan Arqee yang membedakan keduanya.
Di sebelah kanan jalan setapak tersebut, kerumunan anak laki-laki asyik menyaksikan dua tim bermain sepak bola. Lalu, sisi kanan dari gedung bertingkat dua dipenuhi tanaman dan bebungaan warna-warni. Dulu, hari-hari Kinanti banyak dihabiskan di lapangan itu. Bahkan, saat itu untuk pertama kalinya dalam sejarah sekolah berdiri, ketua OSIS dipimpin oleh seorang siswi. Siswi itu tidak lain adalah Kinanti sendiri.
Deretan kembang lee kwan yee menjuntai dari lantai atas, menutupi sebagian koridor kelas bawah. Membuat kesan rindang dan asri suasana sekolah. Setelah puas menikmati lanskap sekolah, mereka tiba di ruang konseling.
Seorang guru yang sudah sangat familier menunggu kedatangannya. Setelah berbincang-bincang tentang kenangan masa sekolah bersama gurunya itu, Kinanti duduk menunggu di dalam ruangan.
Di sisi lain, Mira dan Karin juga turun dari mobil Coupe merah di parkiran sekolah. Kacamata hitam berbentuk huruf D dan G dari sebuah merek ternama membingkai wajah tirusnya. Blazer hitam dipadu capri merah senada dengan warna bibir membuat penampilannya terlihat mengintimidasi. Ia dan putrinya menapaki jalan setapak yang tadi dilalui Kinanti.
Penampilan mencoloknya itu tidak urung mengalihkan perhatian kerumunan siswa yang sedang menonton sepak bola. Terdengar siulan dan keriuhan di antara mereka saat Mira dan putrinya lewat.
Namun, keduanya tidak peduli akan hal itu. Guru yang sama sudah menunggunya di depan pintu.
Di dalam ruangan konseling, suara yang tidak asing di telinga Kinanti terdengar di ujung pintu. Ia kaget melihat sosok yang ada di sana.
“Mba Mira?”
“Kamu?”
“Jadi, ini anak kamu?!” tanya mereka berbarengan.
Kinanti dan Mira sama-sama terkejut dan masing-masing terlihat menahan marah. Si Kembar duduk di samping ibunya yang memijat pelipis. Karin terlihat arogan sama seperti Mira dengan tangan dilipat di depan dada. Ia menatap sinis ke arah Sharqee.
Namun, yang dipandang, hanya memalingkan wajah ke arah jendela, sesekali membetulkan letak kacamata.
Kinanti mengatur napasnya agar tetap tenang. Ia dan Mira duduk berhadapan, sedangkan si Guru BK duduk menengahi keduanya.
“Aku gak kaget saat Arqee cerita soal teman sekelas yang dimaksud. Wajar saja jadi begitu, ternyata kamu mamanya, Mba.” Bibir Kinanti bergerak pelan dengan pandangan meremehkan.
__ADS_1
Mendengar hal itu, Mira tersulut emosi. “Gua malah gak nyangka itu anak elu. Bawaan kek perfect, ternyata anaknya barbar juga!” balas Mira tidak kalah sengit.
“Wajar kalo anak aku kek gitu, dia belain kakaknya! Adik mana yang gak marah, liat kakaknya dicaci maki. Aku gak habis pikir ada, ya, anak empat belas tahun bisa-bisanya nge-bully anak lain kek anak kamu, Mba!” Kinanti membalas omongan Mira sambil memandang sekilas ke arah Karin.
“Mommy ....” Karin bergelayut di lengan ibunya karena mendengar perkataan Kinanti.
“Sabar, Bu. Kita selesaikan masalahnya dengan kepala dingin. Tujuan saya menghadirkan Anda berdua ke sekolah untuk mencapai titik penyelesaian. Bukan malah memperuncing keadaan.” Sang guru mencoba melerai perseteruan antara Kinanti dan Mira. Meski tidak ada tanda-tanda adu jotos, aura permusuhan jelas terlihat.
“Karin, Arqee, dan Sharqee, kembali dulu ke kelas. Nanti kalian bapak panggil lagi,” sambung guru itu mendinginkan suasana. Ketiga gadis itu mengangguk patuh, lalu keluar dari ruang BK. Kini, hanya tersisa Kinanti, Mira, dan guru tersebut.
“So, what do you want me to do? Nyuruh Karin minta maaf ke anak kamu? Nope! Kamu gak liat putriku juga terluka gara-gara aksi jambak-jambakan itu, Hah!”
“Terluka karena ulahnya sendiri, Mba! Apa yang salah dengan putriku? Ia tidak mengganggu urusan anakmu. Tapi, liat kelakuan putrimu. Mengejeknya sebagai gadis dungu di depan banyak orang, lalu merobek-robek buku tulisannya.” Nada bicara Kinanti mulai penuh emosi.
“My daughter spoke the truth! Apa elu bilang, karya? Jelas anak gue jijik liat orang sok-sokan nulis cerita pake English modal gugel translate doang. Nyadar diri kalo emang gak mampu, bukan malah kepedean,” cibir Mira dengan tatapan hina.
“Mba Mira!” Kinanti berdiri mengangkat tangan seperti hendak memukul Mira. Untunglah dengan sigap diantisipasi oleh si Guru BK.
“Tenang, Bu Mira dan Kinanti. Mari kita selesaikan masalah ini secara dewasa. Untuk Bu Mira, dalam posisi ini, anak Ibu memang terbukti bersalah. Saya akan panggil mereka masuk agar saling memaafkan. Dalam hal ini, Karin harus meminta maaf kepada Sharqee terlebih dahulu,” papar pria berkulit sawo itu bijak.
“Maaf, Pak. Saya tidak terima. Putri saya juga terluka. Anak wanita ini main fisik, sedangkan putri saya cuma sekedar ngomong dungu. Masa diomongin segitu aja sudah baper. Jelas banget memang mereka cari masalah.” Mira mendengkus sambil menunjuk ke arah Kinanti.
“Baiklah, Bu Mira, kalo memang tidak ada jalan keluar walau hanya sekedar ucapan maaf, sepertinya pihak sekolah akan memberikan skorsing pada Karin jika Ibu tetap bersikukuh seperti ini.” Lelaki berkacamata itu berkata tegas.
“Silakan, Pak. Saya juga bersiap memindahkan Karin ke sekolah lain yang lebih bonafide. Permisi!” Mira berlalu meninggalkan Kinanti dan guru tersebut. Ia melangkah dengan dagu terangkat sembari memakai kacamatanya.
Guru BK menggelengkan kepala. Sementara itu, Kinanti hanya menghela napas.
“Kinanti, saya akan membahas ini dengan anak-anak. Maaf jika pertemuan kali ini tidak membawa titik terang,” ujar lelaki tersebut pelan.
Kinanti mengangguk perlahan, lalu beranjak pamit menyerahkan urusan kepada guru BK-nya semasa sekolah dulu. Lagi-lagi, ia seolah-olah merasakan déjà vu. Dulu, ia juga pernah masuk ruang BK dengan masalah yang sama karena membela Laras. Kini, ia melihat sosok Arqee dalam dirinya sedang membela sang kakak.
Lelaki yang akan mendekati masa pensiun itu mengantar Kinanti hingga ke gerbang sekolah. Setelah ini, ia berencana sedikit memberi wejangan kepada Karin dan siswa lainnya.
Tepat setelah bel istirahat usai, anak-anak masuk kelas lalu kembali ke tempat duduk mereka. Kemudian, kelas VIII B—kelas Karin dan si Kembar—didatangi oleh guru BK. Kelas yang tadi tampak riuh mendadak hening.
Sepertinya mereka sudah tahu maksud kehadiran guru BK tersebut. Perkelahian Arqee dan Karin beberapa hari yang lalu memang cukup menghebohkan sekolah.
“Selamat pagi menjelang siang, Anak-anak.” Lelaki berkacamata tersebut mengawali pembicaraan.
__ADS_1
“Pagi, Paaak,” sahut mereka serentak. Setelah itu, bisik-bisik pun terjadi di antara mereka tentang peristiwa saling jambak antara Karin dan Arqee di toilet putri.
“Kebetulan sedang jam kosong, jadi bapak punya kesempatan buat ngobrol dengan kalian.” Si Guru BK berbicara santai agar suasana kelas tidak menegangkan.
Beberapa siswa yang tadi tertunduk, mengubah posisi duduk menjadi lebih rileks. Suasana masih tetap hening dalam beberapa menit berikutnya. Hanya bunyi detak jarum jam dan suara sayup dari kelas sebelah yang terdengar jelas.
“Anak-anak, ada pepatah lama mengatakan, adab dulu baru ilmu,” kata sang guru memulai pembicaraan. Ia menghela napas, lalu melanjutkan perkataannya.
“Ingatlah kata-kata itu di mana pun kalian berada. Sepintar apa pun kalian nantinya, atau setinggi apa pun jabatan yang kalian punya, pastikan adab dan akhlak kalian jaga dan utamakan.”
Sang pendidik yang sudah berpuluh tahun mengatasi masalah kesiswaan tersebut menjeda pelan-pelan kalimatnya. Ia memperhatikan satu per satu wajah murid di kelas itu. Pandangannya terhenti kepada sosok Karin yang hanya membuang muka ke arah lapangan bola.
“Kalian adalah remaja-remaja yang bapak yakini belum terkontaminasi dengan hal-hal buruk di luar sana. Maka ketahuilah, kunci hidup tenang dan bahagia itu, sederhana. Cukup jaga hati, jaga sikap, jaga perkataan. Kalian mesti paham, akan ada orang yang sakit hati bila fisiknya dijadikan bahan tertawaan. Ada yang tersinggung bila mengungkit hal yang mungkin bagi kita adalah hal sepele. Ada yang akan merasa rendah diri bila usahanya kita caci. Jadi, jangan mudah bilang baper, gak asyik, kolot, dungu, anjay dengan siapa pun. Bisa saja memang ucapan yang kita anggap biasa, itu bagai bilah pedang yang menusuk temanmu lebih dalam. Belajarlah berempati, belajarlah untuk lebih peduli dan menghargai,” papar guru BK itu bijaksana.
Guru BK itu berjalan menyusuri lorong antar barisan meja. Derap sepatunya terdengar jelas di kelas yang mendadak hening. Sepertinya, sebagian siswa sedang meresapi nasihatnya.
“Ingatlah anak-anak, dunia ini tidak pernah kekurangan orang pintar, tapi dunia ini butuh orang beradab dan berakhlak lebih banyak. Dan bapak harap, kelak kalian menjadi orang-orang yang berakhlak baik itu. Semakin kalian rendah hati, semakin tinggi dunia menghormati. Mengerti maksud bapak, ‘kan?”
“Mengerti, Paaak,” jawab siswa kelas VIII bersamaan.
“Baiklah, Sharqee, Arqee, dan Karin. Kalian ikut bapak kembali ke ruang BK. Yang lain silakan lanjutkan pelajaran berikutnya.” Sang guru menutup pertemuan pagi itu.
Semua siswa kembali beraktivitas seperti biasa, kecuali Karin dan si Kembar. Mereka kembali ke ruang BK untuk mendapat pencerahan dari sang guru. Kemudian, lelaki itu menyuruh Karin untuk meminta maaf. Akan tetapi, gadis itu bersikukuh mempertahankan sikap angkuhnya, enggan untuk meminta maaf.
Melihat hal itu, tiba-tiba Arqee mendekat ke arah Karin. “Karin, maafkan aku. Aku juga bersalah karena udah mukul kamu,” ucapnya sambil menjulurkan tangan.
“Aku juga minta maaf, ya, Karin. Dan terima kasih karena telah memberitahuku, ehm ... meski aku sedikit tersinggung karena perkataanmu, tapi aku sadar kalo mulai sekarang aku harus lebih banyak belajar grammar biar karyaku bisa go international suatu hari nanti. Hmmm ... sekali lagi makasih udah kritik tulisan aku.” Sharqee tersenyum, lalu membawa tangan Karin ke dalam genggaman tangannya.
Melihat hal itu, hati Karin luluh. Ia merasa asing dengan perlakuan lembut yang diberikan oleh si Kembar. Sepanjang hidupnya, ia tidak pernah menerima permintaan maaf dan terima kasih yang tulus seperti ini. Bukan hal ini yang diajarkan ibunya. Matanya memerah, tertunduk lalu terisak pelan. Jiwanya yang selama ini gersang, seolah-olah disirami hujan. Hatinya mendadak hangat oleh pelukan si Kembar. Ia sadar atas sikapnya selama ini. Karin membalas pelukan gadis kembar itu lebih erat.
“Gue yang harusnya minta maaf sama kalian. I’m sorry about my behaviour, Sharqee. I’m really-really sorry, Arqee.” Karin tersedu dan berurai air mata.
“It doesn’t matter, Karin. We’re friends,” jawab Arqee tersenyum hangat.
Melihat hal tersebut, sang guru tersenyum lega. Sama seperti yang dirasakan Kinanti beberapa saat lalu, lelaki tua itu seolah-olah sedang memutar kembali peristiwa puluhan tahun lalu.
***
__ADS_1