
Ketukan pintu mengalihkan perhatian Kinanti dari layar komputer. Rosalina masuk dengan sebuah berkas di tangan.
“Apa ini, Bu?” selidik Kinanti penasaran.
“Ini data lengkap dan salinan kontrak kerja untuk Right Man.” Rosalina menyodorkan amplop pinggala kepada Kinanti.
“Wow, akhirnya saya bisa melihat data pribadi penulis best seller se-Indonesia Raya ini,” sambut Kinanti riang. “Saya penasaran seperti apa wajah yang disembunyikannya selama ini.” Kinanti tersenyum sembari mengeluarkan isi amplop.
Rosalina masih memperhatikan gerak-gerik Kinanti yang tengah membaca isi berkas. Secara pribadi, wanita paruh baya itu cukup menyukai kinerja Kinanti yang cakap dan penuh vitalitas. Ia tersenyum kecil saat melihat raut muka Kinanti berubah masam.
“Kenapa? Kamu kecewa gak nemu fotonya? Kamu pikir dia akan melampirkannya dengan mudah?” gurau Rosalina. Ia mengambil duduk di hadapan Kinanti. Lalu, tangannya terus-menerus mengetuk meja.
“Hmm, gak juga, sih, Bu. Cuma saya penasaran aja. Kenapa si Right Man gak mau mempublikasikan wajahnya dalam setiap buku yang ia tulis? Padahal, kan, banyak yang penasaran?” tanya Kinanti kalem.
“Ya, mungkin saja si Right Man lebih nyaman jika identitasnya tidak diketahui publik, apalagi dengan popularitas dia saat ini. Buku sekuelnya yang kedua, tembus empat puluh lima ribu eksemplar di minggu pertama,” papar Rosalina mantap.
Tiba-tiba pikiran Kinanti menangkap maksud pembicaraan wanita di depannya itu. “Ibu gak lagi nyuruh saya saingan sama Mba Mira buat kompetisi itu, ‘kan?” tanya Kinanti membetulkan posisi duduknya. Ia memasukkan kembali berkas tadi ke dalam amplop. Wanita berlesung pipi itu bersikap hati-hati terhadap bosnya.
Rosalina berdiri dengan mata berbinar. “Mengapa tidak?! Kamu punya potensi untuk berkembang lebih jauh. Saya baru dapat konfirmasi dari Right Man bahwa dia akan mempertimbangkan kemungkinan kerja sama dengan penerbit kita!” serunya penuh semangat.
Ia berjalan mondar-mandir di hadapan Kinanti sembari menjelaskan banyaknya keuntungan yang akan didapat bila kontrak eksklusif itu berhasil mereka dapatkan.
Berbeda dengan Kinanti yang terkesan biasa saja. Sebagai editor baru di Penerbit GrewMedia, jelas ia tidak terlalu menggangap istimewa berita besar ini. Baginya, semua penulis itu sama. Yang membedakan hanya cerita di balik perjuangan mereka. Banyak faktor yang mendukung alasan Kinanti bersikap demikian.
Pertama, editor Penerbit Grewmedia, bukan hanya dirinya. Ada tiga orang lainnya yang lebih kompeten dengan kreditibilitas dan kemampuan cukup mumpuni. Ada Sarah, Liya dan … Mira pastinya.
__ADS_1
Apalagi Mira adalah editor kepala yang notabene fans berat semua karya Right Man. Hanya membayangkan wajah wanita itu, Kinanti sudah bergidik. Bukan karena takut atau apa, ia hanya berusaha tidak terlalu berhubungan intens dengan wanita single parent tersebut. Pengalaman bertahun-tahun bekerja dalam atap yang sama, membuat Kinanti memilah-milah dan menjaga jarak dari Mira.
Kedua, pengalaman mengurasi beberapa buku best seller dari penulis ternama, justru jadi beban moral yang cukup besar bagi dirinya. Apalagi jika si penulis tidak memiliki adab dalam berinteraksi.
Masih terekam jelas dalam ingatan Kinanti saat setahun lalu menyunting naskah novel penulis pemula yang tiba-tiba karyanya meledak pada cetakan pertama. Jadi, saat sekuel novelnya masuk ruang redaksi, si penulis tersebut mulai mengabaikan beberapa catatan yang ia berikan.
Bahkan, ketika Kinanti memberi masukan tentang ejaan yang salah dan ritme cerita yang melebar ke mana-mana, si penulis merasa itu bukan masalah besar. Meski hal itu membuat kesal, ia tetap menunjukkan profesionalitas dalam bekerja. Yang membuat dahi Kinanti berkerut adalah saat naskah si penulis jelas-jelas meniru dialog dan adegan dari beberapa adegan film luar.
“Itu kerjaan editor, urusan penulis, ya, nulis aja!” si penulis berkata dalam percakapan mereka pada suatu hari.
Kinanti terperangah akan sikap si penulis itu. Memang benar kata pepatah, “Adab dulu baru ilmu” semestinya jadi pondasi dalam hal apa pun, termasuk dalam dunia kepenulisan. Karena tidak jarang, banyak sekali penulis bersikap antikritik saat tulisannya dibedah di meja editor. Istilah star syndrom memang ada benarnya. Kebanyakan penulis yang booming dengan cepat dan tidak ditempa perjuangan cenderung akan mengalami degradasi budi pekerti.
Kinanti membaca secara perlahan biodata yang ada di hadapannya. Aksar Nayaka. Nama dari penulis yang lebih dikenal dengan nama pena, Right Man.
Satu fakta yang lebih mengejutkan lagi bahwa si Right Man masih berstatus lajang! Sangat kontradiktif sekali dengan novel-novel yang ditulis.
Wanita penyuka drakor itu jadi berpikir, bagaimana si Right Man bisa sedemikian jelas menggambarkan watak dan perilaku tokoh jika si penulis sendiri belum pernah menikah dan punya anak? Padahal, dalam novel best seller miliknya itu justru mengisahkan percintaan dan drama rumah tangga seorang lelaki bersama sang istri hingga mereka menua bersama.
Kinanti meletakkan lembaran berkas tadi dengan malas. “Tapi, Bu. Kalo boleh saya memilih, saya lebih nyaman meng-handle penulis pemula, dibandingkan naskah-naskah dari penulis best seller,” tutur Kinanti pelan.
“Ada masalah denganmu, Kinanti?” tanya Rosalina menyelidik. Matanya menyipit ke arah Kinanti.
“Hmmm ... sedikit, Bu. Sebenernya saya hendak mengajukan cuti dalam dua bulan ke depan,” tukas Kinanti sambil mengerjapkan mata. Ia tampak gugup menghadapi sosok pimpinan tegas seperti Rosalina. Apalagi ekspresi Rosalina mendadak berubah lebih dingin.
“Kamu baru dipromosikan menjadi editor hari ini. Dan dengan berat hati saya katakan, bahwa untuk saat genting seperti ini kita semua tidak ada pilihan. Target kita memastikan ia menandatangani kontrak eksklusif itu. Sudah kuputuskan bahwa kamu dan Mira bertanggung jawab soal itu. Bagaimana pun caranya!” perintah Rosalina tegas.
__ADS_1
“Tapi, Bu—”
“Kita bicarakan nanti, saya mau lihat kemampuan negosiasimu lebih dalam.” Rosalina berseloroh sebelum meninggalkan ruangan Kinanti.
Kinanti menghela napas panjang. Dipijatnya pelipis kepala yang sedikit berdenyut, pusing memikirkan soal itu.
Satu jam kemudian, Kinanti beranjak ke ruangan pantri dan berniat sejenak melepas penat dengan segelas teh melati. Baginya, seteguk teh beraroma melati mampu menjadi healing tersendiri.
Kinanti masih mengaduk pelan seraya menghidu aroma minuman yang baru saja dibuat. Keadaan kantor sedikit lengang karena hampir seluruh staf sedang istirahat makan siang. Ia sengaja tidak turun saat Bena dan Sarah mengajaknya keluar.
Pikiran berkecamuk bila mengingat rumah tangganya. Jika dilihat dari luar, rumah tangga Kinanti bersama Surya bisa dikatakan harmonis. Padahal sebenarnya, ia merasa di titik jenuh paling rendah.
Kinanti mengusap-usap tengkuknya seraya memutar persendian leher. Pandangannya kosong tertuju ke luar jendela. Perlahan, wanita bertunik putih dengan celana khaki warna turangga duduk di kursi bar bulat yang ada di dekatnya.
Memiliki tubuh ramping yang terjaga meski sudah memiliki anak, Kinanti bisa dikatakan cantik dan menawan. Rambut yang tadi terurai ikal, ia gelung dalam bulatan sanggul, menyisakan seuntai rambut yang terselip di balik daun telinga. Leher jenjang berkulit putih tersibak dengan sempurna.
Blus dengan kancing atas yang tidak terkait, tanpa ia sadari menjadi pemandangan indah bagi sosok pria yang sedari tadi mengamatinya dalam diam dan tatapan tajam.
Lelaki itu tidak henti mengambil gambar Kinanti lewat ponsel yang ada dalam genggaman.
Bersambung ...
__ADS_1