Tuba Semanis Madu

Tuba Semanis Madu
BIMBANG


__ADS_3

“Seperti halnya diri, dia adalah wanita yang tidak akan pernah aku publish. Namun, namanya tidak pernah gagal hadir dalam munajat panjat Sang Pemilik Hati. Aku masih berharap takdir bisa mengubah selembar catatan langit, lalu menghapus kata “kamu dan dirinya” menjadi “aku dan kamu”.” (Right Man.)


Kutipan yang baru beberapa menit lalu diunggah dari Instagram Aksar kembali mengusik pikiran Kinanti. Ia menyesali tindakan iseng dengan niat sekadar lihat-lihat justru makin membuat hatinya terjerat. Fokus pikirannya pecah dan seolah-olah beterbangan di atas kepala akibat keelokan baris kata yang teruntai dari lelaki itu. Ia yakin, postingan itu ditujukan Aksar kepadanya


Hari ini, ia akan pulang lebih awal dengan alasan sakit kepada Rosalina. Tubuh lampainya makin tidak bersemangat setelah penolakan Rosalina tadi pagi saat ia mengutarakan untuk melepaskan naskah Aksar. Sepertinya, ia harus menemui Laras untuk menceritakan perihal Aksar kepada sahabatnya itu.


Saat hendak melangkah meninggalkan meja kerjanya, tiba-tiba Mira datang tanpa mengetuk pintu terlebih dulu. Menggunakan kaus putih dengan belahan dada rendah dipadu blazer batik warna kecubung, Kinanti akui Mira terlihat sangat cantik. Sayang, kecantikan Mira sangat bertolak belakang dengan kepribadian.


Menurutnya, Mira adalah sosok single parent yang pintar, elegan, tetapi kurang beradab. Latar belakang sebagai lulusan New York University menjadikan ia sebagai editor khusus naskah terjemahan. Bahkan, di jajaran editor senior, hanya dia sarjana lulusan universitas luar negeri. Mungkin karena hal ini juga yang membuat wanita itu congkak dan egois.


Sejak awal Kinanti bekerja di penerbit ini, aura ketidaksukaan Mira kepadanya terlihat jelas. Entah karena alasan apa hal itu bisa terjadi. Perseteruan di antara mereka kadang-kadang muncul jika menyangkut naskah. Yang jelas, Kinanti sama sekali tidak pernah memulai perselisihan dengan Mira.


Diabaikannya sorot benci yang ditujukan Mira. Bagi wanita itu, terkadang bukan hanya cinta terabaikan, kebencian yang tidak ditanggapi pun bisa menjadi tamparan sakit.


Mira mendekati Kinanti pelan. Tangan kanannya dilipat hingga menyentuh dagu. “Aku denger kamu mau ngundurin diri buat handle naskah Aksar, ya?” tanyanya penuh selidik.


Kinanti mendesah pelan, tatapannya berhenti di wajah wanita yang lebih tua tiga tahun darinya itu. “Mba Mira tau dari mana?”


“Poor you, Kinanti! Remember, I’m chief editor here, so it’s easy for me to know that,” beber Mira dengan intonasi agak tinggi.


Kepala Kinanti makin berdenyut mendengarkan celoteh Mira. “Jadi maunya Mba Mira apa? Mau ambil alih naskah itu. Silakan! Kebetulan banget kalo gitu. Aku bebas!”


“Aku maunya, sih, gitu. Sayangnya, Bu Rosalina tidak mengizinkanku mengambil alih naskah Aksar. Lucky you! Aku kadang gak ngerti apa yang dilihatnya dari editor kek kamu?” Mira mencebik sembari menuju pintu keluar.


Telinga Kinanti terasa panas saat mendengar apa yang dikatakan Mira barusan. “Jadi tujuan Mba Mira ke sini buat apa?” Kinanti menjawab ketus, lalu memandang Mira dengan tatapan tidak senang.


“Nothing! Cuma pengen buat kamu kesel aja.” Mira berkata dalam bahasa Inggris sambil meninggalkan ruangan Kinanti. Debuman pintu terdengar keras di belakangnya.


Kinanti mendengkus kesal, lalu mengempaskan majalah yang ada di tangannya. Ia memejamkan mata sejenak untuk menenangkan diri. Mood-nya makin jelek karena kehadiran Mira barusan. Setelah itu, ia meraih ponsel di dalam tas. Tertulis kontak Twin Ayu di layarnya. Kontak nama untuk Laras, sahabatnya tempat berbagi cerita sejak puluhan tahun yang lalu.


Masih ingat di benak Kinanti saat pertama masa orientasi SMP dulu.


“Kinanti Ayu.” Seorang guru memanggil namanya saat pembagian kelas. Kinanti maju ke depan, berbaris menurut arahan si Guru.


“Laras Ayu.” Guru tadi memanggil nama seorang siswi yang muncul dari barisan paling jauh.

__ADS_1


Kinanti menoleh ke arah siswa tersebut lantaran nama mereka yang ujungnya sama. Namun, siswa tersebut hanya menundukkan kepala sehingga wajahnya tidak terlihat. Tak lama saat hendak masuk barisan, kaki siswi itu tersandung batu hingga ia terjerembap di hadapan barisan siswa. Banyak yang menertawakan kejadian itu.


Akan tetapi, tidak bagi Kinanti. Ia dengan sigap membantu Laras berdiri, membersihkan roknya yang kotor oleh tanah. “Kamu gak papa, kan?” Kinanti menyapa ramah sambil mengulurkan tangan.


Laras mendongak, tersenyum meraih uluran tangan Kinanti. Sejak saat itulah, mereka berteman karib, masuk SMA yang sama, dan pergi ke kampus yang sama meski berbeda jurusan.


***


Laras masih menatap layar ponselnya, menunggu pesan Rizal yang tidak pernah ada. Seminggu sudah berlalu dari makan siang dan pengakuan Laras soal statusnya. Ia mengetuk-ngetuk ponsel ke dagu dan beringsut dari kursi menuju jendela kantor yang memang langsung menghadap jalan protokol.


Laras bersedekap, lalu mengusap-usap lengannya sendiri. Dari bayangan kaca yang memantulkan wajahnya, ia tertawa getir, menertawakan jalan hidupnya yang terlalu terjal dalam percintaan.


Bukan sekali ini saja ia merasa ditolak oleh lelaki yang mengejar cintanya. Setelah kepergian sang suami, satu hati pernah singgah. Namun, kemudian menghilang saat tahu dirinya adalah seorang janda. Banyak orang tidak menyangka karena penampilannya memang tidak menyiratkan secara jelas status itu.


Apalagi meski seorang janda, ia masih perawan suci. Fakta inilah yang Laras belum ungkapkan kepada lelaki yang akan mendekatinya. Ia masih terus menguji, seberapa tulus lelaki yang akan jadi pendamping hidupnya nanti. Yang memang siap menerima kekurangannya secara utuh.


Tidak lama, ponselnya kembali bergetar. Sebuah pesan dari Kinanti yang mengatakan akan mengunjungi kantornya satu jam lagi. Wanita berparas putih langsat itu menarik napas lega. Sepertinya, ia butuh pelampiasan untuk menceritakan tentang kebimbangan hatinya.


***


“Sibuk gak, Bro?” Rizal langsung mengempaskan diri ke bed pasien yang ada di seberang meja Surya. Gaya bicaranya langsung berubah santai saat mereka hanya berdua. Rizal dan Surya sudah cukup lama saling kenal. Keakraban mereka terjadi karena keduanya berada dalam satu program jurusan saat menempuh PPDS.


“Gak juga. Kenapa, Zal? Bersitegang lagi sama mama kamu?” Surya yang sudah hafal dengan perilaku Rizal sengaja menebak.


“Gak secara langsung, sih! Tapi, ya, ngarahnya ke sana juga!”


“Ortu jangan diajak rebut terus. Mumpung masih ada, turutin aja apa mau mereka.”


“Ya ini juga udah usaha untuk nurutin kemauan mama.”


Surya menoleh ke arah Rizal. Sedetik kemudian, ia melepas kacamata dan mulai mendengarkan cerita sahabatnya. Surya melirik jam di pergelangan tangan. Pukul 12.15 WIB.


Masih banyak waktu, batin Surya.


Tadinya, lelaki itu berniat memberikan istrinya kejutan dengan mengajak makan siang. Namun, ia memutuskan untuk menunda kepergiannya sepuluh menit lebih lama demi mendengarkan cerita Rizal.

__ADS_1


“Aku punya gebetan, dan keknya aku dah yakin banget suatu saat nanti bakal ngelamar dia. Cuma ….” Rizal menggantungkan ucapannya untuk sekadar menunggu respons Surya.


“Terus,” ucap Surya singkat.


“Ini yang bikin aku ngedrop! Tadinya aku dah seneng banget kalo Tuhan akhirnya denger doa aku. Wanita itu bener-bener tipe idaman aku banget, Bro! Tapi, ternyata … aaargh!” Erangan putus asa terdengar cukup kuat dari mulut lelaki yang lebih cocok jadi model iklan ketimbang dokter tersebut. Rizal menangkupkan wajah di balik kedua tangan. Kemudian, pandangannya kosong menatap langit-langit.


“Ternyata?” Surya coba mengulang ucapan Rizal untuk menuntaskan ceritanya itu.


“Dia janda …,” desahnya sembari mondar-mandir di hadapan Surya.


“Kalo dia janda, emang salah?”


“Hah … entahlah! Awalnya aku juga berat menerima kenyataan ini. Berusaha nolak hal itu. Cuma akhirnya aku paham dan mencoba tidak mempermasalahkan hal ini. Jalan takdir orang kan berbeda, kalo memang bagian aku memang udah ditulis nikah sama janda, ya, aku terima!”


“Kalo memang itu bukan lagi permasalahanmu, lantas apa yang membuat frustrasi, Zal?” Surya menopang wajahnya dengan tangan kiri, lalu mengetuk-ngetuk meja kerja dengan tangan yang lain. Kemudian, ia menjeda pembicaraan saat ponselnya bergetar. Pesan dari Kinanti terpampang di notifikasi Whatsapp. Rencana makan siangnya hari ini tertunda karena Kinanti mengatakan bahwa ia akan pulang lebih cepat.


“Mama … mamaku, Bro! Beliau maunya aku dapet gadis, bukan janda!”


Tiba-tiba Surya tersadar dengan arah pembicaraan Rizal dan coba menerka.


“Ngomong-ngomong, kita gak lagi ngomongi Laras temennya Kinanti, ‘kan?”


***


Kinanti mengetuk pintu ruangan Laras. Udara sejuk dari pendingin udara menerpa wajahnya. Laras menoleh sekilas. Wanita lajang dengan rambut ikal kecokelatan mirip seperti Kinanti itu masih berkutat dengan beberapa lembar laporan.


Selesai dengan pekerjaannya, ia meletakkan bolpoin ke tempat semula. Sebelum menghampiri Kinanti, ia meminta asistennya untuk membuat minuman. Tak berselang lama, sang asisten masuk dan menghidangkan dua cangkir teh hangat.


Kinanti duduk di sofa biru yang berada dekat jendela. Sambil *******-***** kedua tangan, ia menceritakan soal Aksar.


Laras mengurungkan niat awalnya untuk bercerita tentang kegundahan hatinya. Sepertinya, waktunya tidak tepat. Ia diam mendengarkan cerita Kinanti dan memberi komentar.


“Jadi, apa yang elu rasain sekarang, Emak Twin?” Laras meraih cangkir di meja, kemudian menyesap manis sepat teh kesukaannya.


“Keknya kamu harus jadiin aku klien secara formal, deh. Sepertinya, aku mulai menikmati perhatian dari Aksar, Ras!”

__ADS_1


***


__ADS_2