Tuba Semanis Madu

Tuba Semanis Madu
SEHARUSNYA KITA


__ADS_3

Kinanti pulang terlambat karena harus mengambil mobilnya di bengkel. Sesampainya di teras rumah, ia mematikan mesin mobil, tetapi enggan beranjak turun.


Sejenak terdiam di dalam mobil, ia memandangi sekeliling rumahnya. Rumah lantai dua kombinasi cat cokelat tua dan muda itu telah mereka huni sepuluh tahun silam. Tampak mobil SUV hitam metalik milik suaminya terparkir dalam garasi.


Waktu menunjukkan pukul 19.00 WIB saat Kinanti tiba di rumah. Setelah menekan kata sandi di gagang pintu, terdengar bunyi bib sehingga pintu terbuka otomatis. Seketika rasa penat yang melandanya menghilang saat aroma masakan menggoda indra penciuman. Ia meletakkan tas kerja di sofa, lalu menuju dapur.


“Hallo, gadis-gadis mama yang cantik.” Kinanti menyapa kepada remaja kembar 14 tahun yang sedang duduk menikmati hidangan.


“Mamaaa,” sahut mereka serentak. Gegas, keduanya berdiri menyambut Kinanti dan berebut untuk memeluknya lebih dulu.


“Mama kok lama? Biasanya pulang jam lima,” celetuk Sharqee, sulung yang lebih tua lima belas menit dari kembarannya.


“Mama tadi ada pekerjaan tambahan, makanya agak telat.” Kinanti mencolek hidung Sharqee.


“Tau, nih, Kak Sharqee. Padahal Arqee yang bungsu, kok malah dia yang lebih manja, ihhh.” Arqee pun ikut memeluk ibunya.


“Udah, biarin mama kalian makan dulu.” Sarma turun dari lantai dua. Mertua Surya itu masih terlihat anggun di usianya menjelang enam puluh tahun.


Surya menoleh dan tersenyum hangat kepadanya. Sarma segera mengambil sepanci sup yang dimasak oleh menantunya.


Kinanti mendekati Surya yang sedang mencuci tangan. Dipeluknya lelaki bercambang tipis itu dari belakang. Ada rasa nyaman saat ia menghidu aroma tubuh suaminya. Creed Green Irish Tweed, dengan aroma dedaunan khas makin membuat Kinanti betah berlama-lama memeluk lelaki yang telah menikahinya selama 15 tahun.


“Mas...,” desah Kinanti pelan.


Sharqee dan Arqee hanya tersenyum melihat kebiasaan ibu mereka. Bagi keduanya, sudah terbiasa melihat kemesraan di antara orang tua mereka.


“Hmm ....” Hanya gumaman pendek yang terdengar dari bibir Surya. Setelah mencicipi rasa dari masakan terakhir yang ia racik, Surya melepas celemek hitam, mematikan kompor lalu berbalik menghadap Kinanti.


“Ya, Honey. Gimana kerjanya hari ini?” tanya Surya. Ia mengelus pipi Kinanti dengan lembut.


“Lumayan ....”

__ADS_1


“Lumayan capek, ya?” Surya berbisik. Lelaki itu membiarkan sang istri berlama-lama memeluknya. “Maaf, mas tadi gak sempet bales chat dan gak nelpon Honey seharian ini.”


“Sesibuk itukah sampe gak sempet reply Whatsapp Kinan?” Nada merajuk manja diucapkan oleh Kinanti.


“Seharian ini, mas dihadapkan dengan kondisi pasien anak usia sepuluh tahun yang menderita leukimia, Honey.”


Kinanti diam mendengarkan suaminya bercerita. Percakapan di meja makan terus mengalir oleh cerita tentang sekolah kedua putrinya.


Mereka sesekali tertawa saat Arqee mempraktikkan tugas dari sekolah.


Semestinya saat Surya meliuk-liukkan tangan bercerita atau memandangnya ketika bercengkerama dengan si Kembar adalah hal yang patut Kinanti syukuri. Namun, entah mengapa tetap saja ada ruang kosong di hatinya.


***


Masih dalam balutan kimono, Kinanti keluar dari kamar mandi. Wanita itu mengeringkan rambutnya yang setengah basah dengan handuk. Setelah itu, ia lilitkan handuk kecil tadi ke seluruh rambut hingga membentuk sanggul. Leher putih berjenjang menunjukkan lekukan pundaknya.


Surya bergeming, duduk berbaring di ranjang, dan masih tenggelam dalam bacaannya. Perlahan, Kinanti berjalan mendekati. Dengan tatapan menggoda, Kinanti naik ke pangkuannya, melepas kacamata baca yang membingkai wajah Surya.


“Kenapa, Honey? Kamu kok tumben hari ini agak manjaan,” tutur Surya lembut. Ditariknya Kinanti ke dalam pelukan. Kecupan singkat mendarat di bibir Kinanti.


“Kinan kangen Mas.”


“Lah, emangnya mas pergi ke mana kok pake kangen-kangen segala. Kan, mas di sini.” Surya memainkan rambut istrinya.


“Kinan kangen Mas seperti awal nikah dulu. Mas Surya yang romantis, perhatian, dan sering ngajak traveling,” sahut Kinanti pelan.


Surya tersenyum mendengarkan celotehan istrinya. Ia sangat memaklumi watak Kinanti yang terlahir sebagai anak tunggal dan terkadang sifat manja bisa hadir tiba-tiba saat terbawa suasana. Pikirannya kembali teringat pada waktu setelah mereka melewati malam sakral pengantin belasan tahun silam.


“Pokoknya nanti, mau berapa aja anak kita, mau berapa pun umur kita, Kinan maunya dipanggil ‘Honey’ aja.”


“Iya, Kinan Honey Sayang ....”

__ADS_1


Ingatan masa lalu yang selalu membuat Surya bersyukur memiliki wanita seperti Kinan. Meski terkadang sifat manjanya muncul, tetap saja Kinanti bisa dikatakan sosok pekerja keras. Kepergian sang ayah menghadap Ilahi semasa kuliah, membuatnya belajar hidup mandiri bersama ibunya. Untung saja tabungan yang diwariskan sang ayah mampu menopang biaya kuliahnya hingga lulus.


Surya menyadari kesibukan kerjanya setahun terakhir ini menggerus kebersamaannya dengan Kinanti. Lelaki berhidung mancung itu kembali menarik istrinya dalam pelukan. Ia mengecup dan membelai kepala Kinanti.


“Nanti setelah pengobatan pasien yang mas tangani selesai, mas janji kita akan traveling. Itung-itung sekalian ngerayaian anniversary kita yang kelima belas.” Surya meletakkan jurnalnya ke nakas.


“Anniversary, kan masih lama. Enam bulan lagi, Mas. Kinan maunya bulan depan kita pergi liburan.”


“Ya mau gimana lagi, Honey. Mas cuma bisa memperkirakan kita punya waktu sekitar itu. Lagian, emangnya Honey udah ngajuin cuti?”


Kinanti menggeleng lesu.


“Pasti gak di-ACC sama Bu Rosalina, ‘kan?”


Kinanti hanya mengangguk pelan. Surya kadang gemas saat tingkah manja istrinya muncul.


“Honey kan baru dipromosiin naik jabatan, pasti beban kerja makin banyak. Akan sulit kalo ngajuin cuti.” Surya memijat lembut pundak sang istri.


Kinanti hanya mendengarkan penjelasan Surya, menatap mata sang suami dengan wajah memelas.


“Ayolah, Honey. Sabar sedikit lagi, ya. Demi masa depan anak-anak kita.”


“Tapi, Mas—”


“Sssttt,” bisik Surya. Telunjuknya menyentuh mulut Kinanti. Ia menangkup kedua sisi wajah istrinya, mesra.


Kinanti yang berada di bawah pelukan Surya hanya menunggu dengan perasaan damba.


“Saat ini Honey cuma butuh ini.” Surya membaringkan Kinanti dengan suara serak.


Dipadamkannya seluruh pelita yang menerangi ruangan kamar. Hanya tersisa siluet dua tubuh yang menyatu di langit kamar.

__ADS_1


***


__ADS_2