Tuba Semanis Madu

Tuba Semanis Madu
APA YANG KAU CARI


__ADS_3

Surya menatap layar ponsel di genggaman. Ada yang tidak biasa dari sikap Kinanti. Biasanya, wanita itu akan merengek dan menanyakan kepulangannya jika ia pergi ke luar kota. Kinanti juga akan minta beragam oleh-oleh dan foto-foto kegiatan dirinya selama pergi.


Namun, kali ini semua kebiasaan itu hilang bahkan tidak satu pun telepon dari Kinanti dalam notifikasi. Yang ada justru panggilan teleponnya dialihkan dan bernada sibuk saat ia hendak menelepon Kinanti.


Sebagai suami, Surya tidak menampik kenyataan bahwa Kinanti tipe wanita pekerja keras. Tidak jarang, Surya kadang mendapati sang istri sedang menatap buku dan foto masa wisuda saat masih mengurus anak-anaknya dulu. Enam tahun pertama usia si Kembar yang membuatnya harus menunda karier.


Kali ini, Surya merasa sikap Kinanti berubah bukan karena pekerjaan. Ia merasa hubungannnya dengan Kinanti semakin bergeser ke arah yang tidak ia inginkan.


Surya membenak, apa ada pria lain yang mengisi hari-hari Kinanti yang kosong karena kesibukannya?


Masih dalam perjalanannya ke Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Surya kembali mengunjungi akun milik Aksar. Entah kenapa pikirannya segera tertuju kepada penulis itu. Kali ini, laki-laki berkulit sawo matang itu tersentak dengan sebuah puisi yang diunggah Aksar di media sosial.


Bukan Tentang Ikatan.


Jika cinta tentang ikatan


Maka Romeo dan Juliet


Harusnya tak kita kenal


Dan tumbuh dalam ingatan


Mereka saling mencintai


Tanpa ikatan resmi


Jika cinta adalah ikatan


Maka Zainudin dan Hayati

__ADS_1


Tak akan abadi


Dalam kisah


Tenggelamnya


Kapal Van der Wijk


Mereka saling mencintai


Sebelum ada ikatan resmi.


JIka cinta adalah ikatan


Tak mungkin ada perceraian


Cinta bukan tentang ikatan


Mengorbankan diri


Dan menerima segalanya.


RM, Sudut Rindu.


Surya masih mengulang-ngulang makna puisi tersebut. Walau dirinya termasuk tipe pria dengan logika seratus persen, sedikit banyak ia mengerti makna puisi Aksar. Laki-laki yang suka berkebun itu menggenggam erat ponsel berlogo kelopak bunga merah itu. Guratan urat leher terlihat jelas dari ekspresi kemarahan yang tertahan.


Honey, mas ingin percaya, tapi kalo kenyataannya kek begini ….


__ADS_1


***


Kinanti dan ibunya sedang menyajikan hidangan istimewa untuk menyambut kedatangan Surya dari luar kota. Ibu dan anak itu masih terus membicarakan keseharian si Kembar dan kegiatan merajut yang diikuti oleh Sarma. Percakapan terhenti sejenak saat Surya masuk.


Lelaki itu terus melangkah menuju lantai atas. Tidak ada senyum yang terulas dari wajah tampan itu, hanya tersisa lelah karena padatnya kesibukan. Kinanti tertegun melihat sikap sang suami.


Setengah jam berikutnya, ketiganya duduk melingkari meja makan yang berbentuk lingkaran. Ada rasa kesal dalam diri Kinanti saat pandangan Surya masih saja tertaut di layar ponsel. Lelaki itu masih sibuk membalas chat dalam sebuah grup yang berisikan rekan sejawat.


Belum sempat Kinanti menanyakan tentang cerita sang suami selama di luar kota, laki-laki itu kembali disibukkan dengan panggilan dari ponsel. Wajahnya kusut dengan dahi mengerut.


Kinanti memejamkan mata, lalu menghela napas. Hatinya meredut melihat Surya masih juga membawa urusan pekerjaan ke rumah.


“Ibu panggil si Kembar dulu, ya.” Sarma beranjak, berusaha paham akan situasi anak dan menantunya. Ia bergegas meninggalkan dapur menuju kamar si Kembar.


Surya mondar-mandir di depan wastafel sambil menerima telepon. Ia berdecak, lalu mengembuskan napas dengan kasar, kesal dengan jawaban dari si Residen.


“Apa!? Leukimia? Gimana hasil BMP-nya ?” tanya Surya sedikit cemas. Ia menyugar rambut ikalnya. Perhatian tertuju kepada penjelasan si Dokter Jaga. Wajahnya tegang menanggapi pembicaraan seseorang di ujung telepon.


Tiba-tiba Sharqee menuruni anak tangga, mengejar Arqee yang membawa sebuah buku.


“Arqeee, balikin buku kakak!” Ia menjerit seraya mencoba meraih buku harian berwarna keunguan di tangan Arqee.


Arqee balik menjerit saat sang kakak mencubit pinggangnya.


“KALIAN BISA DIEM GAK!” Suara Surya menggema. Ia emosi karena pembicaraannya terganggu ulah Sharqee dan Arqee.


Seketika si Kembar tertegun. Untuk pertama kali, Surya menghardik mereka seperti itu. Tidak ada jawaban dari mereka. Sharqee menitikkan air mata, merajuk karena bentakan papanya.


Arqee hanya memandang kosong ke arah Surya. Keduanya serentak berlalu, kembali ke kamar.

__ADS_1


Kinanti menatap Surya kosong dengan pikiran berkecamuk, ada rasa tidak nyaman atas sikap Surya tersebut.


***


__ADS_2