
Sudikah kiranya Bu editor makan siang bersama saya?” Aksar menawarkan diri sambil mengenggam lengan kanan Kinanti.
Kinanti melirik tangan Aksar dan sedikit merasa risi.
Aksar yang menyadari hal itu, dengan cepat melepaskan. “Maafkan, saya refleks gak sengaja.” Aksar berdiri salah tingkah.
Rona muka Kinanti menunjukkan rasa tidak suka terhadap sikapnya barusan.
“Maaf, Pak Aksar. Kita tidak punya ikatan khusus untuk makan siang bersama. Saya harap masing-masing kita tetap berada pada jalur profesionalitas pekerjaan!” tegas Kinanti.
Kinanti membuang pandangan ke arah lain. Ia enggan memberikan perhatian kepada Aksar. Suasana hatinya sedang tidak baik setelah mendapat telepon dari Surya.
Mendengar apa yang diucapkan Kinanti, Aksar mundur satu langkah. Raut kesedihan terlihat di wajah persegi itu. “Maaf andai hal itu membuat kamu tidak berkenan. Saya cuma sekedar menawarkan diri, gak bermaksud lain,” lirihnya sembari menangkupkan kedua tangan.
“Maaf saya sedang tidak enak badan, terima kasih atas tawaran makan siang Anda. Permisi!” tampik Kinanti, lalu meninggalkan Aksar sendirian.
Aksar mengangguk dan hanya bisa memandangi lekuk tubuh wanita cantik itu hingga menghilang di balik pintu gedung.
“Kali ini, kita tidak punya ikatan khusus, Kinan. Tapi, tunggu saja, ‘kan kubuat kau jatuh cinta hingga tergila-gila,” gumam Aksar sambil menyeringai. Ia memakai kembali kacamata hitamnya sebelum menuju mobil. Setelah itu, ia meninggalkan pelataran GrewMedia.
***
“Benaaa!” teriak Laras melambaikan tangan.
Bena menoleh, lalu berjalan menghampirinya.
Suasana restoran dengan nuansa tradisional dipilih oleh Laras untuk makan siang mereka hari ini. Selain karena restoran baru dibuka seminggu lalu, konstruksi kayu dan desain interiornya memberikan kesan cozy, tetapi juga alami.
“Elu paling pinter kalo cari tempat makan, Ras!” Bena duduk di depan sahabatnya itu.
“Hmm, cocok dengan selera elo, ‘kan? Sono, selfie di sono, nah!” Laras memonyongkan mulutnya menunjuk ke satu tempat di pojok restoran yang terlihat lebih menarik untuk dijadikan spot berfoto.
__ADS_1
“Ah, elu tau aja gue suka yang beginian!” seru Bena yang segera beringsut. Ia menuju tempat yang lebih banyak didominasi perabot dan aneka hiasan berbahan kayu.
Laras hanya tersenyum melihat Bena melakukan swafoto di antara hiasan dan peralatan makan serba tradisional. Penerangan kekuningan yang menghangatkan mata, menjadikan hasil foto sang sahabat lebih apik. Itu terlihat dari postingan Instagram Bena tidak lama setelah gadis itu berswafoto.
Sebenarnya usia Bena lebih muda di antara Kinanti dan Laras. Bahkan, awalnya Laras tidak mengenal Bena. Hubungan mereka tidak seperti Laras dan Kinanti yang memang terjalin sejak puluhan tahun lamanya. Bena yang notabene rekan kerja Kinanti, berkenalan dengan Laras pada suatu makan siang saat hari ulang tahun Kinanti. Karena satu frekuensi dan sama-sama paham karakter masing-masing, sejak lima tahun lalu mereka bertiga berteman karib.
Meski Laras tidak berada dalam satu tempat kerja, persahabatan mereka terjalin cukup kompak. Bagi Laras, Bena yang berusia tiga tahun lebih muda, ia anggap seperti adiknya sendiri. Walau sikap Bena yang sampai saat ini masih saja memanggil namanya dan Kinanti dengan nama langsung tanpa embel-embel ‘Mba’.
Tanpa mereka sadari, dari kejauhan seorang laki-laki yang juga sedang menikmati makan siang, sejak tadi memperhatikan mereka. Namun, laki-laki tersebut lebih cenderung memperhatikan sosok Laras yang lebih kalem dibanding Bena. Lelaki pertengahan 30-an itu masih terus mengunyah makan siangnya dengan pelan. Ia terus memperhatikan Laras yang sedang berbincang dengan Bena.
Sesekali pandangan ia lemparkan ke arah ruas jalan agar tidak terlalu dicurigai karena terlalu memperhatikan gerak-gerik wanita itu.
Ini bukan kali pertama Rizal bertemu dengan Laras. Seminggu yang lalu, di sebuah rumah makan tidak jauh dari rumah sakit tempatnya bekerja, ia melihat Laras makan sendirian. Awalnya, wanita itu tidak terlalu menarik perhatian, sampai ketika Laras selesai menikmati hidangan. Pelan tetapi pasti, wanita berambut sepunggung itu merapikan semua piring kotor bekas makanan. Menumpuk dan meletakkannya di tengah meja hingga memudahkan pramusaji mengangkat dalam sekali waktu. Kondisi meja makan pun bersih sama seperti saat ia datang karena wanita itu mengambil beberapa tisu dan mengelap meja hingga bersih.
Sebelum Laras meninggalkan rumah makan, sekali lagi Rizal terpesona dibuatnya. Saat melewati wastafel tempat mencuci tangan yang kerannya sedikit terbuka sehingga air mengalir, langkah Laras terhenti sejenak demi menutup keran tersebut. Setelah memastikan tidak ada lagi air keluar, barulah wanita itu meneruskan langkah dengan sedikit menunduk dan tidak memedulikan orang-orang di sekitar.
Jelas saja itu sangat menarik perhatian Rizal. Di zaman yang hampir kebanyakan orang meninggikan gengsi dan menguapkan rasa peduli, ia masih menemukan sosok wanita hangat penuh empati. Sayang, sosok Laras saat itu berlalu cepat dan membuatnya kehilangan jejak.
Tuhan seolah-olah memberikan anugerah secara tiba-tiba. Ini bukan lagi suatu kebetulan. Bisa jadi ini pertanda dari Tuhan tentang jodohnya.
Rizal terus memperhatikan Laras. Keinginan berkenalan dengan gadis itu makin membulat saat ia melihat Laras menutup siku meja dengan tangan untuk melindungi wajah Bena yang tertunduk mengambil sendok yang jatuh. Walau gerakan itu tanpa disadari Bena, Laras tetap saja memegang sudut meja hingga sang sahabat kembali ke posisi semula. Rizal makin percaya Laras berkepribadian baik walau hanya selintas pikirannya.
Bagaimana cara aku berkenalan dengannya? pikir Rizal sedikit putus asa.
Akan sangat mencurigakan jika ia tiba-tiba datang ke sana, lalu mengajak mereka berkenalan. Yang pasti, bukan kontak telepon yang ia dapat, melainkan pandangan sinis dan antipati dari mereka karena tidak saling kenal.
“Ya, Tuhan, please. Bantu aku sekali lagi.” Rizal bergumam sembari mengusap-usap wajahnya.
Tidak lama berselang, pandangannya beralih ke arah pintu masuk dan berserobok dengan pemilik mata yang sangat ia kenal.
“Kinanti!” sapa Rizal sembari melambaikan tangan.
__ADS_1
Kinanti membalas lambaian tangan sembari berjalan ke arahnya. “Loh, Kak Rizal? Sama siapa ke sini?” Kinanti tersenyum.
“Aku sendirian. Kamu gak bareng Surya?” Rizal berdiri hendak menarik kursi untuk Kinanti.
“Tadinya, sih, mau makan siang bareng. Ternyata ada operasi mendadak.” Kinanti mengedarkan pandangan ke penjuru restoran.
“Jadi ke sini sama siapa?” Lelaki berpostur 175 sentimeter tersebut kembali bertanya.
“Tuh! Mau makan bareng temen kantor, Kak!” Kinanti menunjuk ke meja tempat Laras dan Bena duduk. Kedua sahabatnya melambaikan tangan serentak ke arahnya.
“Jadi mereka temen kamu, Kinanti?” tanya Rizal memastikan. Seutas senyum terbit dari wajah persegi itu. Jantungnya seakan-akan ingin melompat keluar saking senangnya mendengarkan fakta tersebut.
Sepertinya Tuhan baru saja menjawab doanya. Namun, pikirannya segera menduga-duga. Jika mereka teman kerja Kinanti, otomatis kedua wanita itu pasti telah memiliki suami. Seketika ia mendadak lesu.
Ya Tuhan, please bantu aku sekali lagi, ujar Rizal dalam benaknya.
“Kakak mau aku kenalin ke mereka? Mereka belum punya pasangan, kok!” Kinanti menggoda sambil tersenyum kepada teman sejawat sang suami. Sedikit banyak Kinanti tahu dengan latar belakang Rizal dan liku-likunya mencari pasangan hidup.
“Sepertinya itu hal yang menarik.” Tanpa pikir panjang, Rizal segera berdiri sambil mengulum senyum. Ia berjalan mengikuti langkah Kinanti menuju meja Laras dan Bena.
***
Rizal Davino Atmaja.
Entah mengapa nama itu sejak makan siang tadi terngiang-ngiang di benak Laras. Ia masih memandangi pantulan dirinya di depan cermin meja rias. Ia duduk, lalu mengeringkan rambut dengan handuk yang tersampir di pundak.
Sekilas, ia menoleh ke arah jam dinding di meja tidur. Pukul 20.30 WIB, belum terlalu malam untuknya membaca beberapa halaman novel.
Sembari memiringkan kepala dan masih mengeringkan sisa air di ujung rambutnya, pikiran wanita itu kembali teringat kejadian siang tadi. Ia terkejut saat Kinanti datang bersama seorang laki-laki yang bisa dikatakan cukup tampan.
Laras masih terus teringat ekspresi Rizal saat menjabat tangannya. Senyum lebar lelaki keturunan Tionghoa itu sedikit mencairkan hatinya yang lama beku karena kehilangan sosok suami yang 13 tahun lalu meninggal tepat tiga jam setelah akad pernikahan.
__ADS_1
***