Tuba Semanis Madu

Tuba Semanis Madu
SEMAKIN JAUH


__ADS_3

Surya berjalan tegap melewati bangsal-bangsal RS. Siloam Sriwijaya. Langkahnya diiringi beberapa juru rawat yang membawa map hasil visite-nya pagi ini. Laki-laki keturunan Iran itu mempunyai pesona luar biasa sehingga tiap kali ia berjalan bersama para perawat, tidak sedikit orang akan memberikan jalan atau berhenti sejenak untuk sekadar menatapnya.


Sesampainya di ruang kerja, ia melihat beberapa panggilan masuk dari Kinanti. Pesan WhatsApp dari Kinanti ia baca lebih dulu. Pesan yang berisi ajakan makan siang hari ini. Namun, pesan itu hanya dibaca tanpa sempat dibalas karena beberapa pasien menyita perhatiannya.


Surya masih memperhatikan hasil electroencefalogram (EEG) pasien anak yang mengalami kejang-kejang. Satu dari lima perawat yang kesemuanya perempuan meletakkan rekam medis pasien ke meja. Surya mengambil map hijau, kemudian membukanya dan mencocokkan dengan data di layar komputer. Ia memperhatikan hasil rekaman bergaris-garis itu cukup lama.


“Arus ion dalam neuron otak mengalami abnormal. Ada indikasi gangguan fungsi otak pada regio frontosentrotemporal kanan,” jelas Surya kepada beberapa asistennya.


Dokter muda itu terus menjelaskan diagnosisnya yang diikuti oleh anggukan mereka, beberapa di antaranya mencatat di buku saku masing-masing.


“Jadi, adakah kemungkinan pasien ini berpotensi mengalami epiloptogenik, Dok?” Si perawat berkacamata yang berdiri paling kanan bertanya sambil mencatat di buku catatan.


“Kemungkinan besar, iya. Tapi, kita akan rujuk ke bagian neurologi terlebih dahulu. Mungkin setelah itu, lewat MRI terlihat lebih jelas sumber penyakitnya.” Surya menjawab sembari menulis beberapa terapi obat sebagai pencegah kejang.


Setelah menulis diagnosis visite semua pasien rawat inapnya, para perawat meninggalkan Surya di ruang praktik. Sekilas, ia melirik penunjuk waktu di pergelangan tangan kiri. Masih ada waktu lima belas menit sebelum jadwal praktiknya di poliklinik dimulai.


Ia mengambil handphone dari balik saku sneli, lalu mencari nama Honey dan mengetuk ikon dial di layar, mencoba menelepon ulang panggilan Kinanti sejam lalu. Tidak butuh waktu lama, nada sambung diangkat.


“Ya, Mas. Gimana, bisa makan siang hari ini?” Kinanti langsung pada inti pembicaaran tanpa basa-basi.


“Ya, Honey. Mau di tempat biasa atau di mana?” Surya meletakkan telepon genggam di antara telinga dan bahu. Tangannya masih sibuk menandatangani sejumlah rekam medis pasien.


“Ke River Side aja, deh. Kinan lagi pengen seafood, nih.”


“Okay. Dua jam lagi mas jemput, ya. Tapi, kamu ingatkan mas lagi setengah jam sebelumnya.”

__ADS_1


“Okay. Kinan tunggu, ya, Mas.”


“Iya. Sekarang mas break dulu, ya. Bentar lagi jadwal poli. Bye.”


Surya memutuskan sambungan, lalu mendesah panjang membiaskan rasa lelahnya pergi. Ia merentangkan tangan dan kaki untuk mengendurkan otot-otot yang sedikit tegang. Ia beringsut dari kursi, lalu mengedarkan tatapan ke luar jendela.


Tidak lama, ia berbalik arah menyapu pandangan ke ruangan 4x6 meter yang telah ditempati selama tujuh tahun terakhir. Interior yang didominasi warna ungu muda setrip putih, membuat ruangannya berbeda dengan ruang poli yang lain.


Sebagai seorang dokter anak, tentulah ruang kerjanya harus dibuat semenarik mungkin. Bahkan, beberapa ornamen seperti gantungan awan dan pelangi di atas bed pemeriksaan, alat pengukur tinggi badan dari kartun jerapah, Surya sendiri yang menatanya.


Untuk sentuhan akhir, wallpaper bermotif kartun menghiasi sisi kanan ruang praktik, berpadu dengan ratusan buku yang berjejer rapi dalam rak putih. Surya berharap ruangannya terkesan ramah anak agar tidak terlihat menakutkan seperti saat ia dirawat sewaktu kecil dulu.


***


Kesibukan Surya di rumah sakit benar-benar membuatnya harus bersabar untuk mencari waktu senggang. Ia menelepon Surya, mengingatkan tentang kencan mereka hari ini, tetapi panggilan terputus. Sepertinya, Surya sedang terhubung dengan panggilan lain.


Kinanti terus melangkah menuju lobi kantor.


Setengah jam berlalu, Surya masih belum dapat dihubungi. Beberapa karyawan yang akan keluar istirahat siang berpapasan dengannya.


“Elu, gak jadi pergi bareng suami elu, Kin?” Sosok Bena tiba-tiba muncul dari pintu keluar.


“Ini lagi nunggu Mas Surya jemput. Tapi, kok lama, ya? Apa dia lupa, ya?” Kinanti menggerutu dengan sedikit frustrasi.


“Kena macet kaliii. Elu tunggu aja, gue cabut duluan, ya. Berhubung elu mo pergi berdua, gue mo kongkow di resto baru bareng Laras, nih!” Bena berlalu sambil melambaikan tangan menuju mobilnya.

__ADS_1


“Lah, kok, kalian berdua janjian gak ngajak-ngajak!”


“Udah, elu sama suami elu aja, gih!” Gadis itu berlari-lari kecil sambil sekilas tersenyum, lalu menghidupkan klakson mobil saat berpapasan dengan Kinanti yang masih berdiri menunggu.


Tidak lama berselang, pucuk dicinta ulam pun tiba. Handphone Kinanti berdering, tertulis nama Surya di sana. Kinanti berjalan menuruni undakan lobi, berjalan menuju sebuah mobil SUV hitam metalik yang telah terparkir di depannya. Ia mendekati mobil itu, tetapi tiba-tiba langkahnya terhenti karena suara Surya di ujung telepon,


“Ya, Mas—”


“Honey, maafkan mas, ya. Ada SC Cito. Cuma mas dokter anak yang stand by di sini untuk menemani dokter obgyn. Kita atur ulang makan siangnya besok, ya. Mas break dulu, ya.” Nada di ujung telepon terdengar buru-buru.


“Tapi, Mas ....”


Sambungan telepon terputus, menyisakan gumpalan kecewa dan mengusir asa yang tadi sempat singgah. Kinanti mengira mobil SUV hitam tadi milik suaminya. Bahkan tadi, ia sempat melambaikan tangan ke arah mobil tersebut. Namun, telepon barusan menegaskan bahwa itu bukan mobil Surya.


Setelah itu, kaca jendela kiri depan mobil turun dengan pelan. Aksar melepas kacamata hitamnya di balik kemudi. Lelaki itu tersenyum. Senyumnya hangat secerah mentari.


Kinanti tertegun, kehadiran Aksar seolah-olah menjelma menjadi bayang-bayang Surya. Parfum yang sama, mobil yang serupa, panggilan yang sama, dan senyum yang sama. Entah apalagi kesamaan mereka berdua yang nanti akan ia temui.


Wanita bertunik saliwah itu mundur beberapa langkah hendak berbalik menaiki undakan lobi. Melihat hal itu, gegas Aksar turun berlari ke arah Kinanti, berusaha menahan wanita itu.


Lengan kanan Kinanti tertahan oleh genggaman tangan Aksar. Lagi-lagi, mereka berpandangan. Ada degup tak biasa yang berdetak di dada Kinanti.


Terlebih saat Aksar berkata, “Kinan, kenapa menghindar? Sudikah kiranya Bu Editor makan siang bersama saya?”


***

__ADS_1


__ADS_2