
Laras menepuk-nepuk pundak sahabatnya. Ia memapah Kinanti menuju sofa di ruang tengah yang memang langsung terhubung dengan pintu depan. Ia mematikan TV yang sedang menayangkan adegan So Ji Sub bersama Shi Min Ah sedang berolahraga bersama. Ia masih memeluk dan menenangkan Kinanti.
Dibiarkannya sahabatnya itu menangis untuk beberapa saat.
Tidak lama kemudian, mengalirlah segala cerita yang sedari tadi menyesakkan dada Kinanti. Kinanti pun menceritakan tentang apa yang terjadi antara dirinya dengan Aksar.
“Jadi, elo kissing sama Aksar sampe berkali-kali? Ya Ampun, Mak Twin, ini beneran lo udah nyerempet kejauhan,” seloroh Laras sedikit terkejut. Ia tidak menyangka dengan pengakuan sahabatnya itu.
“Aku tau ini salah, Ras. Tapi, entah mengapa aku justru menikmati itu. Sepertinya aku sudah mulai gila karena situasi ini.”
“Lo gak gila, Mak Twin. Cuma lagi gak waras aja! Sepertinya, Aksar cuma sekedar tempat pelampiasan kekesalan lo ke Surya,” jelas Laras berusaha meringankan beban Kinanti.
Kinanti diam membisu, lalu mendesah perlahan. “Aku harus gimana, Ras?”
“Baiklah, besok gue nyuruh asisten buat masukin jadwal lo dan Mas Surya ke sesi konseling khusus,” imbuh Laras menenangkan.
“Apa Mas Surya mau diajak diskusi kek gitu, Ras?” tanya Kinanti ragu.
“Sebisa mungkin lo usahakan, biar masalah rumah tangga kalian gak ngerembet ke mana-mana.”
“Makasih, ya, Ras. Untung ada kamu ....” Kinanti berkata lirih sambil merangkul erat sahabatnya.
Suasana pun kembali ceria. Wajah Kinanti tidak lagi muram seperti pertama kali datang. Disesapnya teh melati yang disediakan Laras hingga tidak bersisa.
“Jadi, lo mau nginep atau pulang? Udah jam sepuluh nih. Mending pulang aja, deh, kasian si Twin. Udah papanya sibuk di rumah sakit, eh emaknya malah jalan-jalan kelayapan.” Laras berseloroh sedikit terkekeh.
__ADS_1
“Iya, iya, aku balik sekarang. Thanks udah jadi pendengar setia aku, Ras. Aku pulang dulu, ya.”
Sekali lagi, keduanya saling berpelukan. Namun, sebelum Kinanti beranjak dari duduknya, Laras menahan tangan wanita itu.
“Gue tau sebenernya gak tepat kalo mo ngasih tau hal ini sekarang. Apalagi lo lagi ada masalah sama Mas Surya. Tapi, gak papa kan kalo gue mau liatin ini ….” Laras menggerak-gerakan jemari tangannya, menunjukkan cincin yang tersemat di jari manis.
“Kamu dilamar? Sama siapa? Kok aku gak tau, sih! Please, Ras, Sejak kapan kamu nyimpen rahasia sama aku?” Kinanti memegang telapak kiri Laras sembari memanah tatapan merajuk.
“Gue bukannya gak mau kasih tau lo. Cuma tiap elo ke sini bawaannya banyak masalah terus. Gue jadi gak enak curhat soal Kak Rizal.”
“Jadi, yang ngelamar kamu Kak Rizal?” Kinanti masih tidak percaya.
Hanya anggukan kecil berkali-kali sebagai jawaban Laras. “Dia udah tau semuanya? Trus, gimana respon mamanya?”
“Alhamdulillah meski awalnya ada penolakan dari Tante Diana, akhirnya beliau merestui hubungan kami.”
“Di situlah poin pentingnya. Jadi, pas pertemuan kedua, saat makan malam yang gue siapin di rumah, gue baru ceritain kalo gue masih perawan.”
“Trus gimana reaksi Kak Rizal?” Kinanti terkekeh membayangkan respons sejawat sang suaminya tersebut.
“Doi kek dapet jackpot! Ngerasa gak percaya, sujud syukur memeluk ibunya. Keduanya mengharu biru. Bahkan, Tante Diana segera beranjak memelukku, mengucapkan terima kasih yang tak henti.”
“Kenapa? Kok gitu?”
“Ya mereka memegang erat kepercayaan turun temurun di keluarga, jika anak tunggal gak boleh nikah sama wanita bukan perawan. Nanti rezeki keberuntungan mendadak pergi.”
__ADS_1
“Zaman sekarang masih ada yang percaya kek gituan.”
“Entahlah, namanya juga orang tua. Makanya, kata Kak Rizal pas awal dia bahas tentang gue sama Tante Diana, jelas ibunya menolak keras hubungan kami.”
“Jadi, kok bisa Tante Diana merestui hubungan kalian?”
“Kata Kak Rizal, dia merajuk, ngambek gak pulang-pulang, nginep di mana-mana. Bahkan, ngancem Tante Diana kalo gak akan nikah selamanya kalo bukan dengan gue.” Ada senyum bahagia yang terlihat di wajah Laras saat menceritakan hal itu.
“Aku ikut seneng. Jadi, kapan kalian menikah?”
“Dua bulan lagi!” jawab Laras mantap.
“Selamat, ya, Ras. Aku seneng banget dengernya.”
Keduanya kembali berpelukan erat sebelum Kinanti pamit.
Kinanti mengesampingkan dulu persoalannya yang sedang mendera. Sebagai sahabat Laras, ia harus menghadirkan seluruh hati dan perhatiannya kepada wanita itu. Setelah Laras mengantarnya ke depan pintu, dengan langkah gontai, ia berjalan menuju mobilnya yang terparkir paling ujung.
Kinanti masih terpekur, bersandar di depan kemudi. Ia memejamkan mata, menengadahkan kepalanya yang terasa berat.
Bayangan Surya melintas sejenak. Ia mendesah pelan membayangkan cerita cinta yang mulai membeku. Setelah itu, muncul bayangan Aksar dalam benaknya.
Wanita yang memakai dress bunga selutut itu mendesah pelan, menikmati momen yang sempat terjadi di antara mereka.
Kinanti tahu ke mana dirinya akan pergi malam ini.
__ADS_1
***