
“Ayo, om dokter periksa perutnya dulu, ya.” Surya berjongkok memegang stetoskop. Di hadapannya telah duduk anak perempuan berusia lima tahun dengan keluhan sakit perut.
Tangisnya masih saja menggema sejak si Anak dan ibunya masuk. Wajahnya tegang dan terlihat ketakutan. Tidak sedetik pun ia melepaskan pelukan sang ibu.
“Qila gak mau disuntik, Nda. Takuuut ....”
Surya tersenyum, seketika dirinya memainkan peran saat melihat boneka beruang dalam pelukan anak tersebut.
“Hai, beruang Teddy, kamu sakit perut, ya. Om periksa ya, dus ... ndus ... ndus ....” Surya berkata ramah sambil menekan stetoskop ke perut boneka tersebut.
Tangis bocah itu terhenti.
“Tuh, kan gak sakit. Sekarang, giliran Qila. Om dokter periksa, ya. Ndus ... ndus ... ndus ...,” kata Surya dengan suara yang dibuat-buat.
Seketika bocah itu tertawa karena tingkah lucu Surya. Setelah mendapat pengobatan, bocah tersebut keluar bersama sang ibu sambil tertawa melambaikan tangan kepada Surya.
Perhatian dan kepedulian dari Surya selalu menembus perasaan para pasien. Itu juga salah satu alasan poli selalu penuh antrean pasien saat ia bertugas. Apalagi ia tidak segan menyapa pasien anak yang berpapasan di koridor. Pembawaannya hangat dan menyenangkan sehingga disukai banyak orang.
Jam menunjukkan pukul 12.00 WIB, Surya menghela napas panjang, lalu menggeliat mengendurkan ototnya. Poli yang sedari pagi tadi ramai pasien kini tampak sepi. Dua asistennya beranjak pamit makan siang.
Tinggal Surya seorang dalam ruangan, duduk berpangku tangan dan merenungkan perkataan Kinanti semalam. Ia sadar perkataannya semalam adalah hal yang salah. Sepertinya kali ini ia akan pulang untuk meminta maaf. Bahkan, ia merencanakan untuk pergi menonton sebagai upaya menebus kesalahan.
Surya memutar-mutar bolpoin di antara jemari, lalu untuk kesekian kalinya membaca tulisan di punggung bolpoin tersebut.
PT. Birendra Bintang Utama.
Di samping tulisan tadi, terdapat gambar tiga bintang dengan garis oval mengelilingnya. Bintang di tengah berukuran lebih besar dibanding dua bintang yang mengapit. Itu adalah logo perusahaan milik papinya. Dalam laci meja kerjanya masih ada beberapa lagi bolpoin serupa.
Ingatannya menjelajah ke belasan tahun silam, mengumpulkan mozaik kenangan antara dia dan papinya.
“Mengapa kamu tidak memilih jurusan yang papi sarankan?” Papi Surya membuka percakapan.
Mereka berjalan beriringan di padang rumput hijau lapangan golf Bagus Kuning, sebuah lapangan golf di daerah Plaju.
Surya hanya berdiri, tidak mampu berkata-kata. Deru angin Sungai Musi menerpa lembut wajahnya. Ia masih takut untuk menjawab alasannya memilih kuliah kedokteran dan mengabaikan jurusan yang dipilihkan oleh papinya.
Pandangannya sesekali jatuh ke arah pabrik PUSRI yang ada di seberang sungai, lalu memperhatikan gerak-gerik papinya yang sedang mengayun-ayunkan tongkat.
Dua orang caddy setia membawa golf bag milik laki-laki yang masih menyisakan sisa-sisa ketampanan masa muda. Lelaki perlente itu meletakkan bola golf di atas tee lalu memukulnya dengan keras, bola melambung tinggi dan jatuh hingga puluhan meter dari tempat mereka berdiri.
“Menjadi dokter pekerjaan yang mulia, Pi. Aku ingin mengabdi sambil beribadah. Ada kepuasan tersendiri ketika melihat orang tersenyum bahagia saat mereka berangsur pulih,” tutur Surya.
Dan aku ingin menyelamatkan nyawa orang-orang dari kecelakaan, lanjutnya dalam hati.
__ADS_1
Betapa ia dengan jelas mengingat detik-detik terakhir kepergian sang mami tepat di hadapannya.
“Memangnya, menjadi seorang pebisnis tidak bisa mengabdi dan beribadah?” cemooh papinya menyeringai.
“Bukan begitu, Pi. Tapi, keinginanku lebih besar untuk menjadi dokter ketimbang meneruskan bisnis papi.” Surya menjawab pertanyaan papinya dengan pandangan tegas.
“Ya, ya, ya. Baiklah, papi akan lihat bagaimana kamu bertahan dengan pilihan yang kamu buat.” Papi Surya mengetuk ujung tongkat golf dengan telunjuknya. “Jika memang kamu meyakini pilihanmu itu, kamu juga harus terima konsekuensinya.” Lelaki berkumis tebal itu mengayunkan tongkatnya dengan kuat. Bola memantul tinggi hingga kejauhan.
“Konsekuensi? Konsekuensi apa, Pi?”
“Papi tetap bertanggung jawab untuk semua biaya kuliah kedokteran kamu. Tapi, untuk biaya hidup, silakan kamu berusaha sendiri dan angkat kaki dari rumah, berusahalah dengan kemampuanmu sendiri. Papi penasaran, apakah kamu masih bisa tersenyum bahagia menghadapi kerasnya hidup di luar?” ujar papinya. Lelaki itu lalu meninggalkannya mematung seorang diri.
Surya terdiam. Ada yang bergejolak dalam darah mudanya. Tantangan dari sang papi membuatnya lebih berapi-api untuk membuktikan hal tersebut.
Bertahun-tahun kemudian, Surya berhasil membuktikan bahwa ia mampu menjalani hidup layaknya seorang anak rantau.
Papinya benar-benar tidak memberikan uang penunjang hidup. Alhasil, berbagai kerja sampingan seperti menjadi guru privat, membuka jasa pengetikan skripsi, hingga jadi tukang fotokopi telah ia jalani.
Setelah diwisuda, ia kembali ke rumah hanya sekadar untuk menunjukkan keberhasilan kepada papinya.
“Selamat, Nak. Kau memang tangguh layaknya prajurit. Tak sia-sia papi memberimu nama, Surya Rahandika.” Laki-laki tua itu menepuk pundak Surya. Kemudian, ia mengeluarkan dua kotak berbeda ukuran. Satu kotak hitam panjang berukuran 20x15 sentimeter, satu lagi kotak kecil beludu hitam, lalu menyodorkannya kepada Surya.
“Apa ini, Pi?” Surya menerima kotak itu dengan rasa penasaran.
“Buka saja.”
Surya membuka kotak besar terlebih dulu. Sebuah bolpoin emas bertuliskan nama perusahaan papinya ada di sana.
“Pi, aku baru saja jadi dokter. Aku bahkan belum merasakan bagaimana pekerjaan ini secara utuh, malah aku berencana akan mengambil spesialis setelah ini.”
“Sudah papi duga, kamu pasti akan menolak permintaan papi.” Seringai laki-laki tua itu terlihat mendominasi.
Surya menunduk, lalu mengambil kotak kecil yang ada di meja, lalu membukanya. “Cincin? Cincin apa ini, Pi?”
“Cincin pertunanganmu. Kali ini, jangan kamu tolak permintaan papi. Karena jika tidak, akan kupastikan namamu tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk menjadi dokter spesialis!” Papinya menggertak dengan sorot mata mengancam.
“Pi, ini bukan jaman Siti Nurbaya lagi. Aku mau memilih pasangan hidupku sendiri.” Surya beranjak dari kursi, lalu berbalik menatap foto keluarga mereka yang terpatri di dinding ruang keluarga. Ada rasa sendu saat ia melihat senyum maminya. Andai saja mami masih ada, mungkin dia akan membelaku di depan papi.
Papi Surya mendekati putranya dengan langkah pelan. Ia mematikan ujung cerutu ke asbak kayu di meja. Bau asapnya masih tercium di sekitar tubuh lelaki tua itu. Setelah itu, papi Surya mengambil amplop cokelat dari dalam lemari.
“Ini, bukalah! Papi yakin kau akan berubah pikiran setelah melihat gadis yang akan jadi istrimu itu,” imbuh lelaki itu.
Surya menerimanya dengan enggan. Namun, rasa enggannya itu langsung menguap saat ia melihat foto gadis yang dimaksud. Beberapa lembar foto seorang gadis berkacamata menyihir pandangannya. Ia memandangi tiga foto itu tanpa berkedip.
Sepertinya kali ini, ia harus mengakui bahwa pilihan papinya bukan hal yang buruk. Kali ini, ia berterima kasih kepada laki-laki itu karena mempertemukannnya dengan Kinanti.
**
__ADS_1
Hari ini, Surya pulang lebih cepat karena berencana menyiapkan makan malam spesial untuk Kinanti. Ia ingin membuat kejutan kepada wanita yang paling ia cintai itu. Apalagi seperti yang ia tahu bahwa hari ini Kinanti harus ke sekolah untuk mengurus masalah perkelahian si Bungsu Arqee.
Sarma terkejut dengan kepulangan menantunya yang lebih awal dari hari biasa. Wanita paruh baya itu cukup terharu dengan apa yang akan dilakukan sang menantu.
Kemudian, pasangan mertua dan menantu mengambil bahan-bahan dalam lemari es untuk membuat masakan kesukaan Kinanti. Surya sangat hafal dengan semua resep masakan rumahan favorit anak dan istrinya. Sarma hanya membantunya mengupas bawang dan membersihkan bumbu. Sisanya, Surya sendiri yang mengerjakan.
Dari balik punggung sang menantu, Sarma menatap Surya penuh haru. Tidak henti ia mengucap rasa syukur atas perjodohan yang dilakukan almarhum suaminya. Ia merasa Surya mirip dengan sang suami. Meski seorang tentara berpangkat, ayah Kinanti tidak segan membantunya memasak dan mengerjakan urusan rumah tangga.
Hal itulah yang membuat Sarma betah menjanda sepeninggalan sang suami. Ia tidak ingin sosok laki-laki lain menggantikan kenangan manis di antara mereka.
Awalnya Sarma sempat meragukan perjodohan tersebut karena keduanya belum mengenal satu sama lain. Lagi pula, saat Kinanti masih berkuliah dulu, pernah ada seorang laki-laki yang datang berkunjung ke rumah mereka.
Laki-laki itu enggan menyebutkan nama dan hanya mengaku sebagai seorang teman kampus Kinanti. Kedatangan teman kampus sang putri itu pun tidak lama. Laki-laki atletis itu hanya mengantarkan sebuah bingkisan. Walau terkesan tertutup, Sarma tahu jika anak laki-laki itu memiliki ketertarikan kepada Kinanti.
Satu setengah jam berkutat di dapur, beberapa hidangan sudah tersaji di meja makan. Sayur asem dengan jagung manis yang melimpah, ikan nila goreng, serta sambal geprek kencur daun jeruk sudah tertata rapi.
Surya mengibas-ngibaskan tangannya yang cukup perih akibat rasa pedas dari cabai yang ia ulek. Setelah itu, ia melepaskan apron hitam miliknya, lalu menata semua hidangan tersebut secara apik.
Deru mesin mobil milik Kinanti terdengar pelan memasuki garasi. Ia cukup heran melihat SUV milik sang suami terparkir di garasi. Glabelanya berkerut memikirkan alasan sang suami pulang lebih awal karena hal itu sudah sangat lama tidak terjadi.
Si Kembar turun dari mobil lebih dulu, lalu menuju lantai atas untuk mengganti seragam mereka. Mereka tidak sabar setelah melihat papa mereka telah menunggu di depan meja makan. Kinanti menutup mulut dan terharu dengan apa yang dilakukan Surya. Tidak dipungkiri, hatinya cepat sekali meleleh dengan hal sederhana seperti ini.
“Kinan, yuk, cuci tangan dulu. Kamu pasti udah capek seharian ngurusin anak-anak.” Surya mendekati sang istri, lalu mengambil tas kerja yang masih dipegang Kinanti.
“Dalam rangka apa ini, Mas?” Mata Kinanti berkaca-kaca menyiratkan keharuan.
Surya mengangkat tangan Kinanti, lalu perlahan mengecupnya.
Sarma yang ada di dapur segera beranjak naik menyusul si Kembar. Ibu kandung Kinanti itu tidak ingin mengganggu suasana romantis yang sedang berlangsung di antara anak dan sang menantu. Ia ingin memberikan waktu lebih lama bagi keduanya untuk berbicara.
“Maafin mas kalo semalem mas nyakitin hati Honey. Maaf kalo selama ini mas terlalu sibuk dengan pekerjaan di rumah sakit.” Keduanya berpelukan, Surya mengecup kening dan membelai rambut sang istri dengan lembut. Walau tanpa kata mesra, pesona Surya tidak surut di hadapan Kinanti.
“Kinan juga minta maaf kalo semalem jadi ngomong ninggi sama Mas.” Kinanti berkata lirih dalam pelukan sang suami. “Hmm, rasanya nenangin banget kalo nyium tubuh kamu, Mas,” sambungnya memejamkan mata. Kinanti menikmati detik-detik yang menyenangkan itu.
Setelah makan malam selesai, Kinanti dan Surya menuju balkon kamar mereka, meninggalkan Sarma dan si Kembar yang asyik menonton TV. Keduanya bercengkerama membahas segala hal yang belum sempat diceritakan selama ini. Dua cangkir teh melati sudah tandas diteguk keduanya. Malam makin beranjak larut, sedangkan bulan masih tetap bulat sempurna menemani.
Sesekali gelak tawa terdengar dari bibir Kinanti. Terkadang butuh sedikit bumbu pertengkaran untuk lebih merekatkan suatu hubungan. Kedua tangan mereka saling bertaut, Surya menatap sang istri lekat.
Entah siapa yang memulai lebih dulu, bibir mereka bersentuhan, bertaut, dan saling mengecap. Surya menekannya dengan lembut dan hangat, mengalirkan rasa rindu yang makin menuju puncak.
Surya berdiri dan sedikit membungkuk untuk meraih tubuh Kinanti dan membopongnya ke ranjang di belakang mereka. Kedua lengan Kinanti melingkar erat di lehernya. Ia membaringkan tubuh sang istri dengan hati-hati, lalu sejenak beranjak mengunci balkon dan menutup tirai jendela.
Kinanti menunggu dengan perasaan damba.
Surya menuju sisi lain tempat tidur, menarik tubuh Kinanti agar berada di atasnya. Debar jantung keduanya sudah tidak keruan saat menikmati malam penyatuan yang berakhir dengan peluh memabukkan.
Kinanti tersenyum dalam pelukan sang suami. Ia seolah-olah mendapati sebuah rasa yang sejenak hilang. Disusuri lekuk tubuh sang suami yang terlelap setelah pergumulan panas tadi. Betapa ia mencintai Surya. Bayang Aksar yang sekilas hadir segera ia enyahkan.
__ADS_1
Imajinasi dan perasaan aneh yang sempat menjalar saat ia memikirkan Aksar seketika menghilang. Mumpung belum terlalu dalam pengaruh cinta sesaat, ia berjanji tidak akan bermain rasa di belakang sang suami.
***