
Sejak hari itu, hubungan Kinanti dengan Aksar makin akrab. Dengan alasan pekerjaan, komunikasi mereka makin intens. Terlebih lagi wanita itu merasa mendapatkan muara perhatian dari Aksar.
Perhatian yang hilang dari Surya. Suaminya makin disibukkan oleh berbagai kegiatan di rumah sakit. Tak jarang, Surya tidak pulang dan lebih memilih menginap di rumah sakit.
[Honey, maafin mas gak bisa pulang, ya. Satu pasien memerlukan perhatian lebih, mas takut kondisinya drop pas mas gak ada.]
Jika beberapa waktu lalu Kinanti akan kesal menerima pesan bernada seperti itu, tetapi tidak untuk kali ini. Ia merasa biasa saja. Entah mengapa asanya kian melemah dan berusaha ikhlas tanpa batas dengan kesibukan Surya.
Biasanya Kinanti rela menunggu kedatangan sang suami di balkon kamar hingga larut malam. Namun kali ini, ia tidak mengacuhkan embusan rindu yang menyeru. Kinanti berusaha mengubur kesenduan hingga kesepian membiasakannya dalam rasa yang mulai berjarak.
[OK, Mas. Jangan lupa istirahat, ya.]
Kinanti tidak beranjak tidur. Ia tetap duduk di balkon kamarnya malam ini. Disesapnya secangkir latte manis nan gurih dengan perlahan. Ia menengadah menatap langit malam, merebahkan punggung dengan pikiran yang berkecamuk.
Entah mengapa bukan wajah sang suami yang muncul dalam pikiran, melainkan wajah lelaki lain. Wajah lelaki yang akhir-akhir ini sering membuatnya tergelak dan tersenyum manis karena puisi romantis.
__ADS_1
Kinanti meraih ponsel yang tergeletak di meja. Kini, jemarinya menari menyusuri laman akun Instagram Aksar. Disusurinya page akun dengan nama pena Right Man. Ia terus menggulir beranda akun penulis itu. Ribuan foto yang diunggah didominasi tulisan dan gambar abstrak dengan kutipan kalimat di dalamnya.
Sesekali ia menampakkan siluet bayangan tubuh sehingga kesan misterius makin melekat kepadanya. Namun, hingga detik ini tidak banyak yang mengetahui jati diri asli seorang Aksar Nayaka. Mungkin itu yang jadi alasan agar memudahkan dirinya pergi ke mana pun tanpa pernah takut dikenali.
Kinanti terus saja menggulir layar hingga di unggahan paling awal. Ia tidak menyadari sudah berjam-jam lamanya menikmati rangkaian kata yang dituliskan lelaki itu.
Kemudian, notifikasi WA muncul di layar.
Saya terkejut pas liat notifikasi beruntun karena dapet tanda cinta dari Kinan :)
Kinanti terkejut membaca pesan tersebut, terlebih lagi saat lelaki itu mengirimkan hasil tangkapan layar yang memperlihatkan respons dari akun miliknya.
Maaf, cuma iseng aja.]
Kilah Kinanti berusaha menutupi malu. Ia memang sengaja mencuri perhatian laki-laki itu malam ini.
__ADS_1
[Gak masalah. Tapi, itu akun publik. Cek notifikasi IG Kinan, barusan saya follow lewat akun pribadi :)]. Balas Aksar sembari mengirimkan sebuah nama akun yang jauh berbeda dengan akun IG sebelumnya.
Kinanti dengan sigap kembali menyusuri akun asli lelaki tersebut. Ratusan foto segala aktivitasnya ada di sana.
Matanya berhenti di sebuah foto Aksar yang sedang setengah berendam dalam sebuah jacuzzi. Ia cukup terperangah dengan tato di tubuh lelaki itu.
Untuk sesaat, Kinanti merasa kehilangan napas. Jantungnya berirama tidak karuan. Sebuah pikiran kotor merasuki alam sadarnya.
Ya Tuhan, tolong pudarkan pesonanya di mataku, batin Kinanti sambil memejamkan mata.
Percakapan mereka terus berlanjut hingga malam kian larut. Pembahasan naskah novel menjadi salah satu celah Aksar agar dapat berbincang lama dengan Kinanti.
Kinanti tertawa getir, merasa masygul. Tuhan tidak sedang bermain dadu, tetapi takdir membawanya dalam pusaran lucu. Sekarang, ia benar-benar terusik di antara rasa bersalah dan sebuah rasa euforia.
__ADS_1
Bersambung...