
Kinanti terbangun jam lima pagi. Ia mengerjap, lalu meraba sisi tempat tidur Surya yang sudah kosong. Ia melirik jam di dinding, lalu mendengkus kesal.
Hari masih sangat pagi, tetapi Surya sudah tidak ada di sisinya. Ia mendesah pelan, menekuk kaki, lalu memeluk kedua lutut. Pikirannya menerawang, kosong.
Kemudian, ia beranjak menuju jendela kamar dan berdiri mematung cukup lama. Terkadang, jauh di lubuk hatinya, ia merindukan kemesraan bersama Surya seperti pada awal pernikahan.
Bayangan Surya yang sedang memeluknya dari belakang sembari membisikkan kata cinta di telinga membuatnya tersenyum miris.
Kenangan lain muncul seperti saat mereka sedang berkebun bersama.
Surya seolah-olah mencium kaus yang apek hingga dirinya penasaran lalu ikut membaui. Ternyata sejurus kemudian, saat ia mencium kaus, Surya justru mengecup keningnya tiba-tiba. Jika mengingat hal itu, ia sering tersenyum sendiri dibuatnya. Ketukan di pintu kamarnya membuyarkan lamunan.
“Mama,” panggil Sharqee dari balik pintu. Kemudian, dengan mata yang masih setengah terpejam, ia menuju ke arah Kinanti lalu memeluknya.
“Kenapa, Sayang? Tumben pagi-pagi udah minta dipeluk,” tutur Kinanti lembut. Diusapnya kepala si Sulung yang memang terkesan lebih manja dibanding adik kembarannya.
“Mau dipeluk aja, Ma. Masa dipeluk juga mesti pake acara tumben-tumbenan, sih.” Sharqee masih terus bergelayut manja.
Kinanti menghidu aroma parfum bayi dari tubuh sang putri. Hal ini cukup menenangkannya.
“Ayo, kita mandi dulu terus bantuin Oma masak,” ajak Kinanti diikuti langkah sang putri.
Setelah mandi, gegas Kinanti menuruni tangga. Ia mencari keberadaan suaminya. Namun, yang terlihat hanya ibunya yang sedang makan nasi goreng.
“Bu, Mas Surya pergi jam berapa?”
“Jam empat tadi, Nak. Pas dapet telepon dari rumah sakit, dia langsung bergegas. Ada pasien kritis katanya,” jawab Sarma.
Kinanti hanya menghela napas, sebenarnya sudah lama ia tidak menikmati pagi bersama sang suami. Enam bulan terakhir, Surya berangkat kerja lebih awal dan hanya sesekali pulang sore. Selebihnya Kinanti menunggu di depan jendela hingga lewat tengah malam. Itu pun terkadang penantiannya berakhir sia-sia karena Surya tidak pulang dan lupa mengabarinya.
“Kinanti manasin mobil dulu, ya, Bu.” Kinanti berlalu menuju garasi.
Begitulah rutinitas keseharian yang Kinanti jalani. Sebelum pergi ke kantor, ia mengantar anak-anaknya sekolah, lalu pulang. Rutinitas yang sering kali menimbulkan rasa jenuh di benaknya. Terkadang, ia ingin keluar dari kungkungan itu, tetapi entah kapan hal itu akan terjadi.
Untunglah, Sarma selalu berada di sampingnya. Jadi, ada tempat untuknya berbagi cerita.
***
Dering telepon di ujung meja memecah fokus pekerjaan Kinanti. “Ya, Bu. Baik, Bu. Saya segera ke sana,” jawabnya.
Sambungan singkat telepon terputus. Meski masih bingung tentang apa yang akan disampaikan Rosalina, gegas Kinanti beranjak menuju ruang bosnya. Wanita ramping itu berjalan di koridor ruangan dan menyapa sekilas beberapa rekan kerja yang menoleh ke arahnya.
Sesampainya di depan ruangan, ia mengetuk pintu ruangan Rosalina, lalu masuk setelah terdengar sahutan dari dalam.
Tidak disangka oleh Kinanti, ternyata sosok Mira telah duduk di depan meja pimpinan. Kemungkinan telah terjadi perdebatan sengit antara Mira dan Rosalina karena wanita berambut pendek itu melengos setelah melihat wajah Kinanti. Mira berdiri, keluar dari ruangan berpendingin itu. Kinanti berusaha tetap tenang dan mengabaikan sikap tidak bersahabat Mira.
“Duduklah!” perintah Rosalina dingin.
“Hm, apa ada masalah, Bu?” tanya Kinanti hati-hati.
Rosalina masih menatap Kinanti secara intens, mencoba mengira-ngira hubungan Aksar dengan editornya itu. “Kamu kenal Right Man udah lama?”
Kinanti sedikit terkejut. Sepertinya, si penulis itu sudah melaporkan sikapnya yang kurang sopan kemarin kepada Rosalina.
“Maaf, Bu. Kemarin saya gak sengaja keceplosan ngomong jujur tentang bukunya. Saya gak tau kalo dia Right Man, si penulis itu,” sahut Kinanti agak takut. Ia sudah membayangkan kontrak kerja penerbit dengan Right Man gagal gara-gara kesalahannya kemarin.
Rosalina mengerutkan dahi seolah-olah menyimpulkan sesuatu. “Hmm, berarti kamu gak kenal sebelumnya dengan Pak Aksar?”
Kinanti hanya mengangguk pelan.
“Yakin kamu tidak mengenal dia, Kinanti?”
__ADS_1
“Yakin, Bu. Emangnya ada apa, ya, Bu?” Kinanti maju selangkah sedikit penasaran.
“Saya berada di dua sisi yang sebenernya sama-sama menguntungkan, cuma …,” ucap Rosalina terputus. “Pertama, kita gak perlu capek-capek lagi bersaing dengan penerbit lain untuk mendapatkan kontrak kerja eksklusif dengan Aksar. Karena kemarin, ia telah memutuskan untuk memilih kita sebagai partner untuk menerbitkan novel ketiganya.”
“Wah, ini kabar yang bagus, Bu. Lantas?”
“Kedua, saya gak tau alasan apa dia milih kamu jadi editornya, sehingga Mira merasa gak adil karena selain posisi wapemred akan berada di tanganmu, dia juga merasa kehilangan kesempatan untuk membidani naskah Aksar,” papar Rosalina datar. Wanita itu masih membayangkan ekspresi kesal Mira saat mendengar kabar kontrak tersebut.
Kali ini, Kinanti terkesiap. “Pak Aksar milih saya jadi editornya, Bu?”
“Ya! Dan bersiaplah karena kemampuanmu akan dilihat banyak orang karena hal ini.”
“Tapi, Bu. Saya—”
“Ini kontrak kerja yang harus ditandatangani Aksar. Ia minta kamu yang bawa ke rumahnya siang ini,” perintah Rosalina memotong perkataan Kinanti.
“Bu, Saya—” Kinanti masih mencoba menyatakan keberatannya meski tahu hal itu sia-sia belaka. Ia sangat paham karakter pimpinannya.
Rosalina akan melakukan apa pun, asal targetnya terpenuhi.
***
“Bena!” Kinanti berteriak di depan pintu ruangan Bena sesaat setelah keluar dari ruangan Rosalina.
“Yaaa, Kin. Ada apa?” Bena berkata tanpa menoleh karena masih berkutat dengan layar laptopnya.
“Kerjaan kamu numpuk, gak?”
“Gak, emangnya ada apa?
“Temenin aku, yuk!”
“Ke mana?”
“Right Man?” Wajah Bena seketika cerah setelah melihat kontrak kerja itu. “Eh, serius elo yang jadi editornya, Kin?”
Kinanti hanya mengangguk pasrah.
“Keren parah elo, mah! Congrats, ya!”
“Keren apanya! Gak liat ekspresi Mba Mira pas tau aku yang dipilih Pak Aksar!”
“Wait … wait … wait, Aksar si Right Man itu milih kamu langsung?”
“ Hmm,” jawab Kinanti singkat.
“Wah … wah … wah. Jangan ... jangan … jangan … jangan nih!” Bena membelokkan kursinya menghadap Kinanti.
“Jangan apaan! Aku aja gak kenal sama dia. Makanya, aku minta temenin kamu ke rumahnya. Aku takut sendirian ke sana.”
“Takut apaan? Takut terpesona? Aku aja klepek-klepek pas tau wajahnya kemarin.”
“Ih, sembarangan! Udah, deh, pokoknnya habis makan siang kita jalan ke sana, Okay?” Kinanti menyudahi pembicaraan sebelum berlalu menuju ruangannya.
***
Setelah menempuh perjalanan satu jam ke arah pinggir kota, Kinanti dan Bena tiba di kediaman Aksar. Jejeran patung kuda berlari menyambut mereka saat hendak menuju gerbang pos penjaga. Mereka cukup terbuai dengan pemandangan danau buatan yang berada di dalam perumahan elite tersebut.
Tidak lama kemudian pintu terbuka. Aksar sendiri yang membukakan pintu. Kedatangan Kinanti sudah ia tunggu sejak tadi. Pandangan Aksar berserobok langsung dengan mata Kinanti. Ia memandang intens wanita di hadapannya tanpa henti sehingga Kinanti salah tingkah.
***
__ADS_1
Jam delapan kurang dua puluh lima menit saat Kinanti memarkirkan sedan putih di basemen gedung kantor. Sebuah mobil SUV hitam metalik mirip mobil suaminya terparkir tepat di sampingnya. Kinanti sempat terkecoh hingga menoleh dua kali, andai tidak melihat ulang pelat nomor mobil itu.
Bagi Kinanti adalah hal mustahil jika Surya berada di sini. Sepanjang ia bekerja di GrewMedia, Surya hanya mengantarnya beberapa kali, itu pun hanya sampai depan lobi.
Mobil siapa, nih? pikir Kinanti sembari menuju lift. Setelah memasuki lift yang kosong, ia menekan tombol menuju lantai tiga. Namun, saat pintu hendak tertutup, sebuah tangan dengan tato menyembul di pergelangan berhasil menahan lift hingga kembali terbuka.
“Pak Aksar ....” Kinanti tertegun. Ia mundur selangkah hingga menyentuh dinding lift. Mata mereka beradu pandang sekilas.
Aksar melempar senyum paling menawan. Menebar pesona kepada wanita yang sedari tadi ia tunggu kedatangannya. Kinanti hanya menundukkan kepala, merasa canggung dengan Aksar yang berdiri tepat di sampingnya.
“Hai, ternyata pagi ini kita berjumpa lagi. Boleh kusapa selamat pagi?” tanya Aksar sambil melirik Kinanti.
Outfit yang Aksar pakai lebih terkesan formal dibanding pertemuan sebelumnya. Kasual blazer warna pinggala dipadu kemeja dan celana hitam menambah kesan maskulin.
Apa mungkin penulis kalo ngomong emang kek gitu, batin Kinanti.
Gaya bicara Aksar sedikit membuat kegugupan Kinanti berkurang. “Selamat pagi juga, Pak.” Kinanti menjawab pelan dengan kepala masih tertunduk.
Dibalut dress biru kelasi selutut dengan bros bewarna zamrud di bagian dada kiri, penampilan Kinanti pagi ini terlihat elegan. Bahkan dari luar, penampilan mereka tampak serasi.
Rasa kikuknya belum juga hilang bila mengingat kejadian seminggu lalu saat ia bertandang ke rumah sang penulis. Setelah menyerahkan berkas kontrak waktu dan berbasa-basi sejenak, Kinanti bergegas pamit.
Untunglah kehadiran Bena menolongnya saat itu. Jika tidak, mungkin Aksar akan mengajaknya berbincang lebih lama.
Namun, ada hal yang membuatnya sedikit merasa heran. Entah mengapa anjing Siberian milik Aksar hanya menggonggongi Bena. Mereka sama-sama terkejut, lalu Kinanti berlari ke arah Aksar dan refleks berdiri di belakang laki-laki itu. Ia yang awalnya takut, segera tenang saat Max dengan manja duduk di sisi kakinya seolah-olah sudah pernah bertemu dengannya.
Kini, berdua dalam lift dengan pria itu, makin membuat Kinanti merasa kurang nyaman. Untunglah saat pintu lift akan tertutup, seorang pria kembali menahan pintu lalu ikut masuk. Kinanti sedikit merasa lega. Setidaknya, mereka tidak hanya berdua di dalam ruang sempit itu.
Akan tetapi, kelegaan Kinanti hanya bertahan sebentar. Lima orang staf yang kesemuanya laki-laki kembali memasuki lift hingga mencapai batas maksimal. Kinanti makin terpojok di sudut lift bersama tujuh pria. Yang membuatnya makin gugup dan membelalakkan mata adalah saat Aksar maju membelakanginya. Lelaki itu seolah-olah menjadi tameng agar pria lain tidak bersentuhan dengannya.
Deg!
Entah mengapa, jantung Kinanti berdegub lebih kencang. Ia merasa terlindungi oleh tubuh Aksar. Bermacam rasa muncul berkecamuk. Sampai Kinanti tidak mampu menggambarkan. Apalagi dari balik punggung lebar Aksar, ia menghidu secara jelas aroma parfum yang dipakai lelaki itu.
Mengapa wangi parfumnya sama seperti milik Mas Surya?
Wangi parfum itu menyelimutinya secara menyeluruh. Ia merasa seolah-olah Surya ada di depannya. Untunglah kesadaran segera menariknya kembali saat lift berdenting dan terbuka. Jika tidak, betapa memalukan baginya seandainya secara tiba-tiba refleks memeluk pinggang itu.
Kinanti beranjak keluar dari ruangan yang seolah-olah menghabiskan stok oksigen dalam paru-parunya.
“Mengapa terburu-buru?” Aksar berusaha menyejajari langkah Kinanti.
“Oh, ehm, saya sedang mengoreksi naskah Anda, loh, Pak. Permisi.” Kinanti menjawab sekenanya lalu berlari kecil meninggalkan Aksar.
Aksar mematung, menatap sendu kepada bayang-bayang Kinanti yang menghilang di belokan koridor.
Karena temu janji dengan Rosalina masih setengah jam lagi, ia memutuskan untuk berkeliling sejenak.
Koridor kantor dengan lantai granit berwarna putih dan cokelat muda dengan finishing furniture bermotif kayu sungkai. Interior dinding kantor bernuansa sleek Skandinavian seolah-olah dibuat untuk memberikan ketenangan di sela-sela kesibukan karyawan.
Pencahayaan dalam ruangan makin terasa elegan dengan lampu kuning di langit-langit. Plafon putih minimalis bertingkat menyembunyikan temaram lampu pijar dengan sempurna.
Aksar mengakui bahwa kantor penerbitan ini tertata apik, hangat, dan nyaman. Sungguh, ia tak memperhatikan detail kantor ini di kunjungan pertamanya beberapa waktu lalu.
***
Ketukan pintu membuat Kinanti menoleh dari balik kacamata kerjanya. Ia segera berdiri untuk melihat sosok yang hendak masuk. “Pak Aksar.”
Sekali lagi, hati Kinanti merasa terganggu dengan sosok penulis yang berdiri gagah di hadapannya.
***
__ADS_1
Bersambung..