Tuba Semanis Madu

Tuba Semanis Madu
HATI YANG LAIN


__ADS_3

“Kakak, buka pintunya, Nak?” panggil Kinanti seraya mengetuk pintu. Tidak ada sahutan dari dalam.


“Sharqeena Rahandika!” Kinanti berseru setelah sekian menit tidak ada tanggapan dari dalam.


Tidak lama kemudian, pintu terbuka. Kepala Sharqee menyembul dari balik pintu. Kinanti mendorong pintu kamar, lalu mengedarkan pandangan ke arah kamar sang putri. Sharqee masih mematung di dekat pintu. Wajahnya pucat, dengan rambut berantakan.


“Apa sih, Ma?” lirih Sharqee tidak bersemangat.


“Mama udah denger dari adikmu tentang kejadian di sekolah.” Kinanti membuka pembicaraan dan duduk di sisi tempat tidur di samping putrinya.


Tidak ada jawaban dari Sharqee. Gadis yang menuruni lesung pipit dari dirinya itu hanya tertunduk memainkan ujung piama.


Kinanti melanjutkan ucapannya. “Kok, kakak diem aja, sih? Kenapa gak laporin ke guru?” Ia menggenggam jemari Sharqee, lalu memeluk dan menepuk punggung gadis berkacamata itu.


“Udahlah, Ma. Itu bukan hal besar. Kakak baik-baik aja, kok.” Sharqee membalas pelukan Kinanti dengan senyum yang agak dipaksakan.


Lirikan matanya beralih ke arah Arqee yang berdiri di antara pintu kamar. Ia sedikit kesal dengan ulah kembarannya itu. Akibat perkelahian Arqee dan Karin itu, se-antero sekolah menjadi heboh. Arqee yang dilirik segera berbalik menghilang dari pandangan.


Jelas ini bukan sesuatu yang baik bagi Kinanti. Meski tidak pernah dirundung semasa sekolah dulu, ia pernah merasakan bagaimana sedihnya hal itu. Teringat dulu, ia pernah berjuang membela Laras yang sering jadi bahan cemoohan teman-teman mereka karena lahir dari keluarga miskin.


Suasana hening seketika. Kinanti menyapu pandangan ke seluruh bagian kamar sang putri yang didominasi warna pastel lembut. Sebuah kolase foto dalam bingkai warna kerak terusi dan berbagai piagam penghargaan tergantung di dinding. Kerlap-kerlip lampu tumbler menambah kesan hangat kamar si Sulung.


Sedikit berbeda dengan kamar putri satunya lagi. Kamar Arqee lebih ramai dengan poster-poster boyband dari Negeri Ginseng.

__ADS_1


Pandangan Kinanti kembali menatap Sharqee. Digenggamnya tangan halus mungil itu dan mengusapnya pelan.


“Mama liat, Kakak memang akhir-akhir jarang bercerita, lebih suka menyendiri di kamar ….” Kinanti meraih jemari Sharqee yang masih terus memilin-milin ujung piama.


Sharqee menengadah menatap mamanya, lalu menunduk kembali.


“Maafkan mama, ya, Nak, jika akhir-akhir ini kurang memperhatikan kalian. Bahkan .... mama tak ingat kapan terakhir mengajak kalian berlibur,” jelas Kinanti dengan tatapan sendu.


Ada rasa bersalah di hati ibu muda itu karena luput memperhatikan perkembangan kedua putrinya. Sepertinya malam ini, ia akan membahas hal itu bersama Surya.


“Ma, besok kalo ketemu guru BK, gak usah bahas dan manjangin masalah hari ini, ya. Beneran kakak gak masalah.” Sharqee berusaha membuat kesan jika dirinya terlihat baik di depan Kinanti.


“Kenapa gak dibahas? Justru mama akan meminta penjelasan secara rinci soal ini,” terang Kinanti.


Masih jelas di ingatan Sharqee, saat Karin dan teman-teman membawanya ke ujung koridor sekolah yang kebetulan sepi. Karin merasa kesal karena ia terpilih sebagai vokalis utama di paduan suara untuk pentas seni bulan depan.


“Eh, cewek kuper! Is that you? Do you feel better now after making me like a loser? I don’t know why the master chose you over me!” Karin berkacak pinggang di hadapan Sharqee. Ia terus mengomel dalam bahasa Inggris dengan bangga.


Gadis kelas 8 SMP itu merasa spesial karena memiliki keahlian berbahasa asing yang cukup baik di antara siswa di sekolahnya.


“Maksud kamu apa? Aku gak ngerti, Rin. Kan, itu penilaian dari guru ekskul. Aku juga udah nolak saat namaku terpilih, tapi beliau tetap menuliskan namaku.” Meski tidak sepintar Arqee dalam berbahasa Inggris, secara garis besar Sharqee mengerti apa yang dikatakan siswa berambut lurus sebahu tersebut.


“I’m new here. But, you know, I should’ve been the lead singer instead of you.” Pandangan Karin menatap sinis gadis berkacamata itu.

__ADS_1


Sharqee mengerutkan dahinya, berusaha mencerna apa yang barusan Karin katakan.


“Sometimes, I’d be disgusted to be beaten by a girl like you,” ujar Karin pongah. Ia menangkap kebingungan dari wajah cantik Sharqee.


“Gak ngerti, kan, gue ngomong apa? Cari noh di gugel.” Ejekan Karin disambut tawa oleh ketiga temannya.


Sharqee mendesah, mengedarkan pandangan ke arah lain, lalu berusaha melewati empat gadis yang memang sengaja menghadangnya. Ia bukan tipe yang suka beradu mulut hanya untuk sesuatu yang menurutnya tidak penting.


Untunglah ada seorang guru yang menegur mereka sehingga Karin dan teman-temannya terpaksa meninggalkan Sharqee. Padahal, ia masih belum puas untuk mengejek Sharqee.


Kinanti mengusap pundak Sharqee, menyadarkan gadis cantik yang sedari tadi menatap kosong ke arah baju seragam yang tergantung di balik pintu.


“Kakak, kok ngelamun?” Dielusnya lembut pipi kanan Sharqee.


“Ah, gak, Ma. Cuma mikirin tugas sekolah besok.” Sharqee berkilah menutupi kegelisahan.


Kinanti tahu bahwa anak gadisnya sedang menyembunyikan sesuatu. “Kakak tenang aja. Besok semua akan kembali baik-baik. Yuk, temenin mama di dapur nyiapin makan malem.” Kinanti memegang pundak gadis berkulit putih itu dari belakang. Tidak ada penolakan dari Sharqee.


Tidak lama kemudian, ponsel di saku celana Kinanti bergetar. Dilihatnya nama si penelepon.


Aksar? Kenapa lelaki ini meneleponku bukan pada saat jam kerja?


Entah mengapa degup jantung Kinanti seketika bertalu dan tidak bisa dikatakan baik. Kinanti bergeming menatap layar ponsel. Ia mengetuk simbol merah di layar, memutuskan panggilan telepon tersebut. Saat ini, pikiran wanita itu lebih tertuju pada masalah putrinya.

__ADS_1


***


__ADS_2