Tuba Semanis Madu

Tuba Semanis Madu
TERENDAP LARAKU


__ADS_3

Keesokan harinya, kejutan lain sudah disiapkan Surya. Kinanti terharu ketika laki-laki itu mengatakan bahwa ia mengambil libur satu hari.


“Honey juga harus ambil libur hari ini, oke!” Surya berkata saat keduanya sarapan pagi bersama Sharqee dan Arqee.


“Waduh, Mas, ini dadakan sekali, loh! Kinan belum minta izin sama Bu Rosalina.” Kinanti meneguk jus jeruk sembari menatap ponsel.


“Ayolah, Ma. Jarang-jarang tu Papa ngajak jalan-jalan kita? Iya, kan, Kak?” Arqee meminta pendapat Sharqee. Sharqee hanya melempar senyum sambil mengunyah nasi goreng dalam mulutnya.


“Kita? Gak ada kita. Liburan hari ini cuma untuk papa dan mama aja, kalian tetep sekolah!” tukas Surya menatap Kinanti.


“Yaa, Papaaa. Tapi, Pa,” jawab si Kembar serentak.


“Gak ada tapi-tapian. Apalagi kalian kemarin sudah membuat ulah di sekolah.”


“Yaaa,” desah kakak beradik itu kembali terdengar.


Setelah sarapan dan mengantarkan kedua putrinya ke sekolah, Kinanti dan Surya bertolak menuju area Kambang Iwak. Surya memarkirkan SUV metalik miliknya di sebuah kafe yang tidak jauh dari area taman tersebut.


Jam masih menunjukkan pukul 07.00 WIB saat mereka tiba di sana. Keduanya kompak memakai kaus putih dan celana training hitam berpotongan longgar. Sudah lama mereka tidak berlari pagi seperti ini.



Kinanti dan Surya asyik berjalan beriringan, memutari taman dengan kolam di tengahnya. Suasana tampak lengang, tidak seramai biasanya. Tidak banyak orang yang joging pada hari kerja seperti sekarang, hanya beberapa yang berpapasan sepanjang langkah mereka mengitari taman. Sesekali Surya berlari kecil meninggalkan Kinanti di belakangnya.


Sepanjang langkah, mereka tidak pernah sepi dari perbincangan bahkan sesekali diiringi canda tawa. Kinanti merasa hidupnya kembali lagi. Ia menyukai sikap Surya dan caranya yang membuat Kinanti bahagia.


Surya memperhatikan sang istri dengan saksama dan makin menyadari kecantikan saat rambut hitam ikalnya diikat ekor kuda hingga menampakkan leher yang jenjang. Ia sangat suka saat Kinanti mengikat rambutnya seperti itu. Ia selalu membayangkan bagaimana nikmatnya mengecup tengkuk indah itu.



Kemudian, keduanya duduk di sebuah bangku batu yang memang tersedia.


Tanpa keduanya sadari, sepasang mata dengan tatapan tajam sedang mengamati mereka dari kejauhan.


Aksar mengenggam erat kemudi mobil hingga buku-buku tangannya terlihat jelas. Ia memukul tepi kemudi beberapa kali, lalu menjatuhkan punggungnya ke sandaran jok mobil dengan perasaan kesal.


“Surya Rahandika. Surya Rahandika.” Aksar berulang-ulang menyebutkan nama Surya seraya memukul kemudi.


Udara di sekitar Aksar seketika menyesakkan. Ia menghela napas berat dan masih menatap Surya dan Kinanti dengan perasaan tercekat. Hatinya mendidih melihat kemesraan yang terjadi di antara suami istri tersebut.


Seketika jantung Aksar berdenyut, seolah-olah ada sebuah tangan yang mulai meremas hati. Andai saja bisa berbuat lebih jauh, ia ingin sekali berada di antara keduanya, menarik tangan Kinanti dan mengajak wanita itu pergi. Namun, itu semua sepertinya hal yang mustahil untuk dilakukan.

__ADS_1


Pelan, ia mengambil ponsel di dashboard. Ia membuka akun Instagram Right Man, menulis sebuah puisi untuk melepaskan bara yang sempat membakar hatinya.


Cinta Bodoh


Belasan tahun


Aku mendamba dirimu


Tapi aku memilih mencintai


Dengan cara paling bodoh.


Makanan kesukaan


Lagu favorit


Idola-idola


Hingga penyakitmu


Aku tahu


Tapi aku memilih


Melalui kata-kata


Biarlah angin


Yang membisikkan


Seberapa aku ingin


Mendekapmu


Selama hidupku.


RM,


Sudut Rindu.


**

__ADS_1


Waktu menunjukkan pukul 10.15 WIB saat Kinanti dan Surya menuju area parkiran Kambang Iwak. Keduanya berpegangan erat bak remaja ABG jatuh cinta, sesekali terselip tawa di antara mereka. Kinanti merasa cintanya kembali tersirami setelah sempat layu karena kesibukan sang suami.



Laju SUV milik Surya membelah Jalan Merdeka yang cukup lengang. Kinanti memeriksa ponselnya yang masih terisi dalam catu daya.


Sebuah notifikasi dari akun Right Man muncul di bagian atas layar. Ia bersungut pelan dalam hati karena lupa meng-unfollow akun milik Aksar. Hatinya merasa tidak nyaman saat membaca sebuah postingan yang baru saja diunggah lelaki itu.


Sedikit banyak Kinanti meresapi makna dari puisi milik Aksar. Ia yakin sekali, puisi dengan jumlah like mencapai tiga puluh ribu dalam waktu dua jam tersebut memang ditujukan kepadanya. Ia masih tertegun memandangi layar ponsel. Baru beberapa menit berkendara, ponsel Surya berdering.


“Ya, halo,” ujar Surya membuka percakapan.


“Dok, ada SC Cito. Bayi premature dengan tumor besar di bokong. Rencana tiga jam lagi operasi akan dimulai. Dokter mohon bersiap, ya!”


Surya tertegun mendengarkan suara dari ujung telepon. “Saya hari ini off, Dok! Ada Dokter Yusuf dan tiga orang residen jaga, ‘kan?” jawab Surya mengerutkan kening.


“Semuanya masih dalam ruang operasi, makanya saya di minta menghubungi Anda, Dok.”


Surya masih terdiam, belum memberikan jawaban. Ia menoleh ke arah Kinanti seolah-olah meminta persetujuan. Meski Surya belum mengatakan apa pun, Kinanti paham maksud sang suami. Seutas senyum hadir di wajah wanita itu.


“Oke. Satu jam lagi saya ke sana!” Surya menutup telepon dengan rasa malas. Ia menolah ke arah Kinanti yang sudah bersiap mendengarkan permintaan maafnya. Gagal sudah rencana ke bioskop mereka siang ini.


“Maafin mas, ya, Honey. Ini beneran urgent. Mas janji bakal atur ulang rencana nonton dan dinner kita ini. Honey gak marah, ‘kan?”


“Gak, Kinan gak papa, kok!” Kinanti hanya tersenyum tipis. Ada rasa kecewa yang muncul dalam benaknya. Ia berharap tadi seharusnya menolak tegas telepon tersebut. Namun, Surya lebih memilih membatalkan acara mereka dan berkutat dengan kesibukan pekerjaan. Kinanti juga tidak bisa menyalahkan Surya sepenuhnya. Laki-laki itu jelas memiliki dedikasi tinggi terhadap pekerjaan yang menyangkut dengan nyawa.


Tiba-tiba saja, Kinanti merasa haus karena hal ini.


“Mas, Kinan beli minuman dulu, ya. Nepi bentar ke Alfa ujung sana, ya! Mau nitip apa?”


“Gak usah. Honey bisa agak cepet, ‘kan? Mas ngejer waktu, nih!”


“Iyaaa.” Kinanti menutup pintu sedikit keras. Ada nada kesal yang Surya tangkap dari suara Kinanti.


Surya mendesah, tidak ingin banyak berdebat. Ia tahu bahwa dirinya dalam posisi salah. Sembari menunggu Kinanti dari balik kemudi, fokusnya teralihkan oleh layar ponsel sang istri yang menyala.


Iseng, ia membuka ponsel yang dikunci dengan pola yang sama dengan miliknya. Ia melihat notifikasi pesan Whatsapp yang muncul. Beberapa chat dari grup penerbit dan penulis memenuhi layar. Kemudian, ia membuka beberapa percakapan milik Kinanti. Ia cukup kagum dengan kinerja Kinanti. Tampaknya Kinanti pun menghadapi tekanan yang cukup berat dari tempat kerjanya.


Surya terus menggulirkan layar di aplikasi hijau tersebut. Sampai jemarinya terhenti di satu nama yang sedikit mengusik hatinya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2