Tuba Semanis Madu

Tuba Semanis Madu
CINTA TAK PERNAH SALAH


__ADS_3

Ciuman kali ini justru dibalas dengan pagutan lebih dalam. Mereka saling menyesap hingga menimbulkan decak. Perasaan Aksar kini tidak terbendung. Ia sangat mencintai Kinanti lebih dari apapun. Niatnya untuk membawa Kinanti pergi jauh dari kota ini sudah Aksar pikirkan sejak dulu.


Pikiran sadar kembali menghantui Kinanti. Secepat kilat, ia berdiri menjauh sebelum hal yang lebih intim terjadi. “Maaf, Mas. Aku harus pergi. Ini salah! Aku dah punya keluarga yang menungguku di rumah.” Ia menutup mulut dan berusaha meruntuhkan hasrat yang sempat bertakhta dan menggila.


Aksar menggeleng pelan seraya mendekati Kinanti. Dibelainya rambut wanita itu, lalu memeluknya erat.


Kinanti hanya diam mematung, menyesap aroma tubuh Aksar. “Ini tidak salah, Kinan. Perasaan ini tulus. Saya mencintaimu sejak dulu, jauh sebelum Kinan menikah,” desah Aksar dengan suara serak. Ia mengelus punggung Kinanti pelan dan dengan perasaan damba.


Kinanti masih mematung di tempatnya berdiri. Mendongak dan menikmati ketampanan maskulin laki-laki di dekatnya itu. Lalu, ia memandangi Aksar yang terus melangkah menuju lemari kaca di dekat jendela.


Aksar mengambil sebuah benda dari dalam sana. Diulurkannya sebuah kotak musik warna cemani kepada Kinanti. Lagi-lagi, Kinanti terbelalak saat membukanya Di dalamnya ada piringan hitam yang khusus memutar sebuah lagu.



Alunan melodi I Will Be Stronger milik Celine Dion terdengar merdu dari kotak musik tersebut. Kotak musik sama dengan miliknya yang sudah tersimpan bertahun-tahun. Kotak musik yang selalu ia buka kala dirinya bersedih. Pendar matanya kembali bergairah setelah ia mendengar irama dari lagu favoritnya.


And tonight I have all I need


I got forgiveness, I’m feeling different


To night I will be stronger


I did’nt ask to be set free


But in my hour of weakness, I found a sweetness.


Kinanti menatap Aksar dengan ekspresi tidak percaya. Benarkah Aksar orangnya?


Kinanti mencoba mengingat perkataannya dulu saat pertama kali mendapatkan bingkisan yang diberikan sang ibu kepadanya. Kotak musik itu sangat berarti baginya. Setiap kali ia mendengar alunan melodi itu, semangatnya kembali utuh.

__ADS_1


“Hai, pemilik kotak musik. Kata ibuku, kamu seorang lelaki tampan. Makasih udah nyemangatin hari aku lewat ini, ya. Suatu saat kalo kita ketemu, keknya aku bakal jatuh cinta, deh.”


Kinanti mengingat ucapannya saat itu dan mulai menyadari jika ia termakan dengan janjinya sendiri. “Jadi, Mas yang dulu ngasih aku ini?”


“Hmm.” Hanya kata singkat yang diiringi anggukan kecil sebagai jawaban Aksar. Aksar memainkan rambut Kinanti dengan lembut.


“Kok bisa?”


“Apa Kinan masih menyimpannya?”


“Masih, bahkan masih sampe sekarang.” Kinanti menatap lekat Aksar. “Jadi, inikah alasan Mas milih aku jadi editor?”


“Hmm, sepertinya usaha saya berhasil, ‘kan? Belasan tahun saya nungguin Kinan, dan rasa cinta itu masih tetap sama.” Kepala Aksar seketika berada di lekuk pundak Kinanti.


Kinanti tersanjung karena dicintai sedemikian besar oleh Aksar.


Pelan, Aksar menggandeng tangan Kinanti menapaki undakan tangan menuju kamar.


Perhatian Kinanti tertuju ke pemandangan danau yang tampak hijau kebiruan dari kamar Aksar. Namun, lambat laun, perhatiannya teralihkan kepada potret raksasa dirinya yang memenuhi sisi kanan dinding laki-laki itu.



Kinanti terperangah sekaligus terpesona. Semu merah jelas terpancar dari wajahnya. Terjawab sudah alasan Max tidak menggonggongi kedatangannya pertama kali ke rumah ini.


“Kenapa? Kinan terkejut?”


Kau akan terkejut jika tahu sebuah fakta lain, Sayang, lanjut Aksar dalam hati.


“Aku gak percaya Mas sedemikian itu kepadaku.”

__ADS_1


“Ada hal-hal di dunia ini yang memang tidak dapat dipercaya dengan akal sehat, Kinan. Salah satunya, cinta. Kekuatannya melebihi apa pun. Belasan tahun saya bertahan, menunggu saat ini datang, salah satunya karena memiliki kekuatan itu.”


Kinanti menatap takjub laki-laki berwajah sendu di sisinya. Ia terbawa suasana dan menikmati perlakuan romantis dari Aksar. Lalu, keduanya berhadapan di depan balkon kaca yang tepat menghadap danau.



Angin masih berembus pelan saat Aksar melangkah mendekati Kinanti yang seolah-olah menunggunya. Digenggamnya tangan wanita itu dengan setengah menunduk. Dahi mereka beradu saling menyentuh. Kedua insan itu saling memejamkan mata, menikmati rasa yang berdesir di antara mereka.


Candu itu kian nyata bagi Kinanti. Ia menyingkirkan kekhawatiran yang sempat melintas di benaknya.


Sekali lagi, sekali lagi ini saja. Hatinya berbisik dan bernegosiasi dengan akal sehat.


Kinanti maju selangkah lebih dekat kepada Aksar, lalu menangkup kedua pipi Aksar. Mungkin karena terbawa suasana atau entah keberanian apa yang merasukinya, ia menyentuh laki-laki itu lebih dulu.


Tidak ubahnya Aksar, jelas ia pun dengan penuh damba langsung membalas sentuhan Kinanti. Tangannya kembali menyentuh tengkuk Kinanti, mendekatkan pandang yang sempat berjarak sesaat. Kewarasan untuk menahan diri terkikis habis. Tidak ada yang bisa disebut siapa yang memulai, yang terjadi saat ini adalah murni dorongan rasa ingin memiliki. Aksar menarik diri saat Kinanti kepayahan bernapas. Keduanya masih berpandangan di antara hujan rintik yang makin menambah syahdu suasana.


“Saya gak mau kehilangan kamu, Kinan.” Aksar berbisik di telinga kanan Kinanti, lalu menyandarkan kepalanya di bahu wanita itu.


“Tapi, ini salah, Mas. Aku punya anak dan suami. Perasaan ini tidak boleh diteruskan.” Kinanti meloloskan diri dari pelukan Aksar. Ia menatap laki-laki itu dengan sorot mata sendu menahan tangis.


“Cinta kita gak salah, Kinan. Cuma takdir yang gak berpihak antara kita. Andai saja … argh!” Aksar setengah menjerit dengan napas berat, menyugar rambutnya, lalu menatap langit-langit ruangan.


“Maaf aku harus pergi, Mas!” Kinanti berlari kecil menuju pintu depan dan disusul Aksar dari belakang.


“Kinan, please ….” Aksar mencoba meraih tangan Kinanti, tetapi perlahan ditepis oleh wanita itu.


Kinanti dengan cepat keluar dari kamar dan menuruni tangga lalu ke luar menuju teras. Ia masuk ke mobil dengan terburu-buru menghidupkan mesin, dan mundur dari halaman rumah. Tidak ia pedulikan hujan yang cukup deras saat itu.


Aksar masih mengetuk-ngetuk kaca di samping kemudinya. Kinanti berusaha untuk mengabaikan laki-laki yang mulai ada di singgasana hatinya.

__ADS_1


Aksar hanya bisa pasrah saat mobil melaju kencang meninggalkan kepulan asap di hadapannya.


***


__ADS_2