Tuba Semanis Madu

Tuba Semanis Madu
TAK SEINDAH CINTA YANG SEMESTINYA


__ADS_3

Bunyi dari perkakas dapur yang saling bersentuhan, menghangatkan suasana sore itu. Setelah memasukkan potongan daging ke dalam wajan, Kinanti mengambil kentang yang sudah diiris-iris oleh Sharqee. Aroma dari tumisan cabai dan bawang sesekali membuatnya bersin.


Setelah semua masakan tersaji, Arqee datang dari luar dan langsung mencicipi makanan lewat ujung telunjuk.


“Kebiasaan gak bagus itu, Cu. Dari luar mestinya cuci tangan dan kaki dulu, bukan langsung ngambil makanan,” omel Sarma kepada Arqee. Ditepuknya punggung gadis bercelana jin di atas lutut tersebut.


“Iya, Nek. Maaf. Habisnya, masakan Mama enak, sih,” sahut Arqee.


Kinanti hanya meliriknya sambil tersenyum tipis. Ia kembali mengencangkan apron, lalu menghadap wastafel untuk mencuci perabot bekas memasak.


“Jadi, masakan papa gak enak, nih?” Surya tiba-tiba muncul dari arah pintu depan.


Mereka tidak menyadari kepulangan Surya sore ini. Gurat-gurat kelelahan terlukis jelas di wajah oval lelaki tampan itu.


“Papa!” teriak Sharqee dan Arqee berbarengan. Tanpa dikomandoi, mereka beranjak dari kursi dan memeluk Surya bersamaan.


“Papa, kakak kangen.”


“Arqee juga kangen. Tumben Papa pulang cepet,” ujar Arqee tanpa basa-basi.


“Kok, tumben? Kan, kalian berdua tahu kalo kesibukan papa ini untuk masa depan kalian, Sayang.” Surya sedikit menundukkan kepala ke arah si Bungsu. Meski lelah dan sedikit terganggu dengan ucapan Arqee yang memang lebih ceplas-ceplos, Surya menikmati tingkah laku putrinya.


Kinanti yang masih memakai celemek, menyambut kehadiran suaminya dengan senyum semringah. Surya mengecup keningnya sekilas.


“Langsung cuci tangan, gih, Mas. Hari ini Kinan masak pindang patin tempoyak kesukaan Mas Surya.” Kinanti meraih tas dari genggaman Surya. Secangkir teh di meja makan sudah ia siapkan untuk sang suami.


“Wow, kebetulan mas hari ini laper banget. Kok kamu tau, ya. Sepanjang perjalanan tadi mas ngebayangin pindang patin. Dan ternyata, hmm ….” Surya menghidu aroma masakan yang masih mengepulkan asap panas.


Percakapan dilanjutkan di meja makan. Kinanti membiarkan Surya menceritakan tentang pengangkatannya sebagai kepala KSM perawatan anak. Ia belum berani membahas masalah Sharqee kepada sang suami. Setidaknya ia akan membiarkan Surya mandi dan beristirahat melepas penat.


***


Kinanti bersandar di sisi tempat tidur, lalu merebahkan diri menatap langit-langit kamar. Diliriknya Surya yang sedang berganti baju. Memikirkan kejadian-kejadian yang ia alami beberapa hari terakhir, sepertinya malam ini adalah momen tepat untuk membahas sejumlah persoalan dalam rumah tangganya.


“Kamu belum tidur, Honey?” Surya melirik Kinanti lewat ujung matanya.


Wajah Kinanti terlihat murung sejak kepulangannya sore tadi.

__ADS_1


Namun, alih-alih mendekati Kinanti, Surya justru berjalan menuju meja kerjanya yang ada di seberang peraduan. Dibukanya laptop dengan logo apel tergigit, tangkas jemarinya membuka menu di layar. Dalam waktu hitungan kurang dari semenit, layar memperlihatkan tulisan tentang clinical governance yang belum rampung.


“Kinan gak bisa tidur, padahal dah capek banget.” Kinanti memijat tengkuknya.


“Ada masalah di kantor?”


Kinanti tidak menanggapi pertanyaan tersebut. Ia beranjak pelan ke arah Surya. Perasaannya makin tidak baik karena suaminya membawa pekerjaan ke rumah. Ditutupnya laptop Surya secara tiba-tiba.


Surya menengadah, masih menunggu apa maksud istrinya tersebut.


“Mas, keknya kita harus bicara serius,” keluh Kinanti sambil bersedekap.


“Tentang apa, Honey?”


“Tentang kita. Tentang anak-anak kita, Mas.” Kinanti memancing pembicaraan dengan wajah yang mulai menegang.


“Ada apa dengan kita, Honey? Apa ada masalah yang kamu sembunyikan yang mas gak tau?”


“Ada, Mas!” Kinanti mengambil napas dalam-dalam sebelum melanjutkan perkataannya. “Mas ngerasa gak kalo akhir-akhir ini waktu Mas gak lagi banyak buat kami. Mas terlalu sibuk dengan pekerjaan. Bahkan, liat ... sampe pekerjaan pun dibawa ke rumah!” sambungnya. Jari telunjuknya mengarah ke laptop.


“Honey keberatan?”


Surya diam lalu memejamkan mata, berusaha mencerna apa yang dikatakan Kinanti.


“Sebegitu pentingkah kata-kata romantis di usia pernikahan kita sekarang, Honey? Apa usaha mas selama ini berusaha setia, membantu pekerjaan rumah tangga, bekerja siang malam masih kurang cukup dari sekedar kata-kata romantis?” cecar Surya balik. Entah mengapa emosi lelaki berkacamata itu tersulut karena perkataan sang istri. Ditatapnya laptop yang berisi beberapa laporan yang harus selesai tubin nanti.


“Tidak! Bukan itu! Ambisi Mas pada pekerjaan bukan untuk Kinan dan anak-anak. Kerja gila-gilaan Mas hanya butuh pengakuan dari papi, ‘kan?!” jerit wanita berambut kecokelatan tersebut.


“Cukup, Honey! Mas gak mau debat soal ini lagi,” jawab lelaki keturunan Timur Tengah itu. Diangkatnya kedua tangan di depan dada seolah-olah mengisyaratkan Kinanti untuk berhenti berdebat. Sejak dulu, ia sangat membenci cekcok mulut seperti ini.


“Mas selalu seperti itu. Setiap Kinan ngomong, bahas suatu masalah, Mas selalu menyudahinya tanpa ujung yang jelas. Padahal, masalah rumah tangga kita ini gak bener-bener selesai! Kinan capek kek gini terus, Mas!” Kinanti berseru sembari meremas erat kedua tangan. Matanya mulai berkabut. Ia menunduk dengan bulir air mata yang akhirnya menetes. Rasa asin dari air mata mulai terasa di lidah.


Surya beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan Kinanti yang terisak di sisi kamar tidur. Lelaki itu menuju balkon kamar untuk menghirup udara segar. Sepanjang hidup bersama dengan Kinanti, cuma satu hal yang ia hindari, berseteru dengan Kinanti. Namun, hal yang semestinya paling terakhir terjadi itu akhirnya muncul.


Ingatannya kembali ke puluhan tahun silam, malam saat kecelakaan terjadi di tengah hujan deras. Pertengkaran hebat terjadi di antara orang tuanya masih jelas terekam dalam ingatan Surya. Surya lupa perihal apa yang memancing keributan besar itu. Yang masih jelas dalam ingatannya, ia ditarik masuk mobil, pergi meninggalkan rumah bersama maminya.


Jalanan yang licin, pandangan berkabut, petir menggelegar, mengalihkan fokus maminya saat menyetir.

__ADS_1


Saat di perempatan jalan, sebuah truk melintas lalu menabrak badan mobil. Mobil mereka terpental, terguling-guling hingga puluhan meter. Pecahan kaca, aroma bensin yang tertumpah, serta asap yang keluar dari bagian depan, membuat Surya dan maminya terluka parah.


Maminya meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit, sedangkan Surya dirawat hingga beberapa minggu lamanya. Kata dokter, ia mengalami amnesia disosiatif. Namun, seingat Surya, tidak ada memori yang hilang dalam ingatannya. Ia mengingat semua dengan jelas dan merasa tidak ada memori yang terlupa. Satu yang pasti, sejak saat itu, Surya tak banyak bicara saat berhadapan dengan papinya. Ia menganggap papinya sebagai penyebab dari kematian sang mami.


Isakan tangis Kinanti memecahkan lamunan Surya. Ia mengusap tengkuknya, lalu berbalik badan mendekati sang istri.


“Kalo Honey capek, mas sarankan Honey berenti dari GrewMedia, bukan malah menuntut mas dengan permintaan yang aneh-aneh.” Surya mulai berkata tegas dan serius.


Sepertinya kali ini, perdebatan antara dirinya dan Kinanti tidak bisa dihindarkan lagi. Terlebih setelah tadi sore, ketika pulang dan melewati ruang tengah, sepucuk surat panggilan dari sekolah anaknya tidak sengaja ia temukan di meja.


Kinanti terkejut. Ia menggeleng-gelengkan kepala tanda tidak setuju dengan perkataan suaminya.


“Mas Surya,” lirih Kinanti tersedu. “Kinan ngajak diskusi, bukan malah nyuruh Kinan berenti kerja. Itu bukan solusi, Mas. Ini gak adil buat Kinan.” Kinanti mengarahkan tatapannya ke langit-langit.


“Gak adil gimana, Honey? Coba kita runut permasalahan yang awalnya ini bukan masalah. Mas kepala rumah tangga, dan memang hal lumrah kalo sibuk kerja sampe malem.” Surya menggerakkan tangannya. “Dan kamu adalah suri rumah ini, yang pada dasarnya memang gak perlu kerja. Karena mas perhatiin, tiap kamu mengalami tekanan dari pekerjaan, kamu bakal nyalahin mas yang gak punya waktu untuk keluarga,” papar lelaki bermanik hitam kelam itu.


“Kok, Mas malah nyerempet ke pekerjaan Kinan? Mas tau, ‘kan? Jadi editor adalah mimpi Kinan yang tertunda karena menikah dan mengurus anak-anak. Delapan tahun Kinan nunggu sampe mereka mandiri. Dan lagi, meskipun aku kerja, anak-anak tetep dapet perhatian cukup dari aku sebagai ibunya.” Suara Kinanti berintonasi lebih tinggi dari sebelumnya.


Jantung Kinanti berdebar hebat setelah mengucapkan hal itu. Baru kali ini, perdebatan panjang terjadi di sepanjang lima belas tahun pernikahan mereka. Biasanya ia memilih mengalah dan memaklumi sang suami.


“Perhatian sebagai ibu yang bagaimana sampe kedua anak kita terlibat masalah di sekolah, Kinan!” teriak Surya di hadapan Kinanti.


Diempaskannya surat dari sekolah yang sempat ia baca tadi.


Kinanti terperangah karena Surya mengetahui permasalahan putrinya lebih cepat dari yang ia rencanakan. “Kamu nyalahin aku, Mas?” Kinanti mulai berteriak.


Sepertinya, ia salah langkah untuk mengajak diskusi Surya. Perdebatan mereka kian meruncing. Tidak ada lagi sapaan sayang di antara keduanya. Hanya ada kata “aku” dan “kamu”. Mereka seperti dua orang asing yang saling serang.


Tiba-tiba pintu kamar mereka diketuk hingga mengalihkan pembicaraan. Kinanti membuka kenop pintu, tampak Sarma berdiri tepat di depannya.


“Ya, Bu?” Kinanti bertanya di antara dinding dan daun pintu.


“Pelankan suara kalian, jika perlu hentikan percekcokan yang tidak berkesudahan ini. Ulah kalian hanya membuat Sharqee dan Arqee syok!” perintah Sarma dingin. Setelah itu, ia berlalu pelan melangkah menuju kamar kedua cucunya.


Kinanti hanya mengangguk pelan sebagai isyarat kepada ibunya. Ditutupnya kembali pintu kamar dan bersandar sejenak di situ. Surya bergerak perlahan ke arah Kinanti dan memegang pundaknya. Mereka berpandangan dengan pikiran yang saling berkecamuk.


Alih-alih ingin mengatakan sesuatu, Surya malah meraih kenop pintu yang ada di balik tubuh Kinanti. Ia keluar melewati istrinya tanpa berkata-kata. Setidaknya, pria bercambang halus itu berusaha menghindari perdebatan malam ini.

__ADS_1


***


__ADS_2