
Laras memandangi cincin berlian yang tersemat di jari manis kirinya. Ia masih tidak percaya bahwa Rizal dengan mantap melamarnya seminggu lalu. Kesungguhan Rizal meruntuhkan dinding keraguannya. Ia masih mengingat jelas kata-kata Rizal saat mengajaknya makan siang di River Side, sebuah restoran mewah yang berada di sisi Sungai Musi.
“Aku terlalu takut melangkah bersama kamu, Kak. Apalagi latar belakang keluargamu yang mudah saja mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku. Dan masa laluku yang .…”
Ucapan Laras seolah-olah tercekat di tenggorokan saat melihat apa yang disodorkan Rizal. Sebuah kotak merah kecil berbahan beledu terlihat manis di hadapannya.
“Kakak gak mau tau masa lalu apa yang Laras ingin lupakan. Bukankah kita seharusnya berterima kasih dengan masa lalu, karena dengan adanya mereka, kita terlahir kembali menjadi pribadi seperti sekarang. Sebuah cermin itu mengilat karena sering digosok, Ras?” Rizal berusaha mengisi kepercayaan wanita yang tidak suka mawar tersebut.
Laras menunduk, lalu menatap Rizal. Tawa kecil meluncur dari bibirnya, ada rasa haru yang menyeruak. “Meski aku seorang janda? Gimana kalo nanti, aku gak sesuai dengan harapan Kakak atau harapan mamamu, apa gak papa?” tanyanya masih diselimuti keraguan.
__ADS_1
Rizal meraih kedua tangan Laras, lembut. Digenggamnya tangan putih halus itu sembari menggosok-gosokkan ibu jari di pergelangan Laras. Wanita itu mengalihkan pandangan ke Jembatan Ampera yang menjulang tinggi di ujung sana. Bahkan, sejenak perhatian Laras tertuju ke LRT yang melintasi Sungai Musi.
“Jujur, kakak suka dengan personality Laras sejak pertama kita ketemu. Kamu berbeda, Ras. Kepribadianmu itu yang membuat kakak yakin untuk berkomitmen dan memilih kamu. Yakinlah, Ras. Saat kakak udah milih kamu, nerima kekurangan kamu, itu artinya kakak udah siap hidup bersama dengan kamu, selamanya. Menikahlah … denganku, Ras.”
Rizal memandang hangat wanita yang dicintainya itu. Ia sendiri cukup heran dengan kata-kata yang muncul begitu saja dari bibirnya. Selintas, ia membenarkan apabila seseorang sedang jatuh cinta semua bisa jadi pujangga.
Laras terperangah, masih tidak percaya dengan perkataan Rizal. Degub jantungnya tidak bisa dikatakan baik. Betapa gugup dirinya hingga tulang persendian terasa lemas. Terlebih saat Rizal berdiri mendekat, berjongkok di hadapannya, dan menyematkan cincin berlian ke jari manis.
Beberapa pengunjung restoran yang berada di dekat mereka, seketika berdiri dan memberikan tepuk tangan kepada Rizal.
__ADS_1
Laras tersenyum penuh syukur bila mengingat setiap pertemuan dengan Rizal. Apalagi saat mengingat pertemuan tidak terduga antara dirinya dan Rizal di hutan bambu waktu itu.
Seorang klien mengundangnya makan siang bersama untuk merayakan keharmonisan pernikahan mereka yang ditengahi oleh Laras. Bahkan, tiket dan akomodasinya semua ditanggung sang klien. Klien perempuan itu mengajaknya bertemu di restoran yang memang tepat berada di samping hutan bambu.
Karena datang lebih awal, iseng Laras berkeliling sejenak menikmati keindahan di sana. Ia pun sempat memikirkan Rizal dalam langkah pelannya saat menyusuri hutan bambu tersebut. Namun, ia berpikir itu hal mustahil jika berjumpa dengan Rizal di situ.
Sampai ia bergetar saat Rizal menyebut namanya dengan perasaan yang sama-sama terkejut. Waktu berhenti berputar di sekeliling mereka. Keduanya lama dibius dalam tatapan tidak percaya. Laras pun percaya jika hubungan ini adalah jalan takdir Tuhan untuknya.
Tidak lama, suara bel berbunyi, membawa lamunan indahnya kembali. Laras melirik jam di dinding yang menunjukkan angka delapan lewat dua puluh menit. Setengah berlari ke arah pintu, wanita bergigi gingsul itu melihat dari peep hole siapakah gerangan yang datang bertamu. Gegas, ia membuka pintu apartemen setelah melihat sosok yang mematung di sana.
__ADS_1
“Ya ampun, Emak Twin? Lo kena—” Belum selesai kalimat yang hendak dilontarkan Laras, Kinanti langsung menyerbunya dengan pelukan.
Bersambung ...