
Meski terkejut dengan kedatangan Aksar, Kinanti berusaha bersikap normal. Ia berdiri untuk berjabat tangan dengan Aksar, seolah-olah bersemangat menyambut. Ia menghela napas, lalu mengembangkan senyum terbaiknya.
“Baiklah, Pak Aksar. Sepertinya kita belum berkenalan secara resmi. Selamat datang di GrewMedia, semoga ke depannya kita bisa bekerja sama dengan lebih baik.” Kinanti tersenyum.
Ia masih berusaha menutupi rasa gugupnya. Mereka saling berjabat tangan dengan kedua mata yang intens saling memandang.
“Senang bisa bekerja sama dengan kamu, Kinanti. Semoga novel saya kali ini bisa menjadi best seller di bawah pengawasan kamu,” sahut Aksar dengan santai.
Aksar masih menggenggam erat tangan Kinanti, walau wanita itu berusaha menarik tangan. Aksar makin mempererat genggaman. Senyum Aksar begitu cerah, kulitnya bersih kecokelatan. Hal itu menambah sempurna penampilannya.
Merasa terintimidasi oleh perlakuan Aksar, dengan sekali entakan, Kinanti melepas jabatan tangan. Wanita berambut sepunggung itu salah tingkah karena dipandangi seperti itu terus-menerus. Ia berbalik badan sedikit menjauh, mengambil oksigen sebanyak mungkin. Entah apa yang membuatnya gugup.
Sungguh, sosok Aksar sekilas mengingatkannya kepada sang suami.
Tiba-tiba terdengar bunyi ketukan pintu. Mira datang dengan dua buku dalam genggaman. Walau terkadang Mira terlihat menyebalkan, kali ini Kinanti merasa sedikit lega oleh kehadiran wanita itu. Paling tidak, kedatangan rekannya tersebut bisa mencairkan suasana kikuk antara dirinya dan Aksar.
“Hai, Mas Aksar. Aku Mira, salah satu editor di sini, partner kerja Kinanti. Welcome home, Sir.” Mira berusaha mengakrabkan diri. Ia menarik tangan Aksar dan memaksa untuk menjabat tangan lelaki itu.
“Oh, ya. Hai, Mba Mira. Senang berkenalan dengan Anda,” balas Aksar dengan tatapan ramah.
“Mas Aksar gak usah panggil aku Mba, deh, cukup Mira saja, oke?” Mira mengerlingkan mata dengan suara manja.
“Ah, ya. Senyamannya Anda, saya ikut.” Aksar berkata datar, tetapi pesona ketampanannya yang memanjakan mata Mira.
“Boleh, ya, aku minta tanda tangannya, Mas? Aku penggemar semua novelmu, lho. Tau gak! Aku kek dapet jackpot pas tau kalo penulis Right Man itu, Anda orangnya.” Mira menyodorkan buku kepada Aksar. Memiliki potongan rambut model shag dengan highlight karamel cokelat cukup membuat Mira terkesan energik.
“Dengan senang hati,” sahut Aksar. Ia menerima novel dari tangan Mira, lalu menggoreskan tinta di dalamnya.
Kinanti berbalik ke arah meja, menunggu keduanya selesai bicara. Iseng, ia menelepon Surya untuk mengajaknya makan siang bersama. Sekali lagi, Kinanti kecewa saat hanya suara operator seluler yang menjawab panggilannya.
Melihat keakraban yang dibangun Mira, seharusnya Aksar lebih memilih dia ketimbang dirinya. Kinanti merasakan ada daya pikat yang terjalin di antara keduanya. Pastinya ini lebih memudahkan komunikasi saat membedah naskah. Bukan seperti dirinya, yang pada kesan pertama saja sudah membuat malu.
Waktu berlalu cukup lama bagi Kinanti karena merasa Mira mendominasi keberadaan Aksar. Ingin Kinanti menginterupsi Mira yang seolah-olah terus mencari sela pertanyaan untuk mengakrabkan diri. Padahal, antara dirinya dan Aksar belum membahas detail naskah. Namun, dibiarkannya saja Mira hingga titik bosan ditemui.
Kinanti berpangku tangan, membolak-balik halaman majalah. Kacamata baca yang membingkai wajah ovalnya makin terlihat menarik. Tak jarang, meski sedang berbicara dengan Mira, sesekali Aksar mencuri pandang.
“Hmm, maafkan jika kurang berkenan. Saya masih ada hal yang akan dibahas dengan Kinanti,” ucap Aksar kepada Mira. Ia berusaha mengakhiri pembicaraan dengan hati-hati.
“Oh, iya, jadi kebablasan, ‘kan? Sorry, ya, sudah ganggu waktunya Mas Aksar. Aku makasih banget, nih.” Mira beranjak dari duduknya.
Kemudian, wanita itu melangkah menuju pintu. Ia menoleh sebentar sambil berkata, “Keberatan, gak kalo kapan-kapan aku ajak kamu ngopi, Mas?”
__ADS_1
Aksar melingkarkan telunjuk dan ibu jari kepada Mira sebagai isyarat setuju. Pintu ruangan tertutup. Kinanti menutup lembar majalah, melepas kacamatanya.
“Huuh.” Aksar menghela napas seolah-olah baru melepaskan sebuah beban berat.
Kinanti menyunggingkan senyum, lalu mempersilakan Aksar duduk. Untuk mengatasi kecanggungannya yang tidak beralasan, ia sudah menyusun apa-apa yang akan jadi topik pembicaraan mereka berdua siang ini.
“Sepertinya, Anda punya fans garis keras di sini, ya, Pak!” canda Kinanti memulai percakapan.
“Oh, ya. Seperti itukah yang terlihat?”
“Sepertinya sih begitu, Pak.” Kinanti berseloroh sembari membenarkan posisi kacamatanya.
“Kamu tak usah terlalu resmi. Panggilan ‘Pak’, membuat saya seperti pria renta di depan seorang anak,” canda Aksar sembari bersedekap.
Tidak ayal, ucapan Aksar membuat Kinanti tertawa. “Jadi panggil apa, dong? Abang? Abang becak atau abang bakso, nih?” Kinanti melempar canda lagi.
“Kalo Abang sayang, boleh?”
Kinanti kembali terkekeh. “Jujur ni, sebenernya sampe sekarang saya masih bertanya-tanya alasan Pak Aksar milih saya jadi editor naskah Anda. Apalagi dibanding dengan yang lain, track record saya belum sebaik rekan editor lainnya,” katanya sembari tersenyum miring.
Aksar menoleh kepadanya. Mereka saling bertukar pandang. Lelaki itu sejenak diam, mengusap-usap tengkuk. Sepertinya ada yang ingin ia katakan, tetapi tertahan karena suatu alasan.
“Tidak ada alasan khusus. Hanya saja, saya merasa lebih cocok bekerja sama dengan kamu.”
“Silakan, senyaman kamu aja. Tapi, boleh saya panggil kamu Kinan, ‘kan?” Aksar balik bertanya sambil mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya. Ia merasa gugup saat mengatakan hal itu. Tangannya berkeringat dengan nadi yang berdenyut lebih kuat karena sudah sejauh ini dekat dengan Kinanti. Bahkan, tadi pagi, ia sengaja menunggu kedatangan Kinanti agar bisa naik lift bersama.
Deg!
Lagi-lagi, Kinanti jadi salah tingkah. Karena sepanjang hidupnya, hanya Surya yang memanggilnya dengan nama pendek tersebut.
“Ya, senyamannya Anda juga, Pak. Tapi, rekan kerja di sini biasa memanggil saya Kinanti. Oh, iya, ngomong-ngomong soal naskah, saya sudah membaca beberapa bab dari naskah novel.” Kinanti mengalihkan pembicaraan dan tampak serius.
“Ada masukan?”
“Banyak! Bahkan, seperti yang pernah saya sampaikan waktu pertama kali bertemu, Anda terlalu bertele-tele di paragraf pembuka,” jelas Kinanti. Dengan mimik muka, ia serius menunjukkan salinan naskah Aksar yang sudah dicoretnya menggunakan tanda silang bertinta merah.
“Wow … ribuan kata yang saya untai sepertinya sedang dibabat habis!”
“Permulaan kerja yang cukup menegangkan, bukan? Sepertinya Anda harus mengetahui jika ritme kerja saya cukup tinggi. Apalagi setelah saya melihat beberapa bagian yang perlu diperbaiki. Ada beberapa adegan yang akan saya cut tanpa memengaruhi ….”
Kinanti terus mengoceh sembari melihat naskah sehingga tidak sadar sosok Aksar sudah berada di balik punggungnya. Suara Kinanti tertahan di tenggorokan, gerakan tangannya di naskah pun terhenti. Lelaki itu mengambil alih pena merah di jemari Kinanti.
__ADS_1
Gerakan Aksar yang sedikit merunduk meninggalkan aroma parfum yang membekas di indra penciumannya.
“Coret aja, gak papa. Saya terima. Makin banyak revisi, makin lama masa kerja kita berdua, ‘kan?” Aksar mencoret naskahnya lewat punggung Kinanti.
Sekilas, gerakannya justru seperti sedang memeluk Kinanti.
Kinanti tertegun. Aksar menoleh, memandang wajah wanita yang hanya berjarak lima belas sentimeter dari wajahnya.
Kinanti tersadar, lalu segera beranjak memberi jarak antara dirinya dan Aksar. Ia berpikir, sepertinya laki-laki itu punya maksud atau bahkan memiliki perasaan lain kepadanya. Ia memukul-mukul kepala untuk mengembalikan kewarasannya yang sempat menguap.
“Pak, bisakah kita bersikap profesional? Saya gak tau Anda punya maksud apa terhadap saya. Tapi, yang perlu saya tegaskan di sini kalo saya udah menikah, dan rumah tangga saya sangat bahagia. Jadi, sangat tidak mungkin untuk saya memikirkan pria lain selain suami saya.”
“Maaf jika sikap saya membuat kamu tidak nyaman, Kinan. Anda mengingatkan saya dengan sosok … ah, sudahlah.”
Kinanti masih diam dan membuat jarak yang cukup jauh dari lelaki itu. Wajahnya berubah datar memandang Aksar yang juga merasa bersalah.
Aksar menyadari bahwa ia terbawa suasana hingga bersikap seperti tadi. “Saya minta maaf untuk hal barusan. Saya pamit dulu, nanti kita bahas naskahnya via email saja,” ucapnya sembari berlalu dari hadapan Kinanti.
Kinanti memandangi punggung lelaki itu hingga menghilang di balik pintu. Ia menengadahkan kepala lalu mengeluarkan napas agak keras. Untunglah akal sehatnya tidak terlalu pergi jauh.
Di sisi lain, tawa kecil Aksar meluncur. Sepertinya, jalan untuk dekat dan memiliki Kinanti mulai terbuka.
***
Walaupun sudah sampai di rumah, Aksar masih berada di balik kemudi mesin mobil yang terus menyala. Diambilnya foto Kinanti dari dompet. Foto yang sudah lama menjadi pemanis dalam aksesori itu. Foto yang ia ambil diam-diam ketika sosok Kinanti masih berbalut jas almamater. Ingatan Aksar berkelana ke belasan tahun silam,
“Aku dengar kau sedang mendekati seorang gadis,” ujar Sutrisno datar sambil duduk di hadapan putranya.
Lelaki paruh baya itu menyodorkan foto Kinanti yang berdiri dengan latar belakang Jembatan Ampera dan tangan kanan membentuk simbol perdamaian. Diliriknya foto sang gadis pujaan itu lekat-lekat. Meski sedikit terkejut, Aksar berusaha tetap bersikap seperti biasa. Aksar tidak heran jika sang ayah mengetahui hal remeh seperti ini.
Sebagai seorang pengusaha properti, mudah saja bagi Sutrisno untuk menyewa seseorang menyelidiki tingkah laku anak-anaknya.
“Ehm, Aksar cuma sekedar mengaguminya, Pa! Tidak lebih,” kilah Aksar sedikit membetulkan posisi duduk.
“Lebih pun tidak masalah. Aku bahkan bisa menikahkanmu dengan gadis itu jika kau mau.” Sutrisno menatap Aksar sambil mengepulkan asap dari cerutu yang ia isap.
Aksar yang sedari tadi menunduk, dengan cepat menatap wajah ayahnya. Wajah yang sangat ia rindukan, tetapi rindu itu bertepuk sebelah tangan. Ia mengubah posisi duduk menyilangkan kaki.
“Benarkah, Pa?” tanya Aksar penuh harap.
Sutrisno mengangguk, lalu mematikan cerutu ke dalam asbak berbentuk kepala ular di depannya. “Dengan satu syarat ….”
__ADS_1
***