
Notifikasi pesan mengalihkan pandangan Laras dari layar laptop. Ada desiran halus saat mengetahui siapa gerangan yang mengirimkan pesan. Seutas senyum terkulum dari bibir manisnya, tetapi detik kemudian senyum itu lenyap. Lima belas hari sudah ia menunggu kabar dari Rizal, sehari setelah masa yang ia ajukan berakhir.
Laras memberi waktu untuk Rizal berpikir selama dua minggu, dan sepertinya dokter muda itu memanfaatkan waktunya dengan pertimbangan yang luar biasa. Bahkan, sebenarnya Laras sudah berhenti berharap saat waktu penantiannya berakhir. Meski memiliki perasaaan yang sama kepada Rizal, ia cukup tahu diri dan tidak berharap lebih.
Terkadang, Laras ingin menertawai keadaan. Ia yang dengan mudah menjadi malaikat bagi klien ataupun sahabatnya, tetapi cenderung apatis menilai diri pribadi. Pernah menjadi korban perundungan semasa sekolah mungkin menjadi salah satu sebab Laras menjadi rendah diri. Apalagi bertahun-tahun tinggal dengan keluarga ibu barunya, ia makin berkecil hati.
Bisa ketemuan di Sri Melayu hari ini?
Laras?
Please bales chat kakak, Ras. Atau kakak ke kantor Laras sekarang!
Laras yang memang tidak ingin bertemu dengan Rizal gegas membalas pesan.
"Laras lagi gak enak badan, gak kerja, Kak. Nanti kita bicarakan lagi ya. Bye."
Setelah itu tidak ada jawaban lagi dari Rizal.
“Haaah!” Laras mendesah panjang, berusaha menetralkan rasa dan semua gejolak yang seketika bertalu. Sepertinya tidak ada laki-laki dalam hidupnya yang berani memperjuangkan dirinya seperti Kinanti. Menyadari hal itu, entah mengapa hati Laras terasa nyeri. Mengapa ia tidak seberuntung sahabatnya?
Masih teringat jelas masa-masa sulit itu, saat ayahnya menikah lagi, lalu menghilang bertahun-tahun meninggalkannya bersama sang ibu dalam kesengsaraan. Pekerjaan ibunya sebagai buruh pabrik cat berdampak terhadap gangguan paru-paru hingga kritis dan meninggal saat Laras masih kelas dua SMA.
Setelah itu, sang ayah membawanya ke rumah istri kedua. Hidup bersama ibu dan tiga saudara tiri bukanlah hal yang mudah baginya. Ejekan dan sindiran sering kali ia dapatkan dari mereka. Namun, Laras terus bersabar demi kuliahnya terus dibiayai sang ayah.
Laras berpikir penderitaannya akan berakhir setelah lulus kuliah dan bekerja. Namun, lagi-lagi, dugaannya meleset. Ayahnya menjodohkan dirinya dengan seorang anak relasi bisnis demi mendapatkan tender miliaran rupiah dari sang calon besan, seorang laki-laki yang usianya terpaut 12 tahun lebih tua darinya.
Wajar saja jika ibu tirinya memilih Laras dibanding tiga putri kandung untuk dijodohkan dengan lelaki itu. Bahkan, Laras harus kembali menelan pil pahit saat pertemuan pertama antar keluarga.
__ADS_1
Laras terpaku mendapati sang calon suami duduk di kursi roda dengan wajah layu memucat. Ia tersenyum getir, membayangkan nasib pernikahannya nanti. Namun, ia coba menerima takdir Tuhan yang tertulis untuknya.
Dua bulan mengenal calon suami, rasa simpatinya perlahan muncul. Hatinya mulai terbuka, bahkan menganggap pernikahan itu adalah satu-satunya jalan keluar dari rumah.
Saat hari pernikahannya tiba, justru hari besar itu menjadi kenangan paling buruk dan terpatri di memori otaknya. Suami yang baru tiga jam mengucapkan akad, tertidur pulas di kamar tidur tanpa pernah terbangun lagi. Kanker darah yang diderita sejak remaja, membawa suaminya pulang ke sisi Tuhan selamanya.
Sejak saat itulah, Laras tidak lagi memikirkan untuk menikah. Rasa hatinya lebur terbawa pergi saat hari besar itu. Apalagi beberapa hati yang sempat singgah mundur teratur setelah mengetahui dirinya seorang janda.
Untunglah, kedua mertuanya selalu berempati kepadanya. Bahkan, pendidikan S-2 Laras dan pekerjaannya saat ini adalah berkat kasih sayang dan koneksi sang ayah mertua. Meski memilih hidup terpisah, hubungan Laras dengan kedua mertuanya tetap terjalin baik hingga saat ini.
Kini, bayang-bayang Rizal seolah-olah tersenyum di hadapannya. Laras menghela napas frustrasi. Lagi-lagi, ia tersenyum getir mendapati bahwa Tuhan sedang bercanda mempermainkan jalan hidupnya.
Lagian, laki-laki mana yang dengan mudah menerima janda sepertiku? Laras beranjak dari tempat duduknya, mencoba menenangkan semua pikiran yang sedang berkecamuk.
Namun, saat membuka pintu ruangannya, ia tertegun mendapati sosok yang sedang dipikirkan itu berdiri tersenyum di hadapannya.
Intuisi Rizal kali ini tidak salah. Ia yakin Laras hanya menghindarinya. Batas waktu yang sudah lewat pasti membuat wanita itu kecewa. Rizal mendesah ketika mengingat perjuangan yang tidak mudah baginya untuk sekadar mengatakan kepada sang ibu tentang wanita yang ingin ia dekati.
Rizal melangkah memasuki ruangan yang diikuti dengan gerak mundur perlahan Laras. Laras berbalik. Namun, ia menahan lengan wanita itu.
“Please, Ras. Kasih kakak kesempatan. Jangan menghindar dari kakak. Kakak sadar kalo kakak takut kehilangan kamu, Ras!”
Laras menoleh, kembali berbalik menatap manik mata kehitaman milik Rizal. Perasaan hangat mengaliri hatinya. Ia mendengar ucapan lelaki itu. Ia mampu merasakan kejujuran dari setiap kata-kata Rizal.
Namun, sekali lagi, ia coba menutup diri dan meyakini jika itu bukan hal yang nyata. Ditepisnya tangan Rizal perlahan. Detik yang sama, ia merasakan detak jantung dan napasnya terasa sesak saat mengatakan, “Kak, andai kita benar berjodoh. Aku ingin sekali lagi memastikan hal itu.”
“Hal apa? Apa kamu tidak melihat kesungguhan di mataku, Ras?”
__ADS_1
“Aku percaya, Kak! Cuma rasanya masih agak sulit jika memang ini adalah hal nyata bagiku, Kak!”
“Jadi, apa yang bisa membuatmu percaya kalo perasaanku nyata? Kakak terima apa pun keadaanmu. Apa itu masih belum cukup?”
“Kata Kak Rizal, kita udah pernah ketemu tiga kali tanpa sengaja, ‘kan?
“Ya. Riverside, Kedai Tiga Nyonya, dan di klub. Kakak masih inget semua.” Rizal berdecak mengingat semua pertemuan yang seolah-olah sudah diatur oleh Tuhan untuknya.
“Aku ingin memantapkannya sekali lagi bahwa kita memang berjodoh, Kak!”
“Ada hal yang perlu kakak lakukan? Apa? Katakan!” Rizal selangkah lebih maju. Kini, matanya menatap lurus sepasang netra bening berkaca milik Laras.
Keduanya saling berpandangan, terdiam, saling menutupi debar jantung mereka yang mendadak sedemikian cepat tidak berirama.
Laras merasakan butterfly in tummy. Baru kali ini, ia sedekat itu dengan Rizal.
Rizal mendekatkan bibirnya ke telinga Laras hingga bisa mencium harum bunga dari rambut kecokelatan itu.
Laras sontak menarik diri, sedikit menjauh ketika hangat napas Rizal terasa di sebagian wajah tirusnya. Meski ingin, ia coba menahan gejolak aneh yang melintasi pikiran.
“Katakan, Laras ….” Suara berat Rizal semakin lirih. Pandangan Rizal mengekori gerakan Laras yang menjauh hingga wanita itu berdiri di dekat jendela. Entah mengapa, Laras makin terlihat cantik saat sinar matahari menerpa wajahnya.
“Aku ingin kita bertemu sekali lagi tanpa sengaja di suatu tempat entah di mana, tapi bukan di Kota Palembang ini. Aku ingin memastikan sekali lagi, bahwa memang Tuhan menakdirkan kita bersama.”
Rizal mematung mendengarkan syarat aneh yang dikatakan oleh sang pujaan. Ia menatap wanita yang ia cintai itu tanpa kata.
Tuhan bantu aku sekali lagi.
__ADS_1
***