Tuba Semanis Madu

Tuba Semanis Madu
CINTAKU TELAH MEMILIHMU


__ADS_3

Lantai dua Vintage Cafe tempat Aksar sekarang berada memang dirancang untuk mereka yang menginginkan ketenangan. Terletak di daerah Bukit Besar, kafe dibuat sesuai dengan namanya. Bertema klasik dengan cahaya temaram dan layout ruang yang didominasi putih kecokelatan, kafe ini cukup digemari. Alunan musik instrumental mengalun perlahan.



Kebanyakan pengunjung duduk sendirian, sama seperti Aksar malam ini. Dari lantai atas sini, ia memandang kerlap- kerlip Kota Palembang yang tampak bercahaya penuh warna. Aksar menyesap kopi hitam sembari menghidu aroma dengan mata terpejam. Pikirannya kembali mengingat romantisme yang terjadi antara dirinya dan Kinanti.


Manis, sangat manis.


Aksar terus membayangkan semu merah muda di wajah Kinanti hingga jiwanya makin bergelora. Ia meyakini, Kinanti memiliki rasa seperti yang ia rasakan. Rasa yang membuncah seolah-olah tanpa perlu berkata, mereka terikat cinta. Ia bisa melihat hal itu dari binar mata Kinanti saat menatapnya.


Aksar mendesah, bahkan setelah belasan tahun, cintanya tidak pernah pudar untuk wanita itu. Semua pesona Kinanti terlalu sempurna, tidak mau enyah hingga bertahun ia berselimut gundah. Ia kembali memejam, berharap keajaiban memeluk dirinya dan menghadirkan Kinanti walau dalam bayangan.


Saat kelopak matanya kembali terbuka, ia menangkap bayang wanita yang baru saja hadir dalam minda.


Kinan? Apakah itu kamu?


Ia tersenyum, percaya Tuhan sedang memeluknya dalam keajaiban-keajaiban kecil.


***

__ADS_1


Kinanti mengendarai mobil di Jalan Jenderal Sudirman yang tampak lengang. Deretan warung martabak manis, depot jamu, dan kafe yang menjamur kala malam menjadi pemandangan yang menghibur. Hatinya gamang di antara dua pilihan. Sudah tiga kali ia memutari jalan yang sama hanya sekadar menahan rasa untuk bertemu Aksar.


Pikirannya mendadak kacau. Kinanti memutar setir, mengarahkannya menuju rumah Aksar. Ia sadar ini benar-benar suatu kesalahan. Namun, kali ini hasrat mengalahkan kejernihan akal. Ia merindukan Aksar, merindu layaknya candu.


Candu untuk bertemu semakin nyata bila teringat ciuman hangat yang memancing hasrat terpendam.


Tangannya mulai terasa lembap saat ia memasuki perumahan dengan ikonik beberapa patung kuda berlari. Ia bahkan tidak peduli saat satpam—yang berpapasan di gerbang—menanyakan rumah yang hendak ia dituju.



Kini, Kinanti tepat berada di depan gerbang rumah Aksar. Pikirannya kalut antara turun menemui lelaki itu atau tidak. Ia menyumpahi dirinya sendiri yang seperti wanita binal untuk menemui pria di tengah malam. Ia mengetuk-ngetuk kemudi, masih menimbang rasa. Akal sehat dan nafsunya kembali berperang, berusaha membenarkan pendapat masing-masing.


Suasana kafe tidak begitu ramai saat Kinanti masuk. Ia menapaki titian tangga paling atas lantai dua kafe semi outdoor tersebut. Setelah mengedarkan pandangan mencari meja kosong, tatapannya berserobok dengan sosok yang menemani mimpinya beberapa malam terakhir.


Kinanti masih tidak percaya dan salah tingkah, berharap sosok yang dilihatnya adalah orang yang salah. Ia mengigit ujung bibir dan masih berharap jika itu bukan imajinasi belaka.


Ternyata benar, ini memang nyata. Manik mata sendu Kinanti yang menyiratkan rindu, tetap tidak berpindah arah. Bukan hanya jantungnya yang bertalu, kini ditambah dengan keringat dingin berpeluh. Terbawa suasana, Kinanti seolah-olah tersihir oleh pesona lelaki itu.


Kakinya terus melangkah ke arah lelaki yang juga tengah menatapnya.

__ADS_1


Ya, ini bukan dosa lagi. Ini candu yang disodorkan kepadaku. Tuhan memang hendak mempertemukan kita untuk menuntaskan rindu.


“Mas Aksar,” sapa Kinanti dengan wajah berbinar.


Aksar mendatangi Kinanti, memegang jemari lentik wanita itu, lalu membawanya duduk di kursi kayu paling tepi di kafe. Suasana romantis makin mendukung keberadaan mereka karena di lantai dua hanya ada mereka.


Pesona Aksar malam ini sungguh ******* Kinanti hingga ke ubun-ubun. Malam itu, mereka seperti layaknya pasangan muda mudi yang saling menawan sukma.


Kinanti menumpahkan segala resah tanpa canggung di hadapan Aksar.


“Mau ke pantai akhir pekan ini?” Aksar kembali menawarkan candu sembari mengelus jemari wanita itu lembut.


“Tapi, besok adalah hari pra penjualan online novelmu, Mas. Aku harus melihat grafik penjualan itu tiap jam dan memastikan semua berjalan sempurna.”


“Tidak masalah. Justru itu bisa jadi alasan Kinan, ‘kan?”


Kinanti tersenyum, lalu mengangguk. Ia sadar tengah bermain api yang menerangi hasrat tergelapnya. Lalu, keduanya menikmati malam dengan hati yang sama-sama bergejolak.


Tanpa mereka sadari, sebuah Land Rover hitam metalik mengamati gerak-gerik mereka dari kejauhan.

__ADS_1


***


__ADS_2