
Kinanti menyusuri jalan pulang dengan berbagai perasaan berkecamuk. Dua lelaki sedang berlomba memenangkan hati. Ia terlihat gamang di antara dua persimpangan dan bingung untuk menentukan pilihan: bertahan atau coba bermain hati.
Bahkan, saat Sarma menyapa begitu dirinya tiba di rumah, Kinanti terus berlalu mengabaikan keberadaan ibu dan kedua putrinya. Untunglah, Sarma memaklumi dan menganggap hal itu karena efek kelelahan dari padatnya pekerjaan Kinanti.
Setelah mandi dan masih mengenakan kimono handuk, Kinanti duduk memandangi pantulan dirinya di meja rias. Perlahan, ia menyentuh bibirnya yang terasa lebih merona. Ia berulang kali membasahi bibirnya bila mengingat kejadian siang tadi. Seketika wajah ibu dua anak itu menghangat dan detak jantungnya bekerja tidak normal.
Tiba-tiba Kinanti menggeleng-gelengkan kepala dan merasa bersalah terhadap Surya. Detik berikutnya, ponselnya di nakas bergetar. Ia beringsut dan meraih ponsel untuk melihat siapa yang meneleponnya malam ini.
Sebuah panggilan video dari Aksar membuatnya terkesiap. Lama ia memandangi panggilan tersebut. Hatinya bimbang antara menerima panggilan telpon tersebut atau tidak. Lalu, pandangannya tertuju ke sebuah foto pernikahannya dan Surya dalam pigura emas yang tergantung manis di dinding. Akhirnya, ia mengetuk ikon tanda merah sebagai penolakan.
Pesan Whatsapp dari Aksar muncul di layar sebagai respons penolakannya tadi. Sedikit ragu, Kinanti membuka pesan laki-laki itu.
[Beri saya 20 detik untuk menatap Kinan malam ini. Nanti Kinan mesti jujur, jika saya masih terlihat seperti seperti sebuah dosa, berarti ini bukan cinta.]
Tidak ada balasan dari Kinanti. Ia hanya membaca pesan itu dengan pikiran kosong.
[Tapi, jika Kinan merasa bahagia, mohon sejenak singgah pada sebuah rasa.]
tulis Aksar kembali
Kinanti masih diselimuti awan keraguan dan rasa bersalah sehingga tidak membalas pesan Aksar. Sebuah tautan dari link Instagram dikirim laki-laki itu kepadanya. Ia meninggalkan ruangan percakapan, lalu beralih menuju tautan tersebut.
Sebuah foto menampilkan gambar jendela dan pemandangan danau di luarnya. Di tengah-tengah jendela tersebut, sebuah kotak musik dibiarkan terbuka. Kinanti jelas sangat mengingat tempat di dalam foto itu. Tempatnya siang tadi memagut kasih. Dibacanya perlahan puisi yang ditulis Aksar di caption yang menyertai.
Sudut hati Kinanti terenyuh membaca postingan tersebut. Ia merebahkan diri di tempat tidur, lalu menatap langit-langit dengan pandangan kosong.
[Aku takut, Mas. Ini pasti menyakitkan.]
__ADS_1
[Kinan gak akan tahu apa itu sakit, sampai rasa sakit adalah satu-satunya hal yang Kinan tahu.]
Aksar kembali mengiriminya pesan yang langsung terbaca oleh Kinanti. Tidak lama berselang, sebuah tautan dari aplikasi Joox dikirim oleh laki-laki itu.
[Saya sangat menyukai lagu ini, karena ini sangat mewakili rasa sesak sebuah hati.]
Walau tidak merespons pesan Aksar, Kinanti gegas menekan tautan tersebut. Satu lagu milik Nidji berjudul Semesta Hidupku mengalun lembut. Kinanti mendengarkannya dengan penuh perasaan.
Kau penghancur nirwana
Distorsi alam sadarku
Aku mulai menggila memikirkanmu
Saat peluknya mengantar tidurmu
Setiap malam, dengarlah
Tinggalkan kekasihmu
Tinggalah bersamaku
Dari semesta hidupku
Aku mulai menggila memikirkanmu
Saat peluknya mengantar hidupmu
Setiap hari (ingin kurebut dirimu)
__ADS_1
Tinggalkan kekasihmu
Tinggalah bersamaku
Dari semesta hidupku
Jangan salahkan cinta
Salahkan takdir manusia
Tinggalah bersamaku
Engkau semesta hidupku
Bukan cinta, bukan cinta yang salah
Bukan cinta, hanya takdir yang salah
Bukan cinta, bukan cinta yang salah
You are my universe, my constellation
You are the highest, the highest state in my mind
In my mind
***
Bulir air mengalir dari mata Kinanti. Ia masih memejam, merasa enggan menghadapi sebuah rasa yang memang mulai bersemi di tempat yang salah. Setelah itu, panggilan video dari Aksar kembali muncul dari ponselnya. Kali ini, ia tidak ragu untuk mengetuk dial hijau.
__ADS_1
***