
“Mama …!” pekik Arqee sembari memeluk Kinanti. Gadis berkuncir kuda itu menyambut kepulangan mamanya dengan gembira.
“Tumben, Mama pulang cepet. Pesenan Arqee tadi ada, ‘kan?” Arqee melirik kantong plastik yang dibawa Kinanti.
Kinanti memberikan seutas senyum, lalu mengelus pipi si Bungsu dengan lembut, menyerahkan belanjaan tersebut kepadanya. Terkadang, ada rasa bersalah di hati wanita itu karena akhir-akhir ini kurang meluangkan waktu untuk si Kembar.
Mereka berdua berjalan ke arah ruang tengah, lalu mendaratkan tubuh di sofa berbahan camel leather cokelat pucat. Bagaskara yang semakin melandai di batas cakrawala mengintip dari jendela kaca setinggi dua meter lewat dinding sebelah kiri.
Permadani wol terhampar di lantai. Meja kenari berbentuk balok dengan lampu gantung di atasnya, makin menggambarkan kesejukan rumah bergaya kontemporer.
“Mama lagi gak enak badan, Sayang. Makanya, tadi minta izin biar bisa pulang cepet. Ngomong-ngomong, sekolahnya gimana hari ini, Nak?” Kinanti bertanya kepada si Bungsu yang duduk di sampingnya.
“Tidak begitu buruk ….” Arqee berkata tidak bersemangat sembari menundukkan pandangan.
Kinanti kembali meletakkan ponsel yang baru saja ia ambil. Diurungkan niatnya untuk menghubungi Surya. Ia menyadari perubahan mimik muka anak gadisnya. Sepertinya, si Bungsu ingin menceritakan sesuatu.
“Tidak begitu buruk? Benarkah begitu, Sayang?” Kinanti mengelus rambut anaknya pelan. Ia berupaya memancing Arqee agar bercerita.
“Entahlah, Ma,” jawab Arqee tidak bersemangat.
“Anything wrong with you? Tell me more, Sweety.”
Arqee hanya menatap langit-langit sambil mengetuk-ngetuk bibirnya dengan telunjuk, seolah-olah sedang menimbang-nimbang sesuatu. “Hmm, gimana, ya? Arqee bingung mo mulai dari mana.”
__ADS_1
“Bentar, mama ganti baju dan cuci tangan dulu.” Kinanti menyela sejenak pembicaraan antara mereka hendak beranjak menuju lantai atas. Jujur, tubuhnya belum siap untuk mendengarkan celoteh sang putri. Ia butuh kesegaran untuk menghilangkan keletihan.
“Gak jadi, Ma! Nanti aja, deh!”
“Heh. Kok gak jadi?
Kinanti yang baru saja menjejakkan langkah ke undakan, seketika berhenti lalu berbalik ke arah dapur untuk sekadar membasuh muka. Dengan handuk wajah yang masih berada di bahunya, Kinanti kembali duduk di samping Arqee.
“Ayo, cerita ke mama! Mama dengerin.”
“Tapi, Mama jangan marah, ya?”
Kinanti mengangguk dan membalas dengan dehaman singkat. Firasatnya benar, ada sesuatu yang ditutupi Arqee.
“Jadi, Ma. Di kelas Arqee, kan, ada anak baru. Cewek, namanya Karin. Anaknya cantik, ngomong Inggris-nya fasih banget, Ma. Kerenlah pokoknya! Tadinya Arqee mo belajar cas-cis-cus ama dia, tapi gak jadi,” ujar Arqee membuka topik.
“Loh, kenapa gak jadi?”
“Ogah! Anaknya sombong, milih-milih kalo temenan,” jawab gadis itu dengan muka cemberut. Ia menggelengkan kepala dengan cepat.
“Trus kenapa nyeritaiin dia? Inget kata mama, ‘kan? Kita tidak perlu memberi perhatian pada orang-orang yang membuat kita tidak nyaman. Kamu cukup abaikan.” Kinanti mengusap-usap kepala Arqee.
Pelan, Arqee menyandarkan kepalanya di pundak sang ibu. “Arqee tadi dipanggil guru BK, karena berantem sama dia.” Arqee menyerahkan sepucuk surat dari balik punggungnya.
__ADS_1
Surat berkop nama sekolah diterima Kinanti perlahan. Kinanti menghela napas gusar, memastikan sekali lagi raut wajah sang putri yang masih serius. Ditatapnya bungsu dan surat itu secara bergantian. Meski dengan manik mata menenangkan, tetap saja bayangan ruang BK seolah-olah sudah memanggilnya.
Kinanti akui, walau terlahir kembar, Sharqee dan Arqee memiliki karakter yang jauh berbeda.
Arqee, yang lahir paling akhir, memang memiliki perangai cenderung keras kepala. Kulitnya lebih gelap dibanding sang kakak. Penampilannya pun lebih tomboi dibanding gadis seusianya. Sehari-hari lebih suka memakai kaus oblong dan celana jin. Ia yang paling lambat pulang, lantaran harus mengikuti ekstrakurikuler karate dan pramuka. Tak jarang, Kinanti disibukkan membeli peralatan kemah saat sekolah mengadakan perkemahan. Si Bungsu juga paling suka belajar bahasa asing. Impian yang selalu ia ceritakan adalah berkeliling dunia ketika dewasa nanti.
Berbeda dengan Sharqee yang lebih suka menyendiri dan lebih pendiam. Si Sulung lebih suka menggerai rambut ikalnya. Ia lebih banyak menghabiskan waktu di kamar hingga kulitnya putih pucat. Kadang, Kinanti tidak sengaja membaca larik puisi dan cerpen karya Sharqee di folder laptop milik sang putri. Ada kebanggaan tersendiri kepada si Sulung karena beberapa cerpen Sharqee pernah dimuat di majalah anak. Ia menuruni bakat Kinanti di bidang sastra. Karakternya lembut, penyayang, tetapi sedikit cengeng.
“Kenapa Arqee berantem sama anak itu?” Kinanti masih berkata dengan nada lembut. Perlahan, ia membuka isi surat dari guru konseling yang menyuruhnya untuk hadir ke sekolah.
“Habisnya Arqee kesel sama omongan dia. Jadi, kami adu mulut trus jambak-jambakan.” Arqee mengentak-entakan kaki, lalu menegakkan badannya kembali.
Kinanti terkejut, lalu memiringkan badan untuk menatap wajah Arqee. Sepertinya ini mulai serius, pikirnya.
“Emang dia ngomong apa, kok sampe kek gitu, Nak?”
“Ceritanya panjang, sih, Ma. Arqee, kan, lagi dalem toilet, terus tiba-tiba denger suara dari balik pintu. Ternyata Karin sama gengnya, kek lagi ngata-ngatain siapa gitu. Selesai pipis, Arqee keluar trus syok karena ngeliat Kak Sharqee lagi nahan tangis.” Arqee menjeda sesaat ceritanya. Ia menoleh ke tangga, takut jika sang kakak mendengar aduannya.
“Terus?” Kinanti mulai penasaran dengan cerita sang putri.
“Terus, Arqee lihat banyak sobekan kertas di sekeliling kakak. Ternyata, sobekan itu kumpulan karya kakak yang dirobek mereka, Ma. Makanya, Arqee marah dan berantem sama dia,” papar Arqee geram.
“Jadi, anak itu bully kakakmu?” tanya Kinanti sedikit berteriak. Hanya anggukan kuat sebagai jawaban Arqee.
__ADS_1
Kinanti yang mendengar penuturan Arqee terperanjat tidak percaya. Ia beringsut dari tempat duduknya menuju kamar si Sulung. Setengah berlari, ia melangkah menuju lantai dua.
Bersambung ...