
Kinanti pamit ke luar kota dengan dalih akan melakukan pendistribusian novel di agen buku. Ia juga beralasan akan menghadiri sebuah pelatihan yang diadakan oleh Ikatan Penerbit Indonesia.
Kinanti menelepon Surya untuk memberi kabar, tetapi hingga beberapa kali, telepon tidak diangkat. Ia lalu memesan taksi daring untuk menjemputnya dari rumah. Kinanti berhenti di sebuah halte, melanjutkan perjalanan menuju rumah Aksar dengan ojek. Dari ojek, ia berhenti dua puluh meter lebih jauh dari rumah Aksar. Ia tidak mau ada yang mengendus jejaknya.
Wanita penyuka es krim itu tersenyum kecut menertawai keahliannya dalam mengaburkan jejak yang tiba-tiba meningkat drastis.
Aksar sedang memanaskan mesin mobil saat Kinanti datang. Binar mata dengan senyum tertahan tertangkap jelas di netra lelaki itu.
Setelah semua barang tersusun di bagasi, mobil meluncur menyusuri jalan.
Perjalanan memakan waktu cukup lama, sekitar lebih dari empat jam membelah jalan Tol Kayuagung–Lampung. Aksar satu kali berhenti di pengisian bahan bakar, lalu memberi kesempatan kepada Kinanti untuk ke kamar mandi dan membeli makanan kecil.
Sesekali Kinanti memindai sekitar, berusaha mengantisipasi dari orang yang mungkin ia kenal. Untunglah, mobil SUV milik Aksar sama persis dengan milik sang suami sehingga selintas lewat tidak menimbulkan kecurigaan andai saja berpapasan dengan seseorang yang ia kenal.
Aksar menyetel pemutar musik yang ada di dashboard. Tidak lama, lantunan lagu-lagu dari grup band Naff terdengar mengiringi perjalanan mereka.
“Mas suka Naff juga?” Kinanti melirik Aksar. Lelaki itu bersenandung mengikuti lirik lagu yang diputar.
“Tadinya, saya tidak suka. Tapi, karena Kinan suka lagu-lagu Naff, Celine Dion, Tony Braxton, lama-lama saya juga menyukai semuanya.” Aksar masih menatap lurus di belakang kemudi, sesekali pandangannya melirik wanita yang ada di sampingnya.
Kinanti sendiri masih tidak percaya bahwa Aksar menyukainya sedalam itu.
Cintaku telah memilih
Dirimu untuk mencintaiku memiliki
Kuingin kau mengerti
Cinta sejati tak pernah mati, abadi selamanya.
Keduanya menyanyikan lagu itu bersama-sama. Aksar tidak henti-henti mencium punggung tangan Kinanti saat kesempatan datang.
The Mandiri Beach Club yang terletak di pesisir barat Lampung menjadi pilihan Aksar untuk berlibur. Bukan tanpa alasan ia memilih tempat itu. Selain letaknya cukup jauh dari keramaian, resort itu juga lebih banyak dikunjungi wisatawan asing karena ombaknya yang tinggi.
__ADS_1
Pegawai hotel membawa mereka ke salah satu pondok yang terletak paling ujung. Sepanjang jalan menuju lokasi, pandangan Kinanti tidak lepas dari deburan ombak yang menjulang tinggi. Beberapa turis asing yang sedang berselancar, menari bersama riak gelombang.
Senyum manis tidak pernah lepas dari bibirnya. Hal itu menjadi pemandangan tersendiri bagi Aksar.
Setelah meletakkan tas secara sembarang di pintu masuk, Kinanti berlari menuju tepi pantai. Ditinggalkannya Aksar yang berjalan di belakang.
“Aaa ...!” teriak Kinanti. Ia seolah-olah ingin membebaskan semua beban yang menyesakkan dada. Direntangkannya kedua tangan agar lebih leluasa menikmati terpaan angin laut. Ia membuka jaket denim yang ia pakai di sepanjang perjalanan, menyisakan sleeveless coat putih dipadu rok pantai motif floral.
Aksar menyusul dan berdiri di belakang Kinanti yang sedang memejamkan mata menikmati pesona Pantai Mandiri. Ia bertelanjang dada dan hanya memakai celana putih pendek di atas lutut. Kinanti cukup terperangah dengan banyaknya tato yang menghiasi dada Aksar. Kesan manly dan mendominasi jelas terlihat di gestur tubuhnya.
Aksar menangkap kedua tangan Kinanti yang masih terbentang. Kini, tidak ada keraguan dalam diri lelaki berbadan tegap itu. Ia meyakini, hati Kinanti sudah berlabuh ke dermaga cintanya.
Berbeda dengan Kinanti. Ia masih menyimpan sedikit keraguan saat Aksar memeluknya dari arah belakang. Ia mengurai simpul pelukan laki-laki itu, kemudian mencoba menjaga jarak. Ia menjauhi Aksar sebelum sisi liar menguasai. Saat hendak berjalan menuju bibir pantai, ia terkejut dan menoleh sejenak.
Aksar menarik kuncir rambutnya hingga rambutnya terurai lepas dan melambai tertiup angin.
“Saya lebih suka melihat Kinan dengan rambut seperti ini. Lebih cantik dan anggun,” ujar Aksar jujur dan sedikit merayu.
“Mas Aksar gombal, ihhh.” Kinanti berlari menjauhi lelaki itu.
“Mas, aku gak bisa berenang!” Kinanti berseru saat lelaki berdada bidang itu membawanya lebih dalam ke air laut hingga kedalaman mencapai pinggang.
“Gak papa, gak usah khawatir. Ada saya yang jaga Kinan,” ujar Aksar yang berada di belakang Kinanti. Deburan ombak sesekali menyapu dan menenggelamkan mereka.
Kinanti sedikit panik saat dirinya terombang-ambing di permukaannya. “Mas Aksaaar!” Ia menjerit sambil tertawa. Pegangan tangannya makin kuat di lengan Aksar.
“Gak papa, saya pegangin kamu. Kinan rileks aja,” sahut Aksar menenangkan.
Kinanti masih berada di sisi Aksar, mencoba menepi ke bibir pantai. Tiba-tiba ombak yang lebih tinggi menggulung mereka berdua. Kinanti panik hingga pegangannya sempat terlepas. Sigap Aksar memeluk Kinanti dari belakang, menahan hantaman gelombang ombak yang menerpa.
Setelah ombak laut mereda, kini ombak hasrat hadir menggelora.
__ADS_1
Kinanti mengerjap, berbalik menatap sorot mata teduh lelaki bertato itu. Laksana genderang yang ditabuh bertalu-talu, begitu pula jantungnya. Dahi mereka beradu dengan tatapan yang tidak lagi berjarak.
Pelan, Aksar meraih tengkuk Kinanti lalu mengusapnya dengan lembut. Waktu seakan-akan melambat, bahkan berhenti berputar. Sesaat keheningan tercipta di antara mereka. Detik berikutnya, entah siapa yang memulai lebih dulu, bibir mereka sudah saling berpagut, saling mencecap berbagi rasa.
Begitu manis dan menghangatkan, menjalari setiap relung hati dengan sapuan napas yang tidak kunjung berhenti.
Kembang bermekaran di halaman hati Kinanti. Terlebih saat Aksar menyiraminya dengan ribuan kata cinta menghunjam atma.
“Kinan ...,” desah Aksar dengan suara makin serak. Dibelainya kedua pipi wanita pujaannya yang sudah semakin merona.
“Mas Aksar ....” Kinanti mengerang tanpa memerdulikan dingin air yang menggenang di antara mereka. Ia kembali merasakan hangatnya cinta yang dulu pernah dirasakan di awal-awal pernikahan. Bahkan, sensasi butterfly effect in tummy kembali datang dan berhasil membangunkan sisi liar yang sedari tadi meronta.
Secawan anggur sepertinya tidak cukup memuaskan dahaga yang terpendam sejak lama. Sapuan napas hangat kembali beradu menjelma layaknya candu. Begitu pekat, dekat, tanpa sekat.
Aksar hadir bagai dadah yang melenakan, memabukkan, dan membawanya terbang ke langit renjana.
Bagi keduanya, dunia hanya berputar mengelilingi mereka. Sejoli yang dimabuk asmara itu tidak menyadari bahwa puluhan gambar mesra mereka telah diambil dari kejauhan oleh sosok yang tersenyum penuh seringai.
***
“Well, it seems God is on my side.” Mira mencibir momen saat Kinanti dan Aksar bermesraan.
Dalam balutan bikini putih, ia masih mengamati keduanya dari kejauhan. Hatinya bersorak kegirangan karena secara kebetulan ia bisa bertemu dengan Aksar dan Kinanti di tempat ini.
Mira masih menggulir foto-foto dalam galeri ponselnya. Ia memilah-milah foto yang menurutnya cukup menantang. Ada rasa panas yang menjalari hati wanita berambut bob sebahu itu. Walau sekarang dirinya bersama lelaki yang ia sukai, tetap saja ada rasa jejap melihat kedekatan Aksar bersama rivalnya itu.
“What do you mean, Darl?” ujar pria di samping Mira. Seorang WNA yang mengencaninya beberapa bulan terakhir.
“Nothing. Cuma mau kasih kejutan ke seorang temen,” ujar Mira dalam bahasa Inggris.
Seringai licik masih tersungging di bibir Mira. Terlihat centang biru dari chat Whatsapp-nya dengan seorang teman. Ia sudah tidak sabar menunggu foto-foto itu berpindah bentuk dalam lembaran kertas bewarna.
__ADS_1
***