
Aksar Author RM, batin Surya mengucapkan nama kontak tersebut.
Entah mengapa ia seperti tidak asing dengan nama tersebut. Namanya seperti pernah ia dengar di masa lalu. Surya melihat foto profil milik si penulis. Namun, yang terlihat hanya sebuah punggung pria berjas hitam dengan tato abstrak di tengkuk. Tidak ada foto yang menampakkan wajah yang mampu Surya lihat dari media di dalamnya.
Surya coba-coba mengingat, tetapi tetap saja nihil. Yang ada, justru bekas luka di kepalanya makin terasa sakit. Kemudian, ia melihat isi percakapan antara sang istri dan si penulis.
Awalnya ia masih bersikap biasa saja, tetapi makin diresapi sepertinya si penulis memiliki rasa yang lain terhadap Kinanti. Memang isi percakapan mereka banyak membahas soal naskah yang mereka kerjakan. Namun, Surya mulai tidak nyaman saat membaca beberapa isi pesan dari si penulis tersebut.
Malam nanti jangan keluar dulu
20.39
*Emangnya kenapa, Mas? Ada Gerhana*?
20.45
Bukan. Kehadiranmu membuat bintang-bintang cemburu.
20.46
__ADS_1
*Ahahhaha. Gombalnya salah tempat, Mas. Itu tarok di naskah aja*.
21.10
Saya tidak salah tempat. Kamu seperti bintang dalam hidupku, Kinan.
21.11
Surya terus melihat puluhan percakapan antara Aksar dan Kinanti. Jantungnya makin berdebar tidak keruan saat layar aktif di ponsel sang istri memperlihatkan history akun Instagram milik si penulis itu.
Dengan cepat, ia menghafal nama akun milik Aksar. Ia akan mencari tahu lebih dalam mengenai hubungan keduanya. Pandangannya beralih kepada Kinanti yang baru keluar dari pintu minimarket.
Kinanti membuka pintu mobil, duduk di kursi penumpang sambil menyodorkan sebuah minuman. Namun, minuman tersebut ditepis Surya dengan pelan. Ada mendung dalam wajah lelaki bercambang tipis itu.
Kinanti mengernyitkan kening atas sikap Surya, tetapi dirinya masih coba memahami keadaan.
Setelah beberapa saat, Surya menyalakan mesin mobil. Mobil kembali meluncur dari halaman minimarket bersama genangan air di pelupuk mata yang memburamkan pandangannya.
Sepanjang jalan hanya ada keheningan tercipta hingga mobil memasuki garasi halaman rumah. Keduanya masih terpaku di dalam mobil.
__ADS_1
Sungguh ironi, karena saat pergi tadi, suasana hati Surya diliputi sukacita hingga terbang ke langit lazuardi. Namun sekarang, ia seolah-olah terhunjam ke palung paling dalam.
“Ada apa, Mas? Kok dari tadi diem aja? Mikirin pasien, ya?” Kinanti menoleh menghadap sang suami. Hening. Tidak ada jawaban dari Surya. Tetesan hujan mulai jatuh satu demi satu dari balik kaca depan mobil.
Surya menghela napas, berpaling ke arah lain. Lalu, ia kembali menoleh ke arah sang istri. “Pasien? Mas malah gak mikirin itu saat ini!”
“Terus mikirin apa? Kok tiba-tiba cemberut kek gitu? Tadi hepi-hepi aja.”
Surya kembali terdiam dengan pikiran berkecamuk, andai saja tidak ada operasi yang menunggunya hari ini, tentu ia akan meminta penjelasan sejelas-jelasnya kepada sang istri.
Namun, niat itu Surya tahan sementara. Kali ini, laki-laki itu hanya memberi sedikit efek kejut untuk Kinanti.
“Siapa itu Aksar, Honey?” Surya menoleh dengan tatapan dingin kepada Kinanti.
Kinanti tercekat. Ketegangan terlihat dari raut wajahnya. Ia tergagap dan merutuki kelalaiannya lupa menghapus beberapa pesan terakhir dari Aksar.
Bersambung
__ADS_1