
Sebuah pesan Whatsapp dari Rosalina mengalihkan pandangan Kinanti dari layar laptop.
Kemarin, naskah Aksar sudah masuk tahap proofreading. Sebagian besar perhatian tiap divisi memang tertuju pada proses penerbitan novel Aksar. Kinanti cukup lega bila memikirkan hal tersebut. Itu artinya tidak lama hubungan kerja dengan si penulis akan berakhir. Kelegaannya menguap saat melihat isi pesan pemimpin redaksi itu.
Nanti cek akun milik @callmeleeya. Followernya sampe 1 juta lebih. Viewer di tulisannya yang berjudul Sang Penggoda Suamiku, hampir 2 juta yang udah baca.
Kinanti mengembuskan napas pelan setelah membaca pesan tersebut. Sejak pagi hingga siang ini, Rosalina sudah menyodorkan tujuh akun penulis novel roman daring untuk ditinjau tulisannya.
Gagasan Mira di rapat redaksi minggu lalu cukup mengejutkan jajaran redaktur. Sejak maraknya penulis yang lahir dari platform novel daring, atas usulan senior editor itu, Grewmedia juga tidak ingin ketinggalan dalam euforia untuk menjaring penulis-penulis baru, lebih tepatnya menjaring pundi-pundi uang dari bagian ini.
Namun, tidak satu pun cerita yang membuat Kinanti tertarik. Sekadar membaca prolognya saja, ia jengah. Akan tetapi, Rosalina bersikukuh agar Kinanti melamar salah satu tulisan mereka yang paling banyak pembaca untuk diterbitkan di Grewmedia.
Yang membuat Kinanti makin mengelus dada, terkadang penulis semacam ini tidak memedulikan kualitas tulisan yang mereka buat hingga membuat kepalanya pusing dengan saltik yang bertebaran di mana-mana atau ejaan bahasa yang jauh dari kaidah bahasa.
Diketiknya nama akun Callmeleeya di fitur platform yang ia cari. Kepalanya makin berdenyut-denyut melihat sampul novel milik sang penulis. Gambar-gambar model dengan pose membangkitkan berahi sungguh membuatnya malu.
Judul-judulnya pun tidak kalah provokatif. Nikmati Aku, ******* Manja si Sugar Daddy, Cinta Satu Malam Sang Mantan Mertua.
__ADS_1
Sekali lagi, Kinanti menghela napas berat melihat itu. Meski belum membaca keseluruhan isi novel, ia sudah bisa menebak bagaimana isi cerita novel tersebut.
Kenyataan lain yang bikin ia syok adalah saat ia menelusuri akun medsos dari penulis tersebut. Fakta miris terpampang di hadapannya. Seorang gadis remaja dengan balutan hijab adalah penulis di balik layar cerita dengan konten 21+ itu.
Don’t judge a book by its cover kadang memang ada benarnya. Kinanti sangat sependapat, bahwa semua orang tidak pernah bisa menilai isi kepala seseorang hanya dari penampilan luarnya.
Pandangannya beralih ke sebuah foto berbingkai putih di sisi kanan meja. Foto dirinya dan Surya bersama si Kembar. Semua terlihat bahagia dengan senyum yang mengembang sempurna. Terlebih lagi senyum Surya.
Sungguh jauh berbeda dengan keadaan hubungan mereka akhir-akhir ini.
Masih teringat jelas oleh Kinanti, ekspresi kemarahan tertahan Surya minggu lalu saat melihat isi pesan antara dirinya dan Aksar. Memang, tidak ada luapan emosi yang meledak dari sang suami, hanya pandangan dingin tanpa kehangatan yang terlihat hingga saat ini. Justru itu yang tidak disukai Kinanti.
“Stop! Gak usah jelasin, Honey! Kamu cukup selesaiin naskah itu secepatnya. Mas gak mau memperpanjang hal ini. Mas mau ke rumah sakit sekarang.”
Surya mengusirnya secara halus untuk turun dari mobil. Setelah itu, Surya memutar balik kendaraan tanpa berkata-kata, meninggalkan Kinanti terpatung di depan garasi. Hanya suara derum mobil yang meluncur keluar dari halaman.
__ADS_1
Sejak saat itu, Surya hanya pulang untuk berganti pakaian dan lebih memilih menginap di bangsal atau hotel. Bahkan, pesan berisi permintaan maaf dari Kinanti hanya dibalas dengan emotikon senyum tanpa ekspresi.
“Hayooo! Lagi ngelamunin apa, nih?” Suara Bena membuyarkan lamunannya.
Secangkir jus jeruk kesukaannya disodorkan dari tangan gadis berambut sebahu itu. Bena masih sempat melihat layar laptopnya.
“Gak ada. Cuma puyeng aja mikirin naskah itu, andai saja berhasil kita lamar.” Kinanti beralasan sembari memonyongkan mulutnya ke layar komputer.
“Wah, ini cerita iya-iya, ya? Beuh! Keknya tugas lo bakalan cukup berat, Kin!” Bena duduk di sisi kanan Kinanti, lalu membacanya sekilas.
“Entahlah, aku juga gak habis pikir kok bisa Bu Rosalina menyetujui novel kek gini terbit.” Kinanti memijat pelipisnya yang berkedut sejak tadi. “Aku dah ngebayangin berapa banyak bagian yang akan dihilangkan dan diperhalus karena terlalu vulgar.”
“Ya, iyalah. Gue juga gak tau apa maunya Mba Mira ngusulin kek gitu. Emangnya kita penerbit esek-esek! Keknya itu semua demi cuaaan,” cerocos Bena.
Kinanti gegas menutup mulut Bena, takut jika ada yang orang lain yang mendengar.
Dari celah pintu, sepasang telinga sudah mendengar pembicaraan mereka. Ia berlalu dengan wajah kesal.
__ADS_1
Bersambung ...