Tuba Semanis Madu

Tuba Semanis Madu
JELAS KAU TAKDIRKU!


__ADS_3

Pagi harinya, Aksar terbangun lalu bergegas mandi. Ia membiarkan pancuran air hangat membasahinya cukup lama. Ia menyugar rambut yang masih basah dengan pelan.


Aksar terus membayangkan kebersamaannya dengan Kinanti saat konser semalam. Kemudian, di kaca shower box yang terkena uap air, ia menuliskan nama KINANTI. Disentuhnya tulisan tadi dengan bibirnya, seolah-olah sedang membayangkan wanita itu ada di hadapannya.


“Kinanti …,” gumamnya dalam ******* napas frustasi.


Setengah jam setelahnya, Aksar mengajak Max berjalan-jalan keliling kompleks. Namun, pesan dari Kinanti membuatnya menghentikan langkah.


[Pagi, Mas. Jam 10 ada di rumah gak? Aku mau anterin naskah revisi tahap dua].


[Kebetulan saya sedang tidak berencana pergi ke mana pun. Silakan].


[OK. Satu jam lagi aku otw ke sana].


Betapa senang hati Aksar membaca pesan tersebut. Ia segera berbalik mengajak Max pulang. Sesampainya di rumah, ia menuju ruang baca, mencari sebuah benda yang akan mengingatkan Kinanti. Ia tidak mau mengulur-ulur kesempatannya bersama Kinanti. Ia yakin, kali ini wanita itu tidak akan menolak perasaannya.


***


Kinanti masih berdiam diri di depan kemudi mobil. Ia menatap lama bangunan dua tingkat bergaya mediterania di depannya. Halaman cukup luas dan tertata apik. Konsep view danau menambah sejuk dan nyaman bagian eksterior rumah. Kesan natural jelas terlihat dalam sekali pandang. Atap berwarna jerau dan dinding yang menggunakan batu bata dicat putih. Detail batu, pintu, dan besi di jendela balkon cukup elegan dan bergaya seni.


Selera yang cukup klasik.


Tiba-tiba keraguan merasuki benak Kinanti. Wanita yang menggunakan dress turangga selutut itu masih menggantungkan tangannya di udara. Kinanti menimbang-nimbang, hendak menekan bel di sisi kiri pintu yang menjulang di hadapannya atau berbalik pulang.


Namun, seketika Kinanti berubah rencana, lalu berbalik untuk membatalkan pertemuan. Rambut kuncir kuda yang memperlihatkan leher jenjangnya pun ikut bergoyang mengikuti irama langkah saat ia menuruni undakan tangga teras Aksar. Sangat disayangkan, hal yang terlambat bagi Kinanti karena Aksar muncul dari balik pintu.


“Hai, kenapa pulang? Saya sudah menunggu kedatangan Kinan sejak tadi.” Seutas senyum memikat hadir dari laki-laki itu.

__ADS_1


Kinanti berbalik dan salah tingkah, manik mata tak berpindah arah, masih menatap Aksar. Ia terperangkap pada pesona lelaki berhidung mancung itu. Sekilas, ia melihat pesona Surya di wajah Aksar saat mengulas senyum.


“Ha-hai, Mas. Aku gak pulang, ehm … a-ada yang ketinggalan di mobil,” jawab Kinanti tergagap. Genderang di hatinya kembali berbunyi.


“Udah, masuk aja dulu. Saya sudah menyiapkan minuman buat Kinan.” Aksar membuka pintu dengan lebar. Max yang ada di dekat Aksar langsung menggoyang-goyangkan ekor.


Hal yang masih jadi tanda tanya bagi Kinanti tentang ulah hewan berbulu itu. Kinanti merasa Max sudah mengenalnya lama. Ragu-ragu, ia melangkah masuk. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh area ruang tamu.


Semua perabotan terbuat dari kayu dengan gaya interior khas zaman dulu. Dinding bernuansa cerah. Sangat kontras dengan kesan misterius yang Aksar tampilkan di permukaan. Ia tidak memperhatikan detail rumah Aksar saat kunjungannya yang pertama kali.


Deretan buku tersusun rapi di rak yang menjulang tinggi, membuat Kinanti betah berlama-lama di ruangan itu. Lalu, ia berjalan menyusuri ruang tengah yang tersambung tanpa sekat dengan ruang tamu. Ada beberapa lukisan beraliran naturalisme terpajang di dinding yang mengapit sebuah foto keluarga.


“Itu foto keluarga Mas, ‘kan? Kok seperti itu?” Telunjuk Kinanti mengarah ke sebuah foto.


Dalam foto itu, tampak sepasang suami istri duduk di sofa dengan sesosok anak laki-laki dalam rangkulan sang ibu. Glabela Kinanti makin berkerut heran dengan pose yang tidak biasa itu.


Pertama, karena wajah si Pria dibiarkan robek dan hanya menyisakan bagian tubuh bagian atas saja sehingga bentuk rupanya tidak dikenali. Lalu keheranan kedua, biasanya pose satu keluarga yang hanya memiliki seorang anak, pastilah si Anak akan diapit oleh kedua orang tuanya. Namun, dalam gambar yang terbingkai cukup besar di ruang tengah itu, si Anak justru berada di sisi paling kanan ibunya.


Kinanti melirik Aksar yang kini tengah terdiam tanpa suara. Walau tanpa kata, ia mampu menangkap sorot mata yang menunjukkan kepedihan mendalam.


“Maaf, Mas. Aku gak ada niat buat ungkit masa lalu kamu. Cuma—”


“Gak papa, saya sekadar mengingat sekelumit kisah.” Aksar tersenyum untuk mencairkan kekikukan Kinanti.


Kini, Kinanti makin bersimpati kepada Aksar. Ia merasa dalam cerita yang mengalir dari lelaki itu masih menyimpan rasa sakit yang sengaja disembunyikan. Rinai hujan di luar sana justru menjerat mereka dalam suasana yang lebih intim. Percakapan terus mengalir, chemistry keduanya terbangun kuat.


Tanpa disadari, keduanya sudah duduk bersampingan di sebuah sofa empuk ruang tengah. Dingin yang menerpa dari arah jendela berubah hangat saat mereka sama-sama menyesap kopi latte buatan Aksar. Bekas kopi yang disesap lelaki itu menempel di ujung bibir.

__ADS_1


“Mas, di situ, masih nempel bekas kopinya.” Kinanti menunjuk ke arah bibir Aksar.


Aksar mengelap dan membasahi dengan bibirnya, kesan seksi justru timbul dari bibir merahnya yang basah.


Kinanti refleks menunduk, menyembunyikan raut wajah yang mulai memerah akibat memikirkan hal nakal yang sekilas melintas.


Aksar mengangkat dagu Kinanti pelan, memaksa Kinanti untuk menatapnya.


Kinanti coba memalingkan wajah ke arah lain. Wanita itu berusaha menepis lengannya. Akan tetapi, ia membelai kedua pipi Kinanti.


Kinanti refleks memejamkan mata. Kehangatan menjalar di setiap persendian, romansa kesejukan mendadak tercipta. Sepertinya, ia mulai mencandui keberadaan Aksar.


Aksar menegakkan badan, menggeser duduknya hingga tidak berjarak. Kinanti membuka mata. Ia menatap lembut wanita itu. Satu tangan menangkup Kinanti. Ibu jari lelaki itu mengelus pelan pipi mulus Kinanti, sedangkan tangan lain merengkuh leher. Ada emosi aneh ketika bibir mereka bertemu. Saling mencecap, lagi dan lagi.


Kinanti tersentak, seketika refleks mendorong dada Aksar. Rintik bening mengalir membasahi pipi Kinanti. Ia sadar hal ini tidak benar.


“Kamu menangis, Kinan? Oh, maafkan saya sudah buat Kinan tak nyaman.” Aksar berhenti mencium Kinanti sembari jemarinya menghapus air mata.


“Mas, ini salah! Ini gak bener!” Kinanti berdiri menjauhi Aksar.


“Saya menyukai Kinan … dan tidak akan menyerah untuk berjuang.”


“Menyerah saja, Mas!”


“Mengejarmu bukan hal yang mudah, apalagi harus melepasmu, Kinan.”


Kinanti mundur perlahan sembari menggelengkan kepala, berusaha menjauhkan rasa aneh yang menggelenyar dalam dirinya.

__ADS_1


Namun, sigap Aksar menarik lengannya hingga dirinya kembali terduduk … di pangkuan Aksar. Kinanti terbelalak, kakinya mendadak lemas. Ia berusaha mendorong dada Aksar, tetapi tangan lelaki itu justru merengkuh pinggangnya. Wanita berambut kecokelatan itu berteriak kecil. Namun, suaranya teredam kembali oleh bibir Aksar.


Bersambung ...


__ADS_2