
Dering jam beker yang telah kesekian kali berbunyi dari balik bantal membangunkan Aksar. Waktu menunjukkan pukul 10.00 WIB. Diusapnya tengkuk yang terasa pegal karena semalaman mata enggan terlelap.
Hari yang ia tunggu sejak lama akhirnya datang juga. Tidak sia-sia bagi lelaki setinggi 185 sentimeter itu bertahun-tahun terpasung dalam penantian panjang. Hanya memikirkan nama Kinanti seketika jantungnya berdetak kencang. Ia beranjak dari tempat tidur menuju dinding sisi sebelah kanan kamar.
Sebuah potret berukuran 2x3 meter menempel dalam balutan pigura emas. Potret seorang wanita yang sedang tersenyum dengan lesung pipi sehingga menambah kadar keayuan wajahnya. Pesona itu milik wanita yang selalu hadir dalam mimpinya, Kinanti Ayu.
“Hai, Kinan Sayang. Bentar lagi kita bakal ketemu. Sekian lama merindumu, rasaku akan tetap selalu sama seperti dulu. Debaran indah yang makin lama makin bertalu-talu, masih selalu kujaga untukmu satu.” Lirih Aksar bermonolog.
Beberapa saat lamanya, ia masih terpaku memandang gambar itu. Sampai suara ponsel memecah lamunannya. Satu pesan singkat dari Rosalina membuatnya tersenyum manis.
Satu jam kemudian, Aksar keluar dari kamar mandi dalam balutan kimono putih sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk menuju walk in closet. Aksar mondar-mandir mengelilingi ruangan 3x5 meter. Tidak biasanya ia berlama-lama memilah baju dan aksesori pakaian.
Akhirnya, paduan kemeja nilakandi dengan celana chino hitam menambah kesan jantan untuknya. Sebelum pergi, ia mematut diri di depan cermin seukuran dirinya.
Ketukan dan derit pintu dibuka, seorang pelayan laki-laki berusia akhir lima puluh tahun masuk membawa baki berisi kopi sang majikan. Di belakangnya, masuk pula Max—anjing Siberian husky—yang meloncat kegirangan melihat Aksar.
Aksar segera memeluk Max. Anjing serigala itu menggiring sang tuan menuju balkon kamar. Satu kebiasaan Max yang selalu Aksar turuti. Kadang, Aksar merasa lucu dengan ulah Max, terpaan angin dari danau buatan yang berhadapan langsung dengan rumahnya, menjadi kenyamanan sendiri bagi anjing tersebut.
Max masih menjulurkan lidah dan menggoyang-goyangkan ekor. Setelah menghabiskan kopi dan menikmati pemandangan hijau beberapa saat, Aksar berjongkok menghadap Max.
“Papi mau nemuin mamimu dulu, ya. Okay, Boy?” Aksar mengelus-elus punggung Max.
Hanya lolongan kecil sebagai jawaban Max tanda bahwa anjing itu mengerti ucapannya.
Aksar berjalan menuju garasi mengeluarkan SUV hitam metalik. Pelan, ia mengemudikan kendaraannya ke jalan raya menuju gedung Penerbit Grewmedia. Sepanjang jalan, ia tidak henti menyanyikan lagu Akhirnya Kumenemukanmu, milik Naff.
Sesampainya di sana, sengaja lelaki itu mencari parkiran yang agak jauh agar tidak terlalu menarik perhatian banyak orang. Kedatangannya hari ini ke Grewmedia memang lebih cepat dari waktu yang dijanjikan. Rosalina yang membaca pesan darinya pun merasa sedikit terkejut oleh perubahan jadwal tersebut.
Dengan langkah pelan, Aksar menuju lift yang berada di lantai dasar gedung. Ia melirik jam di pergelangan tangan kiri. Ia datang saat semua orang sedang istirahat makan siang.
Ditekannya nomor paling atas. Tidak lama pintu terbuka, tujuh wanita yang berada dalam lift sejenak terkesiap melihat kehadiran dirinya di depan pintu. Bahkan, sembari keluar lift, beberapa di antaranya masih melirik Aksar hingga pintu lift tertutup.
Namun, Aksar sedikit pun tidak menikmati keterpanaan itu. Pendar cinta di matanya sejak dulu hanya bersinar saat ia melihat Kinanti.
Denting lift mengantarkannya ke lantai tujuan. Sejenak ia memandangi keadaan sekitar yang tampak sepi. Hanya beberapa orang yang lalu-lalang dengan kesibukan masing-masing.
Bagai diarahkan oleh suara hatinya, Aksar mengayunkan langkah ke sisi kanan lift. Tepat setelah lima langkah, ia tertegun memandangi sosok yang telah lama ia rindukan. Lama ia pandangi wajah cantik itu dalam diam. Pantulan sinar matahari dari arah jendela tempat ia bersandar, membuat wanita itu tampak makin ayu bersahaja.
Wajah manismu … serupa madu, Kinanti Ayu, ujar Aksar dalam hati dengan tatapan masih intens memandangi wanita itu dari sisi pintu.
Tanpa Kinanti sadari, Aksar terus menikmati fantasinya dari ujung pintu pantri. Ia berdiri bersedekap dan terus memandangi Kinanti dengan tatapan rindu. Rindu mendalam kepada sosok wanita yang sedang terkurung dalam lamunan.
Setelah cukup lama memandangi Kinanti dan puas memotret wanita itu secara diam-diam, Aksar mengetuk pintu hingga membuyarkan lamunan wanita manis tersebut. “Permisi, saya lagi nyari-nyari toilet tapi gak ketemu, di mana, ya?” tanya Aksar memulai percakapan.
Kinanti beranjak dari tempat duduk, lalu mendekati lelaki tersebut. Jika dilihat dari baju yang ia pakai, sepertinya lelaki tersebut berasal dari divisi produksi.
“Oh, sebelah sini, Mas. Silakan.” Kinanti mengarahkan telunjuk ke arah toilet yang tidak jauh darinya.
Aksar masuk toilet, sedangkan Kinanti kembali duduk di kursi paling ujung. Diabaikannya sosok Aksar meski sekilas ia menilai bahwa lelaki tadi cukup menarik. Wanita berkacamata itu menghabiskan teh yang mulai dingin.
Tangannya bergulir memeriksa pesan WA yang masuk, berharap terselip pesan dari Surya. Namun, sampai siang ini, pesannya masih belum terbaca.
Tidak lama, Aksar keluar dari toilet. Kinanti menoleh, lalu tersenyum sekilas.
“Mas pegawai barukah?” tanya Kinanti ramah. Ada sedikit keterkejutan dari raut muka lelaki tersebut, tetapi dengan cepat ia sesuaikan.
__ADS_1
“Hmm ... iya, hari ini hari pertama saya bekerja,” sahut Aksar enteng.
“Wow, selamat kalo begitu. Dari divisi mana? Emangnya gak break makan siang?” cecar Kinanti dengan senyum ramah.
“Saya tidak begitu lapar, makanya mau liat-liat kantor dulu. “ Aksar menjawab sambil tersenyum. Rambut hitam model disconnect undercut membuat senyumnya makin terlihat menghanyutkan.
“Mau kubuatkan kopi?” tawar Kinanti memecah keheningan. Wanita dengan tinggi 165 sentimeter itu beranjak menuju dapur pantri.
“Boleh, kopi tanpa gula, full air panas gak pake air dingin,” jawabnya tegas.
Langkah Kinanti terhenti sejenak, menoleh lalu mengulum senyum. Ia sedikit heran dengan permintaan lelaki itu. Sepanjang tradisi di keluarganya, menyeduh kopi cukup setengah gelas air panas, sisanya dicampur air biasa.
Pandangan Aksar menyapu ruangan pantri. Melihat beberapa staf berkemeja mirip dengan yang ia pakai, barulah ia merasa geli. Matanya menyipit, menahan senyum. Wajar Kinanti menganggapnya sebagai karyawan baru.
“Silakan, Mas. Nih, kopinya!”
“Terima kasih.”
Aksar menerima dengan senyum semringah. Sudah lama ia ingin merasakan seduhan kopi dari wanita itu. Matanya tak lepas menatap Kinanti. Mereka duduk berhadapan, hanya sebuah meja panjang membatasi mereka.
Terintimidasi dengan tatapan Aksar, Kinanti menggeser duduknya sedikit menjauh. Tidak dipungkiri, meski ia ramah dan mudah bergaul, menjaga jarak dari pria yang tidak dikenalnya adalah suatu keharusan.
Kinanti dan Aksar masih menikmati minuman masing-masing. Suasana hening untuk beberapa saat. Aksar akhirnya memulai dengan dialog basa-basi yang mampu mencairkan suasana hingga percakapan ringan terus bergulir di antara mereka.
Sesekali Kinanti tersenyum mendengarkan cerita lelaki tersebut. Sikap ramah dan mudah beradaptasi membuatnya memiliki banyak teman dan disegani oleh setiap karyawan.
Akan tetapi, keadaan berubah tidak nyaman saat Kinanti menghela napas panjang. Pesan WA Rosalina yang mengharuskannya hadir dalam pertemuan dengan Right Man cukup membuat tertekan.
“Gak ada. Cuma masalah pekerjaan.” Pandangan Kinanti masih tertuju ke layar ponsel.
“Kamu seorang editor, ya?” tanya Aksar seolah-olah baru tahu. Ia melirik ID card yang mengalungi leher Kinanti.
“Ya, editor yang tertekan karena ditargetkan untuk mendapatkan kontrak kerja seorang Right Man!” sahut Kinanti pasrah.
Aksar ternganga mendengarnya. Ia makin tertarik saat namanya disebut Kinanti.
“Sorry, saya bukan mau ikut campur dengan pekerjaan kamu. Tapi, cuma sedikit penasaran, sepertinya kamu terbebani untuk mendapatkan tanda tangan hmm ... siapa namanya tadi, ‘men, men’.” Aksar memancing respons wanita itu. Telunjuk kanannya bergerak memutar agar Kinanti berbicara.
“Right Man,” timpal Kinanti mengoreksi.
“Nah, iya. Right Man! Ia penulis best seller itu, ‘kan?”
“Iya. Penulis best seller yang karyanya udah diterjemahkan ke beberapa bahasa asing, bahkan buku keduanya terjual empat puluh lima ribu eksemplar dalam minggu pertama terbit. Luar biasa, ‘kan?” ungkap Kinanti.
Lagi-lagi, penjelasan itu ia katakan hanya dalam satu tarikan napas.
Ditatapnya penampilan lelaki tersebut dari atas sampai ke ujung kaki.
Cukup tampan untuk kategori seorang staf, batin Kinanti.
“Wow, kamu ternyata cukup tau banyak soal prestasinya.” Aksar mengusap cambang halus di pipinya.
“Kurasa siapa pun tau soal itu. Tapi, jujur aku agak berat jika nanti diharuskan megang naskah dia,” desah Kinanti. Ia memijat pelipisnya pelan.
“Punya alasan kenapa kamu gak mau pegang naskahnya? Saya rasa editor gak bisa milih naskah mana yang dia suka atau tak suka. Bukan begitu?” Aksar balik bertanya.
__ADS_1
Tangannya memutari pinggiran cangkir kopi.
Kinanti hanya mengangguk pelan. “Iya, sih. Cuma rencananya aku mau ambil cuti. Dan keknya cuti itu bakalan tertunda gara-gara proyek ini.”
Aksar hanya mengangguk mendengar perkataan wanita itu. “Oke. Alasan kedua?” Pancing lelaki itu hati-hati. Ia tidak mau usahanya sejauh ini berantakan.
“Kedua, aku tidak terlalu tertarik merevisi naskahnya. Aku udah baca dua novel terakhir milik Right Man. Ia terlalu bertele-tele di tiga bab awal yang paling krusial,” jelas Kinanti dengan mantap. Wanita itu tidak memperhatikan perubahan mimik muka Aksar yang sedikit terganggu oleh penuturannya.
“Jadi maksudmu, si Right Man punya masalah di tiga bab pertama pada semua novelnya?” tanya Aksar makin penasaran.
“Iya, begitulah. Aku mengatakan ini dari sudut pandang sebagai pambaca. Jika aku yang bertanggung jawab dengan naskahnya itu, pasti sudah kucoret dengan tinta merah besar naskah itu,” sahut Kinanti sedikit terkekeh.
Kinanti, untung saya cinta mati sama kamu. Jika tidak, batin Aksar menggerutu.
“Jadi menurutmu, penulis mana yang lebih bagus dari Right Man? Siapa tau Right Man bisa belajar dari penulis itu.” Aksar masih penasaran dengan jawaban jujur sang pujaan hati.
“Faisal Akbar! Ya, bagiku Faisal Akbar adalah penulis dengan gaya penulisan yang punya ciri khas, ia dengan tepat masuk ke inti cerita. Dia mampu melempar ketegangan cerita sejak kalimat pertama ditulis. Apalagi pengalamannya memang setingkat lebih jauh dibanding Right Man.” Kinanti menjelaskan panjang lebar dengan binar mata yang makin bercahaya.
“Kamu pernah ketemu langsung dengan Right Man?”
“Belum, sih. Kalo pun nanti ketemu, penulis best seller kebanyakan sikapnya arogan, sombong, mendominasi, ngatur-ngatur editor!” ungkap Kinanti dengan suara agak tinggi.
Kening Aksar makin berkerut mendengar apa yang wanita itu katakan. “Memukul rata persepsi tanpa pernah berinteraksi, itu lebih terasa menghakimi,” sahut lelaki itu pelan.
Kinanti terdiam. Ia sedikit membenarkan perkataan lelaki di hadapannya. Dialihkan pandangan dari Aksar ke luar jendela.
Aksar masih bersedekap memperhatikan. Senyumnya tertahan. Ia terus menatap Kinanti yang masih termenung diam.
“Astaga! Sepertinya aku kebablasan ngomongin masalah pribadi ke orang lain. Maaf,” ujar Kinanti memukul keningnya. Ia secara tak sadar sudah bercerita panjang lebar dengan karyawan baru. Sungguh, ia lupa untuk menjaga citra baik dan elegan sebagai editor.
“Untuk apa mempermasalahkan suatu hal yang kuanggap istimewa?” Aksar berusaha menenangkan.
“Istimewa? Maksudnya?” Kening Kinanti berkerut mendengar ucapan lelaki yang masih saja menatapnya.
“Lupakan, itu sekedar aksioma tanpa isi.”
Kinanti menghela napas mendengar diksi tidak biasa yang berkali-kali keluar dari bibir lelaki itu.
Siapa dia? batin Kinanti mulai curiga.
“Ngomong-ngomong Mas-nya di divisi apa? Bukankah ini sudah lewat dari jam istirahat?” Kinanti memutuskan kecanggungan yang sejenak menyelinap di hatinya. Ia melirik jam di pergelangan tangan.
“Aku Kinanti, bagian editor. Kamu?” Kinanti berdiri menjulurkan tangan. Aksar berdiri mendekatinya. Kinanti mendongak, perbedaan tinggi badan mereka berdua terlihat kontras.
“Oh, hmm ... saya dari departemen cerita.”
Kinanti terkekeh mendengar jawaban Aksar. “Departemen cerita? Emang departemen kek gituan ada, ya? Kamu bercanda, deh!” tukas Kinanti masih bingung. Ia tergelak, lesung pipit menghias sempurna di pipi chubby-nya.
“Ada,” sahut lelaki itu singkat. Ia maju selangkah makin dekat.
Kinanti merasa terintimidasi sehingga refleks mundur beberapa langkah. Namun, dengan cepat, ia menguasai suasana, mengangkat bahu dan tangan kirinya untuk menunggu jawaban.
“Ada?” sahut Kinanti mengulangi sedikit bingung.
“Perkenalkan, saya Aksar Nayaka. Si Right Man yang tadi kau sebut-sebut namanya,” jawab lelaki jangkung itu mantap.
***
__ADS_1