
Suasana di meja makan pagi itu tidak hangat seperti biasa. Hanya denting sendok beradu dengan piring yang terdengar jelas. Kinanti berusaha mengalihkan pandangannya agar tidak melihat wajah sang suami. Ia lebih sering tertunduk sembari menghabiskan nasi goreng yang ada di hadapannya.
Begitu pun dengan Surya. Ia tak banyak bicara sejak pertengkarannya dengan Kinanti dua hari lalu. Keduanya masih memendam kekesalan yang sama.
“Maafin kami, ya, Pa.” Sharqee membuka topik pembicaraan.
“Bukan kami, Kak. Ini cuma salah aku, kok,” sela Arqee.
Surya hanya menatap kedua putrinya bergantian dengan seutas senyum.
“Kalian gak salah, kok. Papa dan mama aja yang memang kurang memperhatikan kalian. Kalian yang sabar, ya, Nak. Sebentar lagi mama kalian akan resign kerja.” Surya menghela napas sejenak, lalu melanjutkan, “Itu artinya mama kalian akan punya waktu banyak untuk kamu berdua.” Ia melirik Kinanti dengan wajah datar.
Kinanti tersedak mendengar kalimat terakhir yang diucapkan suaminya. Buru-buru ia menyesap air mineral yang ada di sisi kanannya sambil mengusap tenggorokan.
“Benar kamu akan berenti kerja, Nak?” tanya ibunya semringah.
Meski mendukung karier anak semata wayangnya, tetapi bila boleh memilih, Sarma lebih berharap Kinanti menemaninya sepanjang hari di rumah. Terkadang, ia merasa sepi dan tidak ada teman berbicara. Untunglah ia memiliki hobi merajut dan berkebun sehingga kegiatan itu sedikit banyak mengusir sepi saat semua orang pergi beraktivitas.
Kinanti menggeleng cepat, menyelesaikan tegukannya untuk menjawab pertanyaan ibunya. “Gak, Bu. Kinan belum ada rencana mau berenti kerja,” sahutnya pelan.
Mimik muka Sarma kembali kelabu. Wanita itu hanya menganggukkan kepala, berusaha memahami keinginan anaknya.
Surya menghabiskan sisa jus jeruk yang tinggal setengah. Ia beranjak dari tempat duduk, lalu mengitari meja dan mencium kepala kedua putrinya.
Kinanti menatap Surya dengan tatapan tanya. Namun, laki-laki itu mengabaikan dan membuang muka.
“Sayang, papa pergi kerja dulu, ya.”
__ADS_1
“Hati-hati, ya, Pa,” sahut mereka serentak.
Setelah itu, Surya berpamitan dengan mertuanya, tetapi melewatkan ciuman di kepala istrinya. Ia mengabaikan wanita itu lalu berjalan menuju garasi.
Kinanti segera mengekori Surya. “Mas, masalah ini belum selesai kita bahas. Kapan Kinan pernah bilang untuk setuju berenti kerja?” Desaknya seraya berusaha memegang pundak sang suami.
Surya berbalik, sekilas melirik si Kembar yang memperhatikan mereka dari kejauhan. Sharqee dan Arqee hanya saling berpandangan, kedua kaki mereka saling tendang di bawah meja.
“Honey, di sini ada anak-anak. Gak enak kalo mereka denger. Udahlah, kita bahas nanti. Hari ini mas ada simposium. Sebaiknya kamu yang urus soal surat panggilan itu.”
Kinanti tergagap. Bukan karena tidak mampu menjawab perkataan suaminya, ia hanya menahan hal itu di depan ibu dan kedua putrinya. Setelah itu, Surya berlalu begitu saja meninggalkannya yang berdiri mematung. Deru mesin mobil terdengar meninggalkan garasi.
***
Hari-hari setelah itu, ketidaksukaan Karin kepada Sharqee makin menjadi-jadi terlebih saat tulisan gadis berkacamata itu memenangi lomba se-provinsi mewakili sekolah. Terkadang dari jauh, ia mengamati tawa gembira gadis kembar itu saat pulang sekolah.
Ada rasa iri menggelayuti benaknya saat Sharqee dan Arqee dijemput oleh mama atau papa mereka.
Papa? Aku gak punya papa, erangnya dalam hati.
Sejak lahir, ia hanya ditemani oleh pengasuh dan seorang ibu yang sibuk bekerja.
Mama? Wanita yang memanjakanku dengan materi tanpa pernah ada waktu untukku, ujarnya kembali membatin.
Sore itu, pintu kamar Karin diketuk beberapa kali oleh ibunya. Dengan malas, ia beringsut dan membuka pintu kamar. Jam di dinding menunjukkan angka empat, hal yang aneh jika ibunya sudah pulang secepat ini.
__ADS_1
“Karin, what is this letter? What the heck is a summons?” cecar ibunya sambil berkacak pinggang. Bahkan, wanita berambut bob sebahu itu masih mengenakan pakaian kantor saat menemuinya.
“Yes, exactly, Mom. Aku tadi berkelahi dengan teman sekelas,” sahutnya enteng sambil bersedekap.
Terlahir dari benih seorang bule, jelas memiliki kecantikan tersendiri bagi Karin. Wajah bule dengan aksen Amerika, Karin terlihat sempurna dari luar. Akan tetapi, hatinya cukup rapuh dan gersang karena kurangnya kasih sayang. Ia berharap Mira akan marah kepadanya, tetapi ternyata dugaannya meleset. Hanya ekspresi datar yang terlihat dari wajah sang ibu.
“Terus, apakah mommy mesti ke sekolah turun tangan kasih pelajaran ke gadis itu? Apa perlu kita kasih uang agar dia meminta maaf pada putri mama yang cantik ini?” tanya ibunya ringan.
Karin bergeming, kecewa terhadap respons Mira yang mudah sekali meremehkan sesuatu.
“Sorry, I can’t come tomorrow, Darl.” Wanita berusia awal 40-an menatap dengan pandangan sedih yang dibuat-buat. “Nanti kamu ditemenin ama Bi Wati aja ke sekolah. Besok mommy ada meeting penting di kantor.”
Mira lantas memanggil pengasuh dan memerintahkan untuk mewakilinya datang ke sekolah putrinya.
Setelah itu, wanita itu menelepon wali kelas Karin untuk membicarakan perihal surat tersebut.
“Maaf, Bu Mira, sepertinya Anda wajib hadir dan tidak bisa diwakilkan. Kasus Karin cukup serius,” ujar suara di ujung telepon.
“Serius bagaimana, Pak? Ini cuma masalah pertengkaran remaja. Namanya juga anak-anak.”
“Anda dan Karin datang harus meminta maaf dengan siswa tersebut. Karena Karin terbukti merundung siswa itu. Pihak keluarganya tidak terima dan ingin menyelesaikan sampai tuntas.”
Mira sedikit terkejut dengan apa yang dikatakan oleh wali kelas putrinya. "Karin, you bullied that girl? Isn’t that right?” Mira menatap putrinya tidak percaya.
Karin hanya tersenyum sambil mengangguk. Hatinya puas dan berbunga karena berhasil mendapatkan perhatian sang mama.
***
__ADS_1